Pedagang Minta Pasar Remu Jauh dari Sampah

Pedagang Minta Pasar Remu Jauh dari Sampah

Sorong – Pedagang Pasar Remu, Sorong, Papua Barat, meminta pemerintah rutin membersihkan sampah. Bau menyengat, mengganggu kenyamanan warga berdagang. “Kita sudah bosan bilang supaya tiap hari petugas ambil sampah, sampah di selokan sangat mengganggu,” kata Anace Seple, pedagang Remu, pekan lalu.

Ia mengatakan, tiap pedagang harus membayar iuran angkut sampah sebesar Rp2.000/hari. “Kadang juga bayar sepuluh ribu, tapi petugas tidak datang, kita yang harus kumpul dan bawa ke tempat sampah, mereka cuma datang untuk angkut dalam truk dan buang ke tempat pembuangan akhir,” ujarnya.

Kondisi sampah di pasar terbesar Kota Sorong itu begitu memprihatinkan. Beberapa bagian jalan dipenuhi plastik dan botol minuman mineral. Sejumlah orang terlihat dengan santai membuang sampah di tengah jalan. Padahal ada tempat sampah yang sudah disediakan pemerintah. “Itu sudah. Semua orang belum sadar,” katanya.

Menurutnya, pasar utama harus bebas sampah. Pasar merupakan indikator dimana kota disebut bersih atau sebaliknya. “Kondisi ini sudah berlangsung dari dulu, tidak tahu pemerintah buat apa saja sampai sampah di pasar ini jarang dibersihkan,” ucapnya.

Pasar Remu terletak dalam Kota Sorong. Pernah terbakar pada 5 November 2011. Pemicu kebakaran diduga kuat akibat korslet listrik pada salah satu kios dalam area pasar. Akibat kebakaran, ratusan kios dan lapak, ludes dilalap si jago merah.

Pasar Remu menyediakan barang kebutuhan pokok. Tiap hari ribuan orang memadati area pasar seluas kurang lebih 5 hektar itu. “Kami pedagang Papua tidak punya toko, kami punya tempat sederhana saja,” kata Anace.

Ratusan pedagang Papua berjualan sayur, umbi umbian dan buah. Mereka menempati lapak terbuat dari papan. Sebagai pelindung panas, beberapa menggunakan terpal yang digunakan menutupi dagangan. “Kami berharap sampah bisa dibersihkan, pemerintah jangan janji-janji saja,” katanya lagi. (Tim/ALDP)