‘Pendatang’ Jadi Benteng NKRI di Papua?
Masyarakat Paniai di Danau Aikae

‘Pendatang’ Jadi Benteng NKRI di Papua?

Forum Kajian Indikator Papua Tanah Damai di Manokwari, Papua Barat

Manokwari – Penduduk di Papua membutuhkan rasa aman. Istilah ‘pendatang’ dan ‘Papua’ tidak seharusnya muncul ketika moment politik seperti Pilkada.

“Ini sering muncul, ada kesan pendatang jadi benteng NKRI,” kata Duma Sanda, peserta Forum Kajian Indikator Papua Tanah Damai yang diselenggarakan Aliansi Demokrasi untuk Papua, bekerjasama dengan Jaringan Damai Papua (JDP) dan Tifa Foundation di Manokwari, Papua Barat, pekan lalu.

Ia mengatakan, rasa aman penting menjadi milik semua di Papua. “Termasuk jurnalis, kekerasan pada jurnalis harus dihilangkan,” ujarnya.

Patrick Tandirerung, tokoh Ikatan Keluarga Toraja di Manokwari menambahkan, selayaknya rasa aman dibahas dalam internal paguyuban. Bukan sebaliknya para orangtua sibuk dengan urusan sendiri. “Ini mulai terjadi, saya datang dulu ke Manokwari, waktu itu ada gejolak, semua mulai asah parang,” ucapnya.

Dalam beberapa kasus, kata dia, antara Papua dan ‘pendatang’ kerap timbul ketegangan. Ada pula nada provokatif. Situasi saling berhadap-hadapan seolah sengaja diciptakan.

Ida Bagus, asal Hindu Bali yang sudah 40 tahun hidup di Manokwari membenarkan adanya situasi tersebut. Terutama pada tahun 1999. “Akibat kondisi politik saat itu menyebabkan paguyuban banyak muncul,” katanya.

Ia juga mengakui ada kesan bahwa pendatang di Papua menjadi ’bentengnya NKRI’. “Tapi sebenarnya tidak begitu. Kita hidup harus saling berdampingan, berkomunikasi dan selalu mencari penyelesaian masalah yang win-win solution,” ucapnya.

Kasiran dari Paguyuban Maluku Utara, juga anggota Polri menambahkan, yang terpenting adalah saling menghargai perbedaan, baik suku maupun agama. “Membangun hubungan yang sejajar. Sehingga kita pergi ke manapun tetap diterima.”

Muridan Satrio Widjojo, koordinator JDP mengemukakan, atas perbedaan itu, perlu ada sebuah dialog agar tidak saling merugikan.

“Bayangkan bila dalam konflik, ada pendatang yang menjadi korban kemudian saling membalas, siap-siap, ini respon yang tidak konstruktif. Bahwa Papua dan pendatang mempunyai kepentingan bersama untuk Papua yang damai,” tegasnya. (Tim/AlDP)