PAUD Bunga Papua : Inspirasi Pendidikan Era Otsus
Ilustrasi BBM

PAUD Bunga Papua : Inspirasi Pendidikan Era Otsus

Susana anak-anak PAUD Bunga Papua sedang Belajar-SorongSorong-PAUD Bunga Papua begitulah nama yang diberikan Belantara yang selama 2 tahun terakhir ini bergelut untuk mendorong pemajuan pendidikan dasar di Sorong.  Belantara sendiri adalah LSM  yang menfokuskan kerjanya pada  advokasi hak-hak masyarakat adat.

Salah satu Lokasi PAUD milik Belantara yang dikunjungi Aldp Online  berlokasi di kompleks Aspen RT 001 RW 002 Kelurahan Klagete Distrik Sorong Utara Kodya Sorong. Lokasi tersebut sebagian besar dihuni oleh orang asli Papua. Pada umumnya anak-anak didik berlatar belakang kurang mampu secara ekonomi.

Tidak ada kesan kalau tempat itu lokasi PAUD, mirip sebuah rumah hunian biasa. Rumah yang berlokasi di tengah-tengah perkampungan itu merupakan milik dari salah satu warga yang di pinjamkan untuk di gunakan sarana belajar bagi anak-anak mereka

”Kami dipinjamkan rumah ini oleh salah satu warga karena rumah ini sebelumnya kosong. Kami tidak membayar sepeserpun, ” kata Danarti wulandari kepala pengelola PAUD Bunga Papua.

Tidak nampak  papan nama. Hanya beberapa rak buku yang tersedia itu pun dengan lemari kayu  yang sangat sederhana. Buku juga dalam jumlah yang amat terbatas. Namun tidak menyurutkan semangat anak-anak Papua untuk mengikuti proses belajar. Jam belajar mengajar berlangsung dari Pukul 09.00 pagi hingga pukul 11.00 Siang.

Meski tanpa baju seragam sebagaimana beberapa PAUD yang dijumpai di beberapa kota lainnya di Papua. Mereka hanya memakai pakaian sehari-hari. “Yang sekolahkan bukan seragamnya tapi anaknya loh ”. Begitulah canda  Danarti Wulandari yang  biasa di sapa dengan panggilan akrab Danar.

Sejak tahun 2010 perkumpulan Belantara telah berhasil  mendirikan  beberapa PAUD,  diantaranya 6 PAUD di Kota Sorong, 7 PAUD di Kabupaten Raja Ampat  dan 1 PAUD yang sementara lagi dipersiapkan di Kabupaten Tambrauw bekerja sama dengan PKK kabupaten setempat.

Para peserta anak didik yang mengikuti pendidikan PAUD ini rata-rata berusia 4-6 tahun. Mereka pada umumnya diajarkan pengenalan budaya lokal (Papua) dengan  menggunakan sistem pengajaran yang pernah digunakan oleh guru Belanda yang pernah mengajar di Papua dulu.

Para Guru memulai dengan memperkenalkan sebuah cerita atau dongeng yang diambil dari budaya Papua. Setelah itu baru memperkenalkan suku kata dan yang terakhir pengenalan huruf.

Ternyata memakai metode pengajaran seperti itu sangat mudah dicerna dan dipahami oleh anak-anak. Terbukti sebagian besar anak-anak mampu membaca dan menulis hanya dalam waktu paling lama 3 bulan.

Permainan anak-anak PAUD Belantara berupa puzzle (bongkar pasang) yang didesain dan dikerjakan sendiri oleh teman-teman Belantara. Mungkin tidak pernah dijumpai di toko buku atau pun di supermarket. Kenapa bisa demikian? karena isi gambar yang ditampilkan benar-benar diangkat dari budaya dan bahasa Papua, seperti  puzzle hewan laut  atau peta Papua.

Dari sisi pengenalan gambar pun mereka diperkenalkan dengan kebiasaan yang ada di papua. Ada gambar orang Papua yang berburu babi, pergi ke kebun atau ke laut.

“Bukan dengan memperkenalkan bahan bacaan bagi anak-anak Papua yang jauh dari realitas mereka. Pada umumnya bahan bacaan kita ambil dari cerita  atau dongeng orang Papua. Sehingga sejak dini mereka bisa mengetahui dan menghargai budaya Papua” Ujar Max Binur Koordinator perkumpulan Belantara.

Tenaga pengajar (guru) diambil dari masyarakat setempat. tidak harus melalui jenjang S1 atau pendidikan SPG . Sebagian dari mereka hanyalah  tamatan SMP dan SMA dengan honor per-bulannnya Rp 200.000 . Kita sendiri tidak mau menyebut itu uang honor . “Kita menyebutnya uang Pulsa”. Singkat Danar.

Dalam Hal anggaran operasional  selama ini PAUD Bunga Papua baru sekali diberikan bantuan dari pemerintah kota sorong sebesar Rp 50 Juta. Dana itu berasal dari dana Otsus pendidikan. Bantuan yang selama ini mereka dapatkan juga dari beberapa jaringan kerja Belantara baik lembaga dan individu atas dasar sukarela.

Ada hal yang menarik program dari PAUD Bunga Papua yaitu para orang tua murid diberikan kesempatan untuk mengajar. Jadwal mengajar sudah di tetapkan yakni setiap hari kamis para orang tua murid secara bergantian menjadi tenaga pengajar. Bentuk partisipasi lainnnya memberikan masukan kepada tim pengelola Bunga Papua mengenai model dan sistem pengajaran yang diberikan kepada anak didik.

PAUD Bunga Papua menjadi salah satu jawaban atas kegelisahan realitas dunia pendidikan yang tidak berpihak pada perspektif budaya setempat. Kurikulum yang selama ini dipergunakan selalu seragam dan tidak memperhatikan kebutuhan lokal sehingga menjauhkan anak-anak dari realitas mereka.. Anak-anak sejak dini diajarkan membaca dan memahami tentang sesuatu yang tidak pernah mereka lihat, dengar  dan alami.

Sebagai salah satu sektor prioritas Otsus dengan alokasi dana sebesar 30% maka sudah sepantasnya pemerintah daerah  menyediakan sarana sekolah gratis terutama bagi orang asli Papua. Mengingat biaya pendidikan sangat mahal sehingga sulit dijangkau bagi anak-anak yang kurang mampu.

Sehingga kekhususan bukan terletak dengan banyaknya uang, namun lebih dari itu banyaknya sekolah-sekolah gratis yang didirikan di Papua juga adalah salah satu model kekhususan tersendiri yang tidak dimiliki oleh provinsi lain di Indonesia. (Tim/AlDP)

  • FX.Making

    Cerita dan Tulisan yang sangat menarik karena :
    1.Krn pengabdian guru yg mengajar, 2.pendidikan di kampung2 yg tdk ada guru, 3.anak2 belajar di rumah milik warga,dan ortu murid diberi kesempatan utk mengajar, 4.anak2 belajar tanpa menggunakan seragam sekolah,metedo pengajaranx menggunakan budaya papua,5.tenaga guru yg mengajar diberikan upah uang pulsa 200 ribu, 6.meskipun mrk mendapat bantuan Rp.50 Juta dari pemerintah, namun sesungguhnya hal ini mengkritik pemerintah itu sendiri yg sering hanya mau memberikan uang pada LSM atau apapun utk memberdayakan pendidikan anak2 kampung, tetapi pemerintah sendiri tdk mengambil bagian dalam menunjang tenaga2 guru, yg lebih banyak di tempatkan di kota2, yg mayoritas pendudukx heterogen, padahal mereka ada di Papua utk membangun masyarakat Papua, terkesan pemerintah hanya membeikan uang dan itu dianggap sdh membantu padahal pendidikan merupakan kewajiban pemerintah n bukan LSM atau masyarakat sendiri..