Berita

Pater Neles Tebay Kuat Sampai Akhir Hayatnya

Hari itu minggu, 7 April 2019 di ruang Fransiskus 7 Rumah Sakit ST Carolus Jakarta, Pater Neles Tebay, terlihat lebih segar, wajahnya yang sempat pucat, seperti dialiri darah kembali. Telapak kakinya yang memutih kini terisi dengan bulir-bulir darah. Malam itu pater usai makan malam lebih cepat, biasanya pater makan lebih larut akibat makan siang yang lebih lambat pula.

Bu Adrana Elisabeth, Shienny dan saya bersama suster Wiwiek sempat ‘ngobrol’ sama Pater Neles, temanya mengenai kelapa sawit di Papua. Kisah diawali pertanyaan suster Wiwiek pada kami, apakah di papua banyak sawit ?. Katanya semalam pater sempat bicara tentang sawit. Kami bertiga antusias menjawab pertanyaan suster Wiwiek. Tenyata pater Neles lebih antusias lagi, tiba-tiba pater memberi isyarat ingin duduk sehingga sandaran tempat tidur dinaikkan dengan posisi agak tegak.

Pater katakan, “nanti kalau saya jadi gubernur saya atur sawit-sawit di Papua”. Bu Adri bertanya, “saya dikasih kah tidak pater ?”. Suster Wiwiek juga menimpal dengan mengatakan ingin juga ke Papua. Pater tertawa. Ekspresi khasnya muncul, matanya yang sayu membesar, bergerak kesana-kemari, hidup. Semangat meloncat dari dalam jiwanya. Tangannya yang lemah menyanggah tubuhnya, dipaksa untuk bergerak. Saya ingat, pater pernah bilang, “saya kalau bicara, tangan mesti gerak. Itu ciri orang Italia begitu, kecuali kamu ikat tangannya”. Pater menempuh doktor di Roma jadi tahu betul tentang ciri itu.

Lalu kami tertawa, Shienny tertawa paling besar. Tentu bukan karena ‘bagi-bagi’ kebun sawit tapi senang Pater tiba-tiba seperti sehat. Jika ada orang mendengar obrolan dan tawa kami dari luar ruangan pasti mereka pikir kami sedang mengunjungi pasien yang esok hari sudah diijinkan pulang oleh pihak rumah sakit. Pater pun cerita mengenai khasiat bawang putih. Menurutnya, ada obat herbal yang diminumnya berasal dari bawang putih. Pater diam sejenak, seperti berpikir lalu menyebut nama obat tersebut.  Obrolan kami itu berlangsung selama 20 menit. Tak lama kemudian, pater minta dibaringkan kembali. Suara nafas sesaknya tak begitu terdengar lagi. Kami saling memandang, benar-benar senang malam itu.

Saya dan teman-teman JDP sangat khawatir dengan penyakit Pater Neles, kami seringkali membahasnya secara diam-diam. Kadang kami saling japri atau membuat grup kecil. Kami mendengar pater sakit serius (kanker) baru sekitar 6 bulan yang lalu. Shienny dan bu Adri yang mengambil peran untuk bertanya ke Pater. Keberanian untuk bertanya pada Pater dimulai menjelang natal 2018, dimana Pater Neles menghabiskan waktunya di RS St. Carolus.

Ketika awalnya kami coba-coba tanya, Pater hanya mengatakan, HB dan trombosit rendah. Pater berusaha menyembunyikan penyakitnya. Ketika saya jenguk pada natal 2018, Pater senyum-senyum dan mengatakan kondisinya sudah membaik. Sudah banyak makan buah. Tubuhnya digerak-gerakan dengan tawa yang lebar seolah ingin membuktikan bahwa dirinya baik-baik saja dan kita tidak perlu khawatir. Katanya, hanya saja ada sedikit masalah pada mata. ” lihat saja, kalau saya sudah mulai tulis lagi, itu berarti su baik-baik,’ begitu katanya. Benar, pater sempat mengeluarkan satu tulisan yang diterbitkan oleh JUBI tanggal 6 Maret 2019 “Mencari Tahu Keinginan Rakyat Papua”. Tidak sampai 2 minggu setelah tulisan itu terbit, kondisi Pater Neles benar-benar drop. Penanganan yang intensif dilakukan di RS St.Carolus. HB dan trombositnya turun meski transfusi darah dilakukan berkali-kali. Glubolin pater naik setiap saat. Nafasnya sesak, karena cairan memenuhi paru-parunya. Tidurnya pun selalu gelisah.

Dokter yang merawat Pater Neles mengatakan pater kena ‘myeloma multiple’ adalah tipe kanker yang tidak bisa disembuhkan. Penyakit Myeloma multiple menyebabkan pertumbuhan sel plasma yg abnormal, menyebabkan sel kanker dan menumpuk di sum-sum tulang belakang. Resikonya lebih banyak dialami oleh laki-laki daripada perempuan dan lebih sering terjadi pada ras kulit hitam. Pater sudah menjalani kemo beberapa tahun ini. Penyakit pater sudah sampai stage 3 (stage akhir).  Ternyata 3 tahun lalu, saat pater menjalani operasi yang dikatakan akibat syaraf terjepit di tulang belakang, penyakit itu mulai bersarang. Pater menjalani semuanya dengan diam-diam dan kuat. Tidak mau bikin repot banyak orang.

Kemo yang dijadwal kan kali ini tidak dapat dilakukan karena ada infeksi. Kemo terakhir dilakukan pada pertengahan Februari 2019. Bisa dilakukan cuci darah khusus tapi hanya untuk menurunkan globulin. Globulin yang meningkat berdampak pada pengentalan darah di organ-organ vital. Intinya kanker yang dialami pater sudah menyebabkan infeksi berat. Ada satu jenis obat untuk penyakit ini, akan tetapi belum masuk di Indonesia. Proses justifikasi medis dan mobilisasinya rumit. Pasien harus mengkomsumsinya seumur hidup. Demikian penjelasan dokter yang merawat Pater pada pekan lalu.

Sejak 2009 Pater Neles mengkoordinir Jaringan Damai Papua (JDP) bersama Alm Muridan Satrio Widjojo untuk memperjuangkan penyelesaian permasalahan di Papua tanpa kekerasan melalui dialog. Dia menjadi orang yang paling depan membuka jalan seperti namanya ‘Kebadabi’ (yang membuka jalan) untuk mencegah kekerasan di Papua. Komitmen dan konsistensinya tak pantas diragukan meskipun masih ada orang yang mencibirnya, menganggapnya terlalu lemah atau sebaliknya menganggapnya setengah hati dalam memperjuangkan Dialog. Atau bahkan hanya memanfaatkan dirinya tapi tidak serius menerima gagasannya. Namun dia tidak pernah goyah. “Dialog yang dulu tabu dikatakan, kini sudah menjadi kata kunci,’ ujarnya dengan wajah sumringah, segar dan tulus.

Dr.Pater Neles Kebadabi Tebay, Pr lahir di Godide, lembah Kamu 13 Februari 1964 peraih gelar master dari Univ. Ateano de Manila, Filipina tahun 1997. Peraih gelar doktor Filsafat tahun 2006  di Roma. Peraih penghargaan Keadilan dan Perdamaian Tj Haksoon ke 16 (korsel) atas karyanya mempromosikan dialog dan perdamaian. Hari ini, tanggal 14 April 2019 meraih kemenangan menghadap Sang Pencipta. Sakit yang dideritanya telah berakhir. Sakit yang dengan rapi telah disembunyikannya selama 3 tahun dari kita semua.

Selamat jalan Pater Neles, kami sungguh merasa kehilangan dan duka yang dalam tapi tidak pantas menunjukkan kesedihan dihadapanmu sebab ketika ada kekhawatiran dan air mata di sekeliling tempat tidurmu, kamu masih saja berusaha tersenyum, mengangkat jempol tanganmu dan katakan “kuat”.

(Latifah anum siregar/aldp/anggota jdp/bangkok,14 April 2019)