Berita

Noken : Mencari Alternatif Jawaban Atas Perda Pemkot Jayapura Terkait Pelarangan Penggunaan Kantong Plastik.

“kemajuan peradaban manusia menjadi mungkin karena arahan konsep-konsep metafisik yang melandasi praksis kehidupan”. Pemikiran Whitehead dewasa ini perlu digarisbawahi sebagai dasar pijak bagi sebuah etika lingkungan hidup. Dalam hal ini, kita tahu bahwa pada 1 Januari 2019, Walikota Jayapura, Dr. Drs. Benhur Tomi Mano, M.Si. telah mengeluarkan suatu konsep Perda no. 1/2019 mengenai larangan penggunaan kantong plastik sebagai upaya mengatasi krisis ekologi.

Jayapura.Pengaruh perkembangan zaman dewasa ini, secara masif menggiring manusia pada pola hidup konsumerisme, sekularisme, legalisme, infantilisme, determinisme. Manusia semakin tidak puas dengan apa yang dimilikinya dan menginginkan barang instan yang sekali pakai. Mentalitas hidup yang demikian secara tidak sadar menimbulkan krisis antropologi, krisis ekologi dan krisis spiritual. Katakanlah kita sekarang tidak lagi menjaga keramahan lingkungan yang berdampak pada pencemaran lingkungan akibat sampah plastik. Karena itu, sekarang ini Pemerintah Kota (Pemkot) Jayapura mengeluarkan Perda (peraturan daerah) mengenai pelarangan menggunakan kantong plastik. Saya mencoba menawarkan beberapa jawaban alternatif untuk mendukung kebijakan Pemkot (pemerintah kota Jayapura) tersebut.

Berkenaan dengan pengaruh perkembangan zaman, kita perlu bercermin pada alam pikir dan budaya modern kontemporer dari metafisika Whitehead yang menekankan bahwa “kemajuan peradaban manusia menjadi mungkin karena arahan konsep-konsep metafisik yang melandasi praksis kehidupan”. Pemikiran Whitehead dewasa ini perlu digarisbawahi sebagai dasar pijak bagi sebuah etika lingkungan hidup. Dalam hal ini, kita tahu bahwa pada 1 Januari 2019, Walikota Jayapura, Dr. Drs. Benhur Tomi Mano, M.Si. telah mengeluarkan suatu konsep Perda no. 1/2019 mengenai larangan penggunaan kantong plastik sebagai upaya mengatasi krisis ekologi. BTM, sapaan akrab dari Walikota Jayapura juga menghimbau agar para pembeli membawa kantong ramah lingkungan dan tas yang bisa digunakan berulang kali. Kebijakan ini telah menuai tanggapan baik dari pihak General Meneger Supermarket Saga Abepura, Haris mengatakan bahwa pihaknya mendukung aturan Pemkot demi menciptakan kebersihan lingkungan kota, dilansir dari (Pospapua.com, Jayapura, 29/1). Karena itu, aturan yang dikeluarkan oleh Pemkot perlu disosialisasikan terlebih dahulu kepada semua pihak karena penggunaan plastik sudah menjadi suatu cara yang lazim dan menjadi suatu kebiasaan setiap orang.

Saya secara pribadi juga merasa sedikit aneh ketika berulang kali membeli barang di kios Sesean, Jl. Yakonde, no. 9-12, Padang Bulan.  Sudah dua kali barang belian saya ditempatkan di dalam karton Mie sedap goreng. Saya bingung dan dengan spontan bertanya, “mengapa barang belanjaan saya tidak ditempatkan di plastik?” Penjaga toko mengatakan bahwa “sudah ada peraturan daerah melarang supaya tidak menggunakan plastik.” Saya pun diam dan bertanya-tanya jika sudah ada perda yang dikeluarkan, apa solusi yang efektif untuk menggantikan plastik demi mengatasi masalah sampah di kota Jayapura. Di sini, saya mencoba mencari alternatif jawaban atas Perda Pemkot Jayapura mengenai pelarangan penggunaan kantong plastik. Sebagai ganti kantong plastik adalah Noken menjadi pilihan utama karena Noken dapat digunakan berkali-kali. Noken merupakan simbol Rahim seorang ibu Papua karena itu kalau kita menggunakan Noken, kita bersama selalu sadar untuk menjaga bumi Papua dari ancaman sampah plastik terhadap lingkungan hidup. Noken juga mencerminkan nilai budaya dan jati diri atau pemahaman zaman modern bahwa seni (Noken) merupakan jiwa dari suatu kebudayaan. Apabila kita menggunakan Noken, maka kita akan bersama-sama berupaya mencegah sampah plastik, melestarikan nilai-nilai budaya di Papua dan melalui Noken kita bersama membantu kesejahteraan ekonomi mama-mama Papua yang selama ini masih duduk berjualan Noken di pinggir jalan. Saya berpikir bahwa untuk menjaga lingkungan hidup kita supaya tetap bersih, kita perlu kerja sama secara holistik. Karena itu, saya menawarkan beberapa jawaban alternatif, sebagai berikut:

Pertama: pihak Pemkot Jayapura pertama-tama memikirkan tentang Perda secara spesifik soal Noken sebagai ganti kantong plastik. Di sini, perlu adanya suatu kebijakan tegas atau standing position dari pemerintah kota Jayapura untuk mengeluarkan Perda baru dan secara khusus bagi mama-mama Papua untuk mengekspresikan dirinya dalam hal ini kerajinan tangan membuat Noken. Ketika Perda ini dikeluarkan, maka Pemkot telah menyediakan lapangan pekerjaan baru dan tetap bagi mama-mama Papua untuk membuat Noken. Pekerjaan menyulam Noken diberikan kepada mama-mama Papua sebagai upaya menyejahterakan ekonomi keluarga mereka dan menghidupkan prinsip subsidiaritas bagi mama-mama Papua yang masih mampu mengekspresikan jati diri mereka. Asumsi saya bahwa jika Noken dijadikan sebagai pilihan utama menggantikan kantong plastik dan tidak ada perda yang berpihak kepada mama-mama Papua, maka mereka akan kalah bertarung di publik dan jalan satu-satunya bagi mereka adalah kembali bersila di pinggiran jalan seperti sekarang ini. Kita juga hanya akan melihat pengusaha Noken dari luar yang menempati posisi mama-mama Papua. Fokus pengeluaran Perda bagi mama-mama Papua kiranya dengan tujuan jelas supaya dapat memberdayakan mama-mama Papua dan mendorong mereka untuk mengaktualisasikan diri, semakin menghayati nilai-nilai budayanya sendiri, di samping itu hasil jualan mereka dapat menopang kesejahteraan keluarga mereka.

Kedua:  Pemkot Jayapura mendirikan gedung istimewa dan siap menjadi fasilitator dan mengaktifkan pelayanan terhadap hasil kerajinan tangan berupa Noken dari mama-mama Papua. Mama-mama Papua tidak lagi duduk di pinggir jalan, tetapi mereka bekerja di rumah dan mendistribusikan Nokennya kepada pihak Pemkot yang sudah siap melayani untuk diteruskan ke toko-toko yang ada di Jayapura dan bisa juga langsung dijual kepada orang-orang yang ingin memilikinya. Pemerintah perlu bekerja sama dengan para pengusaha untuk mengatur proses penjualan Noken yang sudah dilayani tersebut.

Ketiga: ada dua jenis bahan pembuat noken yakni bahan dari kayu dan benang nilon. Kedua bahan ini dipakai karena pertimbangan bahwa kita dapat menggunakan lebih lama. Pemkot Jayapura juga perlu memberikan modal awal bagi mama-mama Papua supaya bisa membeli benang nilon, jika mau menggunakan bahan pembuat Noken dari nilon.

Keempat: soal harga. Pemerintah dapat mengadakan diskusi bersama mama-mama Papua dan orang-orang terkait yang menjadi sponsor mereka untuk mendialogkan dan menyepakati harga yang bisa membantu menghidupi perekonomian mama-mama Papua.

Kelima: pihak Gereja perlu terlibat dalam hal mengatasi sampah plastik yang mencemarkan lingkungan. Keterlibatan Gereja juga perlu mendorong kerajinan tangan atau kreatifitas dari mama-mama Papua seperti membuat Noken. Karena Noken merupakan salah satu penampakan keindahan. Mama-mama Papua adalah seniman yang dipanggil untuk suatu spiritualitas pelayanan artistik, melayani keindahan sejati, mewujudkan talenta yang dimilikinya, melayani kepentingan umum dan pengungkapan iman mereka.  Gereja juga perlu menyediakan sebuah Koperasi untuk melayani Noken buatan mama-mama Papua untuk diteruskan kepada phak pelayanan Pemkot.

Keenam: pemerintah kota Jayapura perlu mendorong setiap sekolah supaya menghidupkan pelajaran Mulok supaya lewat kerajinan tangan, anak-anak dapat lebih kreatif untuk menciptaan keindahan sejati. Mereka juga menjadi anak-anak yang terus melestarikan nilai-nilai serta pengetahuan yang diwariskan oleh orang tua kepada anak-anaknya.

Dengan demikian, konsep Perda no. 1/2019 masih merupakan potensial yang terus mencari alternatif jawaban untuk diaktualisasikan di kota Jayapura. Noken sebagai jawaban alternatifnya untuk menggantikan kantong plastik. Karena itu, Pemkot Jayapura diharapkan agar segera mempertimbangkan perda tersebut dan konsekuansinya serta menerapkannya. Lewat kerja sama yang baik, kita tentunya yakin bahwa suatu konsep dapat memajukan peradaban manusia yang semakin ramah terhadap lingkungan tempat tinggalnya.

(Sebastianus Ture Liwu-Mahasiswa STFT FAJAR TIMUR Abepura)