Paguyuban Menjadi Kelompok Strategis, Harus Berperan Strategis

pkjJayapura – Perkembangan kelompok paguyuban di Papua melaju pesat terutama setelah tahun 2000. Berbagai suku atau etnis kedaerahan mulai memobilisasi diri dalam kelompok etnis masing-masing.

“Perkembangan pendatang sangat pesat baik dari segi populasi maupun geografis. Bukan hanya ada di kota-kota besar di Papua tetapi juga di kabupaten-kabupaten pemekaran. Kondisi ini harus dikelola secara positif, harus berkontribusi positif buat Papua,” Ujar Anum Siregar anggota Jaringan Damai Papua (JDP) dan juga direktur AlDP.

Menurutnya papua tanah damai harus menjadi visi bersama bagi setiap orang yang ada di Papua dan harus diwujudkan dengan kerja-kerja yang konkrit.

“Apakah kondisi sekarang di Papua kita katakan damai? Jika setiap saat bisa terjadi aksi kekerasan.Tidak ada garansi bahwa hari ini tidak akan terjadi aksi kekerasan yang saling balas membalas di Papua,” tegasnya.

SIregar yang hadir dalam Seminar yang diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Umat Beragama(FKUB) provinsi mengingatkan kecenderungan yang biasanya terjadi dimana kelompok paguyuban lebih banyak dimanfaatkan untuk kepentingan politik semata.(04/02/2016).

“Harus ada penataan internal terkait agenda kerja dan juga pertanggungjawaban dalam organisasi. Seorang pengurus yang mewakili kelompok paguyuban harus jelas apakah itu atas nama organisasi atau personal,” tegasnya.

“Sejauhmana potensi ketegangan-ketegangan politik itu berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari”.

“Paguyuban harus juga terlibat aktif untuk mewujudkan Papua tanah damai sebab siapapun dia membutuhkan kondisi yang damai di Papua. Sehingga Papua tanah damai juga menjadi tanggungjawab kelompok paguyuban”.

Lebih jauh dirinya berharap agar kelompok paguyuban tidak saja terlibat dalam agenda internal tetapi juga harus dapat membangun jaringan dengan kelompok masyarakat sipil lainnya juga pemerintah (Tim/AlDP).