PAUD di Kampung, Kurikulumnya Diambil dari Internet
Adi Muslimin , salah satu peserta forum Kajian Papua Tanah Damai-Merauke

PAUD di Kampung, Kurikulumnya Diambil dari Internet

Gambar-gambar Belajar PAUD Wamena

Wamena-Di kampung Wiaima Hepuba, distrik Assolokobal Kabupaten Jayawijaya berdiri TK Paud dan SD Kecil yang diberi nama Anugrah.

Awalnya sekolah yang merupakan gerakan swadaya masyarakat setempat bernama Pusat Belajar Anak (PBA), kemudian diubah menjadi PAUD. Setelah dikunjungi oleh Dinas Pendidikan Kabupaten  Jayawijaya dari kota Wamena maka namanya berubah menjadi TK Paud dan SD Kecil.

“TK PAUD karena usia anaknya beragam yakni mulai dari 3 sampai 6 tahun, “ Ujar Ance Asso sarjana alkitab yang mengabdikan dirinya untuk mengurus sekolah rakyat tersebut.

Menurut Ance setelah kelulusan tahun 2010, orang tua murid menginginkan anak mereka tetap bersekolah di tempat yang sama karena SD yang ada dianggap jauh maka dibentuklah SD kecil.

Dinas Pendidikan  hanya mengijinkan SD kecil untuk menampung anak didik hingga kelas 3 setelah itu mereka harus dipindahkan ke SD yang sudah diijinkan oleh Dinas P dan P.

Cara mengajarnya dibagi menjadi 2 sesi yakni sesi untuk kelas umum yang berisi pelajaran keagamaan kemudian murid dibagi ke dalam kelas kelompok. Satu kelompok terdiri dari 4-5 murid.

Kelas kelompok ditempatkan dalam satu ruang dengan 4 sudut yang berbeda yakni Matematika, ketrampilan, bahasa dan bangunan, usai kelas kelompok mereka akan kembali ke kelas umum untuk 15 menit terakhir sebelum pulang.

Pada kelas kelompok, disudut bangunan disediakan balok-balok untuk disusun, disudut  matematika disediakan angka-angka,  disudut bahasa disiapkan gambar dan huruf-huruf sedangkan disudut ketrampilan disiapkan media ketrampilan seperti tanah liat atau kertas-kertas.

Karena guru TK PAUD hanya 2 orang,maka dalam waktu yang bersamaan hanya dapat mendampingi 2 kelompok. “Kelompok yang belum didampingi mereka bermain dengan media yang kami sediakan,” jelas Ance.

Lama pendampingan selama 20 menit setelah itu akan berputar ke kelompok yang lain. Dibagian ini, anak-anak sangat betah apalagi semua media dibuat sendiri dari bahan local berdasarkan ketrampilan yang dimiliki para guru.

Sedangkan untuk SD Kecil, diajar oleh 3 orang guru yang semuanya juga bekerja secara sukarela tanpa mendapatkan upah. Oleh karena itu apabila ada seorang guru yang tidak masuk Ance Asso enggan untuk menanyakan ketidakhadirannya.

Ance dan teman-temannya menyusun kurikulum dengan mendownload dari internet saat mereka turun ke kota Wamena. Setelah itu mereka susun dengan alokasi waktu yang kurang lebih sama. Namun setelah Ance mendapat kesempatan untuk mengikuti pendidikan guru PAUD di Jayapura, mereka pun mulai mengubahnya lebih mengikuti standar PAUD.

Murid TK PAUD dan SK Kecil juga mendapatkan pelajaran bahasa Inggris sederhana seperti pengenalan warna,angka dan huruf sehingga murid-murid menjadi lebih bersemangat. Setelah belajar mereka juga dapat bermain di kali di pinggir kelas mereka sambil mengenal alam.

Ance Asso dkk pernah bekerja sama dengan WVI yang membantu sebagian alat tulis dan peraga kemudian ada juga mahasiswa sekolah alkitab yang sedang magang. Anak-anak TK PAUD dan SD Kecil tak memiliki seragam khusus, mereka ke sekolah dengan apa adanya.

Pada bulan juni lalu, Dinas P dan P datang untuk memantau sekolah tersebut dan berjanji akan membantu fasilitas bangunan yang baru. Sebab bangunan yang sekarang untuk TK PAUD merupakan bangunan masih beratap alang-alang. Sedangkan  kelas 1 SD masih menggunakan satu ruang perpustakaan kecil dan kelas 2 menggunakan gedung gereja.

Usai mengajar, Ance dan teman-temannya masih menyempatkan diri ke kebun,menanam, menjaga atau memanen hasil kebun dan membawanya ke pasar. Mereka tetap bersemangat untuk melanjutkan kehidupan mereka.(Tim/AlDP).