Museum Negeri :Dekat Dimata, Jauh Dihati

Museum Negeri :Dekat Dimata, Jauh Dihati

Jayapura-Museum Negeri propinsi Papua seperti ‘mati’ meskipun letaknya bersebelahan dengan terminal angkutan umum di Waena Kota Jayapura. Tak ada suasana ‘penyambutan’ dari masa lalu ataupun ucapan ‘selamat datang’ dari petugas museum. Museum negeri yang tanpa namanya ini bertipe A, merupakan satu dari sepuluh museum negeri di Indonesia yang memiliki koleksi sebanyak 3.600 dari 10 jenis benda budaya, mulai dari koleksi sejarah hingga koleksi etnografi.

Gedung pertama dari museum disebut gedung Entrance, berbentuk rumah adat KabupatenJayapura. Digedung tempat dilakukan registrasi pengunjung. Gedung Entrance disebut juga gedung pameran temporer sebab setiap 3 bulan sekali isi atau bahan pamerannya diganti.

Sebagai gedung yang pertama, seharusnya disediakan tempat pengamanan utama untuk memeriksa setiap pengunjung. Ironisnya,tak ada sistem security di depan pintu. Hanya kamera CCTV tapi kamera tersebut juga alarm tidak dapat difungsikan lagi alias rusak sekitar 5 tahun lalu.

Sedianya keseluruhan gedung di museum ini sebanyak 10 bangunan dengan fungsinya masing-masing namun ketika diserahkan kepada Pemerintahan Otonom di era Otsus baru ada sebanyak 6 gedung. Adapun fungsi gedung masing-masing,diawali dengan gedung untuk pameran yakni gedung Entrance dan gedung PameranTetap I dan II yang berisi 10 koleksi benda budaya dari berbagai etnis seperti keramik, guci, kapak batu, manik-manik atau pun yang paling banyak diminati pengunjung yakni rumah adat dari berbagai etnis.

Gedung Pameran tetap II sudah tidak difungsikan lagi karena akan disewa oleh Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) yang baru beroperasi tahun ini danl etaknya di sebelah museum. Kemudian ada gedung konservasi untuk perawatan benda yang rusak, gedung untuk penyimpanan, kerja lapangan dan paling akhir adalah bangunan perkantoran.

“Museum Propinsi Papua ini memiliki koleksi yang cukup lengkap disbanding dengan museum negeri lainnya. Pengadaan koleksi dilakukan melalui survei, setelah mendengar ada informasi mengenai benda budaya, tim survey akan mengunjungi lokasi yang bersangkutan ,difoto dan dianggarkan kemudian diusulkan untuk dibeli. Ada juga benda penitipan yang sewaktu-waktu diambil kembali oleh pemiliknya,sekarang kesulitan untuk perawatan dan penataan museum “ demikian penjelasan Andrias Tappi Kasubag Museum NegeriJayapura.

Penataan museum dilakukan sesuai dengan standar yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat untuk museum Tipe A. namun semuanya belum tertata lengkap, sebab meksipun benda koleksi cukup banyak, kadang pihak museum kekurangan informasi atau data mengenai benda tersebut.

Baik Andrias Tappi maupun Abener Dimara, seorang petugas senior di museum menyampaikan pandangan yang sama, yakni sejak pengeloaan museum diserahkan Kedinas Otonom, perawatannya mulai tidak diperhatikan.Ketika dananya masih langsung dibawah APBN, fasilitas sesuai standar museum tersedia lebih lengkap.

Museum sangat sepi dari pengunjung. Biasanya hanya 5 orang dalam seminggu, kecuali pada peristiwa tertentu, pengunjung akan banyak. Misalnya ada rombongan turis mancanegara yang datang menggunakan jasa wisata dan memilih museum sebagai salah satu tempat kunjungan mereka. Pengunjung lainnya berasal dari sekolah-sekolah, mulai dari taman kanak-kanak hingga Sekolah Menengah.

Untuk kunjungan yang rombongan, pihak museum memberikan syarat agar diberitahukan setidaknya 2 hari sebelum waktu berkunjung untuk mempersiapkan benda-benda yang ada termasuk mempersiapkan tim pemandu. Saat di museum, rombongan akan dibagi lagidalamkelompokkecil.Selebihnya pengunjung museum adalah mahasiswa yang sedang meneliti untuk kepentingan pembuatan skripsi.

Seorang petugas museum berpendapat bahwa letak museum yang ada sekarang ini kurangtepat. Terminal angkutan umum yang tepat didepan museum menghalangi pandangan orang sehingga tidak cukup banyak orang yang mengetahui ada museum di belakang terminal.

“Terminal merusak pemandangan dan emisi yang dihasilkan dari bahan bakar juga merusak barang-barang museum,” katanya.

Sebenarnya pihak museum sudah melakukan langkah antisipasi untuk memperbanyak tamu terutama dari daerah-daerah di sekitar Propinsi Papua dengan melakukan pameran keliling. Pertama kali dilakukan di Keerom tahun 2007 lantas Sarmi tahun 2010, serta di  Nabire,Dogiai dan Supiori tahun 2011.Berbagai upaya tersebut belum menunjukkan peningkatan kunjungan secara signifikan.

Museum Negeri Propinsi Papua makin lama makin tidakdi perhatikan.Jadilah museum negeri Propinsi Papua ini :Dekat di mata, Jauh dihati.(Tim/AlDP).