Pedagang Papua Masih Kesulitan Tempat Berjualan
Anton Raharusun,SH Moderator Papua Lawyers Club

Pedagang Papua Masih Kesulitan Tempat Berjualan

Salah satu Mama Pedagang Papua lagi Menunggu para pembeli

Jayapura–Pedagang Papua ternyata masih sulit mendapat tempat berjualan layak. Beberapa duduk disepanjang trotoar dekat Kampus Universitas Cenderawasih pada sore hari menjajakan sayur. “Tidak ada tempat, disini saja,” kata Mama Yosephin, kemarin.

Ia mengatakan, pasar yang disediakan pemerintah bagi pedagang Papua, jauh dari Abepura. Ongkos dikeluarkan lebih besar untuk mengangkut sayuran, ketimbang pemasukan sehari. “Kita mau ke pasar Yotefa juga tidak bisa, penuh disana, kalau ada tempat, jarang didatangi pembeli,” ujarnya.

Sementara berdagang di pasar yang dibangun pemerintah, harus bersaing dengan pasar terminal Mesran yang lebih luas. “Itulah, mau bagaimana, mungkin pemerintah harus menertibkan lagi,” katanya.

Di Sentani, pedagang Papua tak rela menempati kios dan area dalam pasar. Alasannya, jauh dari pembeli dan terkesan sepi. “Itu masuknya jauh ke dalam, ada tempat disana, tapi tidak ada orang datang beli,” kata Martha, pedagang.

Menurut dia, jika disebut semrawut berjualan di pinggiran jalan, hal itu karena keterdesakan ekonomi. “Kalau mau tertib, jangan pilih kasih, semua pedagang harus didalam sehingga pembeli masuk ke dalam pasar, jangan satu dua saja sementara pedagang lainnya berjualan di luar,” katanya.

Pasar Baru di Sentani, Kabupaten Jayapura, dibangun pemerintah dengan luas lebih dari dua hektar. Bangunan dari papan memberi tempat sedikit nyaman bagi pedagang. Sayangnya, belum semua menempati kios dan los.

Untuk masuk ke dalam area pasar, pembeli harus berjalan kaki beberapa menit dari terminal. “Kita itu sudah pernah masuk jualan di dalam, tapi karena masih banyak yang jualan diluar, bagian dalam tidak dikunjungi pembeli, jadi lebih baik semua di luar pasar saja,” kata Martha. (02/ALDP)