Berita

Meski Bahaya Masyarakat Tetap Menambang Pasir

Yapen-Distrik Kosiwo adalah salah satu distrik dari 14 Distrik yang ada di Kabupaten Kepulauan Yapen yang letaknya pada bagian Barat wilayah Kabupaten yang terkenal dengan burung Cendrawasihnya. Jumlah kampung yang ada di distrik ini sebanyak 10 kampung dengan jumlah penduduk 4.412 orang dengan kepadatan penduduk 12,16 jiwa/km2. Menurut data Bappeda tahun 2008, 50% warganya bermata pencaharian sebagai petani dan disusul 34,44% sebagai nelayan.

Kampung Arumarea adalah salah satu kampung yang sebagian besar warganya menambang galian C sebagai sumber kehidupan/mata pencaharian. “Kami mau berkebun dimana karena wilayah kami di depan lautan dan di belakang ada kali” kata Timun Takanyuai. Pasir dijual seharga Rp.150.000/ret untuk truk dan Rp.100 ribu/ret untuk pick up.

“Kami tidak punya pilihan pekerjaan lain selain menambang pasir karena untuk berkebun sudah tidak bisa akibat air dari kali naik hingga lokasi kebun kami,kebun kami sudah tidak bisa ditanami lagi,” tambahnya. Apalagi sejak gempa bumi dan menimbulkan longsor sehingga terjadi penimbunan pada kali. “Ini mengakibatkan ketika air pasang akan kembali ke kampung sehingga kampung ini sering air naik hingga pondasi rumah,” keluhnya

Akibatnya bahaya abrasipun  mengintai, pinggiran pantai makin lama menjorok ke darat. Pada beberapa kampung justru permukaan pantai sudah berkisar 1-5 meter dari badan jalan raya. Kampung Arumarea pun mulai merasakan dampaknya ketika air pasang besar seperti di fenomena ‘supermoon’ pada 6 Mei lalu, air pasang meluap hingga jalan raya.

Menurut Niko Tabunatar, tahun 2011 sudah ada sosialisasi dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kep. Yapen terkait dengan aktifitas penambangan pasir di kampung Arumarea. Sosialisasi ini juga sudah mengingatkan akan bahaya penambangan pasir.

Namun pemerintah tidak memberikan solusi lain agar ada pekerjaan lain buat masyarakat memenuhi kebutuhan hidupnya.”Kebun kami sudah kering, akibat air asin, kali kami rusak akibat limbah dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah, “tambah laki-laki yang kuliah di STKIP PGRI Serui. “Saya menambang pasir untuk cari dana kuliah”. Niko tidak sendiri sebab ada sekitar 16 orang mahasiswa lainnya ikut menambang pasir dan tidak ada bantuan pendidikan untuk mereka.

Di bagian lain,Numberi mantan kepala kampung menjelaskan bahwa masyarakat sudah dihimbau agar tidak menambang pasir karena berbahaya,air laut semakin mudah masuk ke kampung. Namun mereka tetap bekerja.Lanjutnya,“ Kami serba salah melarang warga untuk menambang pasir karena dari situ lah uang garam, biaya kehidupan termasuk membiayai pendidikan anak-anak”.

Kondisi yang sama juga dialami kampung Tatui yang letaknya di pinggir pantai. “Apalagi jika air pasang ketika bulan purnama dan ditambah dengan angin Barat, maka air akan masuk hingga perkampungan, keadaan ini memang mencemaskan kami di Tatui,” kata salah satu warga kampung Tatui.

Masyarakatpun menambang pasir dengan harga yang jauh lebih murah dari kampung Arumarea yakni Rp.50.000/ret untuk pick up.Mereka ingin truk pembeli akan melewati kampung Arumarea dan langsung masuk ke kampung mereka. “Kami turunkan harga agar tetap laku”.

Masyarakat sudah berupaya melalui pemerintah kampung untuk koordinasi dengan perusahaan yang mempunyai alat berat, namun hingga kini perusahaan belum menurunkan alat berat dengan  alasan  membantu karena harus ada dana. Perusahaan meminta agar dana pemberdayaan kampung dialokasikan untuk membayar alat berat dan hingga kini permasalahan tersebut belum dibicarakan kembali di forum kampung.Mereka berharap ada proyek untuk menanggul sepanjang pantai dan ada solusi pekerjaan lain untuk mereka.(04/AlDP)