Pandangan Negatif Terhadap Pendatang Selalu Ada

Pandangan Negatif Terhadap Pendatang Selalu Ada

Timika – Akhir-akhir ini istilah ‘Papua’ dan ‘pendatang’ menjadi makin ramai dan dengan mudah dimanipulatif. Kadang memberi kesan positif juga negatif.

Sumiati, Pengurus Aisyiah pada Forum Kajian Indikator Papua Tanah Damai, yang digelar Aliansi Demokrasi untuk Papua dan Jaringan Damai Papua di Timika, Selasa kemarin mengatakan, istilah pendatang terkesan terlalu menyudutkan sehingga membuat pemisahan antara pendatang dan pribumi.

Saleh, peserta lainya menambahkan, istilah ‘pendatang’ kini semakin diperluas. Siapapun meski orang Papua namun dia tidak berasal dari tempat tersebut, akan dikatakan pendatang. “Jangankan pendatang yang dari luar Papua, di Timika sini, orang Nabire juga dianggap pendatang,” katanya.

“Munculnya perasaan negatif terhadap pendatang di suatu wilayah pasti ada,” tambah Barito Chaniago, tokoh paguyuban Padang di Timika.

“Kalau dimanapun merantau, pandangan seperti itu selalu ada. Jadi tergantung kita pendatang menilai seperti apa, dimana bumi di pijak disitu langit dijunjung dan airnya diminum. Kalau namanya benturan, dimana-mana pasti ada,” katanya bijak.

Menurut Barito, yang harus dipahami adalah bagaimana pemerintahan dikelola dengan baik sehingga tidak menimbulkan gesekan diantara masyarakat. “Sehingga masyarakat menjadi tenang dan saling membantu, bekerjasama,” ucapnya.

Muridan Satrio Widjojo mengatakan, istilah pendatang menjadi  sangat relatif. “Kita jangan terjebak dengan istilah itu, tapi perbuatan.  Kita memang tidak bisa melihat dan menerima orang sepenuhnya, tapi kualitas hubungan itu yang harus dibangun,” paparnya.

Ia menjelaskan, orang Papua sendiri sedang mengalami proses dan perubahan-perubahan yang cepat. Sehingga harus ada komunikasi dan pemahaman bersama. “Paguyuban diharapkan dapat mengambil peran lebih besar untuk memperbaiki relasi dan turut menfasilitasi konflik-konflik melewati batasan primordial,” pungkasnya. (Tim/AlDP)