Menyikapi Kehadiran JUT dan Kelompoknya, Langkah Antisipasi Pencegahan Konflik.

20170929_144446Jayapura-Sejak awal di Papua sudah mengenal yang namanya pluralisme kehidupan karena perbedaan suku dan agama. Sampai saat ini  tetap saling menghargai. Siapapun dia. Demikian ditegaskan oleh Pares Wenda, anggota JDP yang juga merupakan anggota Tim lobi Dialog untuk Papua tanah damai.

Pernyataan Wenda ini disampaikan pada saat konferensi pers menyikapi kehadiran  Jafar Umar Thalib (JUT) dan kelompoknya di Keerom pada Konferensi Pers di AlDP.(29/09/2017).

Pihaknya mengatakan bahwa keprihatinan ini bukan saja menjadi soal warga di Keerom tetapi juga masalah bersama di tanah Papua. Dirinya menegaskan, bukan pelarangan terhadap islam dan pendirian rumah ibadah(masjid) tapi terhadap JUT dan kelompoknya.

Lebih lanjut Pares mengatakan bahwa kalau sampai ada paham radikal yang masuk maka akan merusak perdamaian.

“Kalau sampai masuk dan membuat basis maka membutuhkan waktu yang panjang untuk mengantisipasinya. Kita tidak mau jadi konflik  seperti di daerah lain”.

Sejalan dengan itu, Pontoh Yelipele sebagai ketua Ikatan Islam Walesi di Jayapura mengakui bahwa Papua berpotensi untuk tumbuhnya paham radikal, “yang sesat dan menyesatkan.”

Olehnya itu sebagai masyarakat adat harus mengantisipasi sebab sebagai masyarakat adat, kehidupan pluralitas sudah tumbuh sejak turun temurun.

Yelipele mencontohnya dirinya. Di rumahnya tinggal bersama saudaranya yang  agama GIDI dan Kingmi. Semuanya berjalan damai dan saling menghargai.

“dan kalau paham radikal masuk maka saya akan dituduh tidak islam. Kafir, islam  yang  tidak benar,akan konflik”.

Marinus Yaung, akademisi yang juga anggota tim lobi dialog untuk Papua tanah damai turut menegaskan. Katanya dukungan terhadap sikap dan Keputusan pemda Keerom adalah langkah antisipasi(pencegahan) mengingat sejarah JUT selama ini.

“Kita tidak boleh menambah konflik lagi di Papua,Ini tindakan pencegahan,”tegasnya.

Dirinya menduga JUT dan kelompoknya di back up oleh kekuatan tertentu untuk masuk di Papua oleh karenanya dia meminta agar aparat keamanan jangan memback up JUT dan kelompoknya.

Dukungan agar pemerintah kab Keerom menindaktegas kehadiran JUT dan kelompoknya yang membawa paham radikal terus menguat. Bukan saja dari masyarakat Keerom(tokoh agama, paguyuban dan masyarakat adat) tetapi juga dari solidaritas anti pada radikalisme di Papua yang merupakan gabungan LSM dan aktifis perdamaian di Papua.. Mereka juga meminta sikap tegas dari aparat kepolisian dan TNI untuk mendukung langkah antisipasi yang dilakukan oleh pemerintah kabupaten Keerom.(Tim/AlDP).