Pastor Neles Tebay : Soal Identitas Menjadi Persoalan juga Bagi Orang Dari Luar Papua

20161115_102434Jayapura – Identitas orang Papua dikonstruksikan tergantung pada siapa yang mengkonstruksikan. Misalnya antara defenisi Benny Giay beda dengan Richard Chauvel.  Tidak ada ide kepapuan sampai pada konsep yang tunggal.

Demikian pendapat dari Elvira Rumkabu, dosen HI Universitas Cenderawasih yang merupakan peserta FGD Resolusi Konflik Melalui Dialog Menuju Papua Tanah Damai yang diselenggarakan Univ. Cenderawasih, Imparsial dan AlDP, pekan lalu di Jayapura.

Menurutnya, kalau mengatakan identitas akan banyak layer yang menyertainya.

Identitas dibentuk atas antropologis, sejarah, dan proses politik. “  Tapi orang Papua tidak mau identitas karena kebijakan politik. Identitas yang natural dengan mempertimbangkan secara natural”.

Pastor Neles Tebay kemudian menambahkan bahwa persoalan identitas bukan saja dihadapi oleh orang asli Papua tetapi juga kepada orang pendatang yang ada di Papua.

“Soal identitas menjadi persoalan juga bagi orang yang dari luar yang hidup di sini,” terangnya.

Sebelum Irian Jaya menjadi Papua sangat susah untuk pengakuan identitas. Ketika Gus Dur ubah maka orang Papua merasa identitasnya diakui.

Lanjutnya, di Manokwari ada pendatang yang bertanya, dia sudah 40 tahun di Papua, bagaimana identitasnya dan anak-anaknya”.

Pastor Neles juga menegaskan bahwa perubahan demograsi berdampak juga pada dunia politik. Sehingga tidak usah heran kalau calon bupati dari Papua dan wakil bupati dari luar karena identitas lainnya makin kuat.

Jika capital rendah maka dia akan masuk  melalui identitas ada hubungannya dengan yang lain-lain bukan soal kultural saja tapi ada hubungannya dengan politk dan ekonomi.

Ada pelipatgandaan efek karena Papua terlibat konflik identitas yang terberi dan identitas yang terkonstruksi..

“Ujung-ujung dari politik identitas adalah akses pada sumber-sumber capital,” tegasnya.(AlDP/Tim).