Berita

Merauke Tak Bisa Jadi Lumbung Pangan Papua

Merauke–Arief Gazali, General Manager PT Agriprima Cipta Persada (ACP), pesimistis Kabupaten Merauke dapat menjadi lumbung pangan bagi Papua. PT ACP merupakan satu dari tiga perusahaan yang akan masuk berinvestasi di Muting dalam bidang perkebunan.
“Tidak akan jadi lumbung pangan, kalau tanah tidak dikelola secara baik, atau tidak memperhitungkan curah hujan, niat menjadikan lumbung pangan mustahil. Orang bercocok tanam harus memperhitungkan curah hujan,” kata Arief Gazali dalam pemaparannya mengenai pengembangan lahan perkebunan PT ACP di Muting, beberapa waktu lalu.
Menurutnya, memperhitungkan curah hujan bukan hanya pekerjaan petani di sawah, pengusaha yang akan membuka lahan juga berpatokan pada curah hujan untuk mengukur kapan pelaksanaan pembukaan dilakukan serta kapan memulai land clearing. “Dimana-mana begitu, saya lihat, Merauke disebut lumbung pangan, tapi ternyata masih juga mengimpor beras, dimana letak kesalahan itu,” kata dia.
Sementara itu terkait rencana investasi PT ACP, Gazali mengatakan akan melibatkan wanita dan lelaki di Distrik Muting untuk bekerja. “Bisa untuk pemupukan, jadi kita tidak akan biarkan warga hanya menonton, kita ingin agar perkebunan sawit di Merauke bisa sebagai perkebunan sawit yang berkelanjutan di Indonesia,” paparnya.
Ia berjanji, perusahaan akan ikut berpartisipasi dalam membangun pendidikan di kampung serta mendirikan pusat kesehatan bagi masyarakat. “Tapi tetap kita akan berpijak pada rambu-rambu yang diberikan pemerintah, jika kita membangun fasilitas pendidikan tapi ternyata itu ditanah bermasalah, tentu harus kembali pada pemerintah, ada aturannya,” ujarnya.
Gazali berpendapat, perkebunan sawit bisa berhasil apabila pekerja didalamnya sungguh-sungguh serta berkomitmen. “Harus sungguh-sungguh bekerja dan belajar, hasilnya pasti akan dirasa bermanfaat, membangun perkebunan ini penting untuk peningkatan ekonomi, menambah pengetahuan dan memperluas wawasan,” jelasnya.
Merse Mahuze, Kepala Distrik Muting menjelaskan, warga harus melihat perkebunan sawit sebagai miliknya. Dengan begitu, tak ada rasa sungkan untuk memulai bekerja. “Jadilah ahli dalam bidang sawit, kebun ini akan menghasilkan rupiah yang tidak sedikit, karena dimasa depan, minyak sawit yang akan dicari sebagai pengganti bahan bakar di dunia,” kata dia.

Ia menyarankan agar perusahaan menjaga hubungan baik dengan masyarakat dan tidak membuat mereka kecewa. “Pemerintah itu hanya sebagai motivator dan fasilitator, kalau masyarakat terima, kita dukung, kalau masyarakat menolak perusahaan, kita tidak bisa paksa, jadi perlu ada hubungan yang baik antara keduanya,” pungkasnya (02/AlDP)