NelesTebay : JDP Tetap Konsisten Memperjuangkan Dialog

Evaluasi JDPJayapura-Pertemuan antara presiden dan tokoh-tokoh Papua pada 15 agustus 2017, telah melahirkan gagasan Dialog Sektoral yang bertujuan untuk membahas isu di Papua per sektor. Istilah Dialog sektoral kemudian bergulir begitu cepat, kritik pedas dialamat kepada JPD khususnya coordinator Jaringan Damai Papua Dr. Pastor NelesTebay. JDP dituduh telah keluar dari tujuan awalnya dan terjebak pada agenda Jakarta.

Menindaklanjuti pertemuan tersebut, tanggal 13 dan 14 september 2017, JDP dan Kantor Sekretariat Presiden (KSP) di Jakarta melakukan Focus Group Discussion (FGD) untuk membahas gagasan dialog sektoral.

Tanggal 28 dan 29 September 2017, dilanjutkan dengan evaluasi JDP di Jayapura. Pada evaluasi dibahas tanggapan dan pandangan anggota JDP dan juga masyarakat terkait dialog, khususnya dialog sektoral. Di diskusikan juga gagasan mengenai format dialog sektoral.

Diskusi berjalan ramai, diwarnai dengan kritik, pertanyaan dan gagasan. Sorotan tajam mengenai dialog sektoral. Apakah dialog sektoral ancaman atau tantangan, istilah dialog sektoral dan isu yang dibahas pada dialog sektoral. Korelasinya dengan pekerjaan JDP sebelumnya. Soal peran fasilitator, komitmen dan konsistensi.  Selain itu penunjukkan Pastor NelesTebay sebagai person in charge (PIC). Perlunya ‘pra dialog’. Kekhawatiran utama adalah ketidak percayaan.

Pada kesempatan tersebut, Koordinator JDP, Pastor NelesTebay menegaskan bahwa JDP tetap konsisten terhadap tujuan yakni untuk menciptakan Papua Tanah damai. Tetap konsisten dengan cara yang dipilih yakni berdialog serta tetap konsisten berperan sebagai fasilitator yakni menciptakan ruang-ruang ketika orang berpikir (ruangitu) tidak ada atau tidak bisa.(29/09/2017).

Terkait dengan penujukan dirinya sebagai salah seorang PIC, Pastor NelesTebay menjelaskan, ”sebagai fasilitator apakah JDP masih berperan sebagai fasilitator? Kalau fasilitator maka diaharus berdiridi tengah-tengah. Ketika Jokowi menunjuk saya sebagai PIC apakah saya masih di tengah-tengah?.itulah yang ada caci maki. Memang kalau jadi fasilitator maka masing-masing pihak selalu berusaha agar kita berada di pihak mereka. Namun kita tetap berada di tengah-tengah menempatkan diri sebagai fasilitator”.

Menurutnya pemerintah sudah member ruang untuk dialog, apapun namanya. “Kita sebagai fasilitator berusaha gunakan untuk ciptakan Papua Tanah damai. Kita mulai dengan thema yang non tradisional. Ada hal yang sama dan adahal yang khusus. Saya berpikir positif tentang hal ini dan saya memberikan harapan bagi saya harapan menuju Papua Tanah damai’.

Neles menyadari bahwa relasi antara Papua dan Jakarta diwarnai dengan kecurigaan dan tidak percaya. “Kita bekerja dalam suasana ini. Sehingga ide bagus apapun yang muncul dari Papua akan dicurigai. Begitu sebaliknya, Itulah suasana konkrit. Tugas fasilitator menyiapkan ruang untuk bicara. Ini jadi tantangan dari peran failitator, kalau mau jadifasilitator tetap di JDP”.

Evaluasi JDP, diakhir dengan sejumlah catatan penting dan mendesak untuk ditindak lanjuti.(Tim/AlDP).