Menjual Sagu Lewat Jalur Laut
Dominikus Ulukyanan

Menjual Sagu Lewat Jalur Laut

Elanor Awi

Manokwari – Banyak cara ditempuh pedagang Wasior, Teluk Wondama, untuk ke Kota Manokwari, Papua Barat. Salah satunya melalui jalur laut meski berombak tinggi.

“Saya datang dari Wasior,” kata Elanor Awi, penjual sagu di Pasar Sejahtera, Distrik Momiwaren, Manokwari, Senin kemarin.

Tiap kali ke Ransiki, Manokwari, Elanor membawa sekitar 10-15 tumang sagu dan menjualnya, Rp.200 ribu hingga Rp.250 ribu pertumang. “Tapi ada yang kami jual pakai plastik, kalau masyarakat mau beli sedikit-sedikit,” katanya sambil menunjuk sagu dalam plastik kecil seharga Rp.10 ribu.

Sagu yang dijual Elanor, adalah miliknya dan kelompok ibu-ibu satu kampung.  Awalnya Elanor berdagang di pasar Oransbari. Ketika ia mendengar informasi bahwa lebih besar peluang untung di Ransiki, ia pun hijrah ke pasar Momiwaren.

Sagu yang dijual, habis dalam waktu 1-2 minggu. “Tergantung orang yang memesan,” katanya. Hasil jualan kemudian dibelanjakan Elanor untuk membeli keperluan rumah tangga. Setelah itu, ia akan pulang ke Wasior.

Selain sagu, Elanor menjajakan pinang. “kalau tidak begini, siapa yang mau bantu kita? Kita harus berusaha sendiri,” ujarnya bijak.

Wasior merupakan salah satu daerah pesisir di Kabupaten Teluk Wondama. Elanor menggunakan perahu motor selama kurang lebih 8 jam dari Wasior menuju Ransiki. Sekali perjalanan dengan motor tempel 15 PK, bensin terserap hingga 30 liter. (Tim/AlDP)