Penasehat Hukum : Meragukan Barang Bukti Yang Ada

Wamena-Tiga hari setelah JPU membacakan tuntutan terhadap warga distrik Pisugi kabupaten Jayawijaya, giliran penasehat hukum terdakwa yang mengajukan pembelaan.

“Kami minta agar terdakwa dilepas dari segala tuntutan hukum,” Ujar Simon Patiradjawane SH, pengacara dari LBH Papua yang bergabung bersama pengacara AlDP.

“Terdakwa bukanlah pelaku dari pembakaran kios dan mobil di kota Wamena, pada keterangan saksi verbalisan yang merupakan penyidik dari Polres Jayawijaya sudah ditegaskan bahwa pelaku dari peristiwa tersebut masih dalam pengejaran. Laporan polisinya beda oleh karena itu tidak ada Barang Bukti peristiwa itu yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum,” Ujarnya saat membaca Nota Pembelaan di PN Wamena(26 /03/2015).

Lanjutnya, “Setelah kami teliti daftar Barang Bukti dalam Surat Dakwaan, ada 44 Barang Bukti, hanya sebagian yang dibawa ke persidangan.Sedangkan Barang Bukti botol yang ada berjumlah hanya 7 botol jenis kratingdaeng dan M150, tetapi di persidangan dihadirkan banyak botol termasuk botol jenis sirup ABC dan botol kecap.

Lanjutnya,”Jadi jumlah dan jenis Barang Bukti di dalam Surat Dakwaan dan fakta dipersidangan beda. Kami berpendapat Barang Bukti direkayasa,” tegasnya.

Masih terkait  Barang Bukti, Penasehat hukum terdakwa juga menyebutkan kesaksian dari Jhoni Marian yang mengatakan bahwa pada saat rekonstruksi, mereka di bawa ke honai Yosep Siep untuk mencari kembali Barang Bukti yang diduga dibuang oleh terdakwa.

“Saat itu ditemukan 3 botol di satu lokasi dan 1 botol di satu lokasi, tetapi itu bukan botol yang disembunyikan, tidak ada botol yang disembunyikan.Itu botol diberikan oleh penyidik ke Jhoni Marian,” tambahnya.

Para terdakwa yang dituduh anggota KNPB,membuat bom Molotov, melakukan aksi pembakaran dan boikot pemilu yakni Ibrahim Marian, Jhoni Marian, Marthen Marian dan Jali Walilo dengan seksama mendengarkan Nota Pembelaan yang disampaikan oleh Penasehat Hukum mereka.