Penasehat Hukum : BAP di Penyidik Sangat Diragukan

Penasehat Hukum : BAP di Penyidik Sangat Diragukan

Wamena-Selain menyoroti Barang Bukti yang dihadirkan JPU dalam persidangan,Penasehat Hukum Ibtrahim Marian dkk yang dituduh sebagai anggota KNPB, membuat bom Molotov, melakukan aksi pembakaran dan boikot Pilpres menyoroti isi BAP.

Menurut pasal 117 KUHAP yang intinya mengenai tugas penyidik saat melakukan pemeriksaan terhadap tersangka. Dimana penyidik tidak boleh melakukan tekanan dan mencatat dengan teliti apa yang dikatakan oleh tersangka.

“ini merupakan jaminan bagi tersangka sehingga dapat memberikan keterangan secara bebas,” tegas Anum Siregar di dalam Nota Pembelaannya pada persidangan pembacaan Nota Pembelaan di Pengadilan Negeri Wamena.

Anum Siregar SH,MH dan Simon Patiradjawane, hadir di persidangan dan secara bergantian membacakan Nota Pembelaan klien mereka.

“Ketentuan tentang keharusan  dari penyidik untuk mencatat dalam berita acara keterangan tersangka sesuai dengan kata-kata  yang digunakan oleh tersangka sendiri itu merupakan suatu ketentuan yang sangat penting dalam KUHAP kita,” tegasnya.

“ini untuk menjamin keaslian pemeriksaan yang telah dilakukan oleh penyidik terhadap tersangka”

Nota pembelaan ini mengutip pernyataan pakar hukum Pidana JAF Lumintang,” Sangat penting bagi penuntut umum guna memastikan, bahwa perkara terdakwa akan dapat dilimpahkan ke pengadilan tanpa khawatir terhadap kemungkinan terjadinya penghentian penuntutan, dan guna menghindarkan kemungkinan terdakwa menyangkal kebenaran dari keternagan yang telah ia berikan kepada penyidik, dengan alasan bahwa ia tidak pernah memberikan keterangan seperti itu kepada penyidik”..

“Namun saat penyidik memeriksa tersangka, penyidik membuat BAP menggunakan kata dan  interpretasinya sendiri sehingga keaslian keterangan tersangka di dalam BAP sangat  diragukan”

Menurutnya, pentingnya tim Penasehat hukum memasukan analisa tersebut karena jawaban terdakwa di dalam  BAP  tertulis sangat rapi dengan menggunakan bahasa Indonesia standar. Padahal para terdakwa tidak tamat SD, ada yang tidak dapat baca tulis dan sangat sulit berkomunikasi dengan bahas Indonesia. Bahkan ketika pada sidang sebelumnya Penasehat hukum menanyakan kembali kata-kata dalam BAP, terdakwa nampak bingung.(Tim/AlDP)