Pencurian Obat Marak di Mindiptana
Mia Wariori

Pencurian Obat Marak di Mindiptana

Perumahan di Tanah Merah Boven Digoel

Boven Digoel – Pencurian obat di Puskesmas Mindiptana, Boven Digoel marak terjadi. Pekan kemarin, empat bocah tertangkap basah mencuri obat untuk dijual kembali pada warga.

“Ada dugaan obat itu dijual, kemungkinan juga dipakai sendiri, tapi lepas dari itu, saya lihat ada kebutuhan yang sangat dicari masyarakat, yaitu obat, pertanyaannya, kenapa harus mencuri obat bukan barang lain dalam puskesmas,” kata Fransiskus Komon, Kepala Distrik Mindiptana, kemarin.

Ia menuturkan, Puskesmas Mindiptana memiliki cukup tenaga medis. “Hanya saja kurang ruangan. Baru saja kemarin ada perbaikan satu ruang. Ada pula dua ruang yang dipakai sebagai tempat inap, rusak parah. Perlu rehabilitasi berat,” ujarnya.

Kerusakan gedung puskesmas terlihat juga di ruang obat. “Rusak berat, itu menyebabkan orang yang berniat jahat dengan mudah masuk mencuri. Untuk pengamanan, ya kita tidak bisa harapkan ada polisi yang tiap hari berjaga di puskesmas. Ini tanggungjawab kita semua untuk mengamankan puskesmas,” ucapnya.

Ia menyarankan agar pemerintah secepatnya memugar ruang obat. “Perlu dibenahi penyimpanan obat, sudah dua kali laporan kehilangan. Saya harap segera ungkap pelakunya. Kehilangan paling banyak adalah obat batuk, heran, obat batuk itu dipakai untuk apa,” katanya lagi.

Komon menambahkan, rata-rata penyakit yang diderita warga di Mindiptana adalah malaria, TBC, dan ISPA. “Kalau malaria, itu sudah dari dulu, daerah Mindiptana itu rentan penyakit malaria, warga kalau terserang, langsung ke puskesmas, ada juga yang ke rumah sakit.”

Selain Puskesmas, dibangun RS bergerak di Mindiptana. “RS bergerak itu dananya dari pemerintah pusat, dan akan berakhir pada 2013. Pertanyaannya, kalau RS ini diserahkan pada pemerintah daerah, apa mampu menjalankannya. Peralatan di RS itu lengkap, tapi tidak ada dokter,” paparnya.

Rumah Sakit Bergerak beroperasi full 24 jam melayani rawat inap, rawat jalan, gawat darurat/pelayanan darurat. “Kendala operasional Rumah Sakit Bergerak adalah masih kurangnya tenaga dokter spesialis dan banyak alat kesehatan yang belum berfungsi optimal,” kata Komon.

Komon meminta pemerintah segera merehabilitasi bangunan puskesmas atau pustu yang rusak di kampung. “Karena ada bangunan yang sudah lima puluh tahun baru direhab beberapa bulan lalu, itu aneh, selama ini pemerintah kemana saja. Kalau saya punya kewenangan mengambil kebijakan, saya akan suruh uang yang ada digunakan untuk perbaiki puskesmas dan pustu,” pungkasnya. (02/ALDP)