Orang Keerom Diminta Tidak Jual Tanah Lagi

Suasana Pemutaran Film Kerjasama YTH dan Yayasan Kampung Halaman Jogja di Keerom

Arso-Setelah Pemutaran Film Pendidikan di Balai Kampung Arso Kota, para tokoh masyarakat Keerom mendiskusikan mengenai kekayaan sumber daya alam mereka terutama tanah yang terus berkurang dan kini dimiliki oleh bukan orang asli Keerom.

Servo Tuamis salah seorang tokoh adat dan Bernard Nauryager kepala kampung Arso Kota sama menyadari bahwa kini masyarakat asli Keerom menderita akibat masuknya investasi yang tidak terkendali dan tidak memperhatikan hak-hak masyarakat asli.

“Dulu memang kami yang ikut tandatangan penyerahan lahan(sawit),” kata mereka secara bergantian. “Kami tandatangan untuk 500 hektar tapi mereka ubah menjadi 50 ribu hektar, kami ditodong sama senjata, kami tidak bisa melawan”.(14/07/2012).

Mereka berdua berharap generasi masa depan memahami situasi yang mereka alami saat itu dan berharap mendapat dukungn dari tokoh-tokoh muda orang Arso untuk kembali merebut dan memperjuangkan hak-hak mereka.

“Kita harus kembali bersatu untuk mendapatkan hak kita,” demikian ajakan Servo Tuamis. Katanya orang tua terus berjuang dan anak muda diharapkan ikut membantu.

Bernard menambahkan, “Kalau kamorang bilang kepala kampung tidak tahu mau bikin apa terhadap situasi ini, hanya duduk-duduk saja, kasih tahu saya, dorong saya, supaya kita bisa sama-sama”.

Tokoh masyarakat lainnya, Fransiskus Tafor yang ikut menyampaikan pendapatnya secara khusus menghimbau para pejabat dan orang-orang terdidik asli Keerom untuk bergabung bersama mereka.

“Ini saatnya kita bersama, anak-anak pintar Keerom ada dimana? jangan hanya ambisi dengan kedudukan di kantor bupati tapi mari kita sama-sama memperbaiki situasi di Keerom ini,” ajaknya.

Anak-anak muda Arso juga menghimbau agar orang asli Keerom tidak lagi menjual tanah mereka untuk kepentingan apapun. Segala bentuk penggunaan hak ulayat harus diberitahu dan dibahas dengan baik, terbuka dan adil dengan pemilik hak ulayat.(Tim/AlDP).