Pdt Socrates : Perjuangan Papua Melawan Ketidakadilan
Warga di pedalaman Merauke

Pdt Socrates : Perjuangan Papua Melawan Ketidakadilan

Jayapura-“Belanda menjajah Indonesia, Spanyol menjajah Philipina dan Indonesia menjajah Papua,” demikian komentar awal Pdt S.Socrates Yoman Ketua Umum Sinode Baptis saat menjadi pembicara  pada acara bedah buku dengan judul “Makar Suatu Ungkapan Kontroversi” dan “Hukum Makar Anti Demokrasi dan HAM” di Aula STFT di Padang Bulan(26/05/2012). Frits Ramandey dan Anum Siregar turut juga sebagai pembahas.

Menurutnya apa yang dipraktekkan pemerintah Indonesia terhadap Papua mencerminkan sikap pemerintah kolonial dengan memberikan mitos dan stigma terhadap rakyat Papua,seperti malas,bodoh dan tidak memiliki apa-apa. “Padahal jauh sebelum pemerintah Indonesia masuk,kita sudah memiliki apa-apa,kita bekerja,” katanya lagi. Juga dengan mengatakan siapa saja yang melawan pemerintah adalah makar dengan argumentasi masalah Papua sudah final.

Pdt Socrates mengatakan penciptaan mitos tersebut dapat hadir melalui pesan yang disampaikan oleh para peneliti, pengusaha, misionaris, buku-buku dan ideologi penjajahan.Pendek kata semua instrument yang ada disusupi oleh pesan penguasa. Harapannya orang Papua lebih selektif untuk berkomunikasi dengan siapapun.

Lebih jauh katanya,“ Kita bukan antipati dengan teman-teman non Papua,kita tidak melawan teman-teman non Papua. Perlawanan kita adalah perlawanan terhadap ketidakadilan dan kejahatan kemanusiaan,” tandasnya.”Perjuangan kita pun harus damai tanpa kekerasan agar mendapatkan dukungan dari berbagai pihak”.

Pendeta yang terkenal lantang menyuarakan hak-hak orang Papua menyampaikan pesan bahwa semua orang Papua harus memiliki pikiran yang sama,tidak ada tokoh yang paling penting atau paling hebat sebab semuanya memiliki pengalaman dan kapasitas tersendiri.Selain itu juga,rakyatlah yang dibutuhkan,yang memberikan dukungan dan menjadi alasan utama mengapa seorang tokoh Papua dapat berani menyuarakan aspirasi rakyatnya.

“Oleh karena itu kita tidak boleh meniadakan tokoh-tokoh lainnya, di dalam buku saya,saya selalu menyebut nama-nama tokoh Papua lainnya,meskipun terjadi secara berulang tapi semuanya pantas untuk dihargai,” katanya.(Tim/AlDP).