Obat Kurang di Puskesmas Mindiptana
Anak Kampung Kibay

Obat Kurang di Puskesmas Mindiptana

Rumah Sakit di Boven Digoel saat dibangun beberapa tahun lalu

Boven Digoel – Puskesmas Mindiptana, Kabupaten Boven, terbentur masalah kekurangan obat. Untuk berobat warga masih harus mencari alternatif lain penyembuhan.

“Obat minim. Untuk periksa darah saja, kita harus lari ke rumah sakit Misi. Dokter hanya dokter umum, tidak ada dokter spesialis. Dokter puskesmas diperbantukan di RS ini,” kata Fransiskus Komon, Kepala Distrik Mindiptana, kemarin.

Ia mengatakan, masalah kesehatan kampung-kampung di Boven Digoel jauh dari jangkauan layanan maksimal. Kalaupun ada puskemas pembantu, itupun hanya di wilayah tertentu. “Kesehatan menjadi prioritas, kalau manusia tidak sehat, untuk bekerja akan susah, mau sekolah tidak bisa, saya kira perlu ada kebijakan penambahan petugas medis atau sarana kesehatan,” ujarnya.

Puskesmas Mindiptana melayani hingga puluhan pasien tiap hari. Selain obat, alat kesehatan untuk mendiagnosis pasien juga terbatas. “Puskesmas ini paling sering dikunjungi warga, kadang memang ada yang mengeluh, tapi itulah kondisi puskesmas di pedalaman,” kata Komon.

Ia berharap obat yang disalurkan dinas terkait atau rumah sakit Boven Digoel ke puskesmas di distrik, harus lebih banyak. “Karena kalau sedikit, itu menjadi masalah, puskesmas juga kan mendroping obat ke pustu, sementara kebutuhan pasien begitu banyak,” ucapnya.

Bonafasius Konotigop, mantan Sekertaris Daerah Boven Digoel mengatakan, kondisi pelayanan kesehatan di wilayah terpencil, jauh dari standar layanan baik. “Beberapa tahun terakhir ini semuanya tidak terurus, itu disebabkan birokrasi dan pemimpin daerah tidak serius memperhatikan kondisi kampung, saya heran, pemerintah yang bekerja untuk rakyat atau rakyat yang bekerja untuk pemerintah,” katanya.

Baginya, persoalan kesehatan di Boven Digoel tak bisa dipandang sebelah mata. “Kalau kurang alat timbangan, itu biasa, tapi kalau kurang obat, itu luar biasa, seharusnya obat diutamakan harus selalu tersedia.

Konotigop menyarankan agar pemerintah langsung turun ke lapangan melihat lebih dekat kebutuhan puskesmas atau pustu. “Kalau dikantor, kita tidak dapat apa-apa, jangan selalu berharap ada laporan masuk, turun ke lapangan dan lihat ada kekurangan petugas tidak, ada kekurangan obat tidak, lalu cari solusi dan kerjakan,” pungkasnya. (02/ALDP)

  • ABD MUIS, Amd. Kep

    tolong bagamana caranya saya beserta istri saya bisa bekerja di RS boven digoel. saya lulusan dari D3 kesehatan beserta istri saya. saya suda punya pengalaman kerja selama 3 thn dan istri saya berpengalaman 1.5 tahun