Menjaga Warisan Budaya di Kampung Waga-Waga

Menjaga Warisan Budaya di Kampung Waga-Waga

AlDP-Kampung Waga-Waga terletak di distrik Kurulu kabupaten Jayawijaya, sekitar 40 menit dari Kota Wamena dengan jalan darat. Sepintas mirip kampung-kampung lainnya di Jayawijaya, kampung yang nyaman, indah dan penuh keramahan. Hal lain yang dimiliki oleh kampung ini adalah kumpulan perempuan-perempuan hebat yang bangkit berjuang menjaga warisan budaya mereka.

Di depan jalan utama kampung Waga-Waga, ada papan, tertulis “ Kelompok Suara Hati Ibu-Ibu Kampung Waga-Waga Distrik Kurulu Kabupaten Jayawijaya” yang mencuat diantara bunga hidup warna warni pada hamparan yang sejuk..
Kelompok Suara Hati baru terbentuk pada Oktober 2014, masih sangat baru tetapi kegigihan mereka untuk mempertahankan warisan budaya Baliem, khususnya sekitar Kurulu patut membuat orang-orang yang mengunjungi tempat mereka akan tercengang kagum.

Ibu-ibu anggota kelompok adalah para janda di kumpung Waga-Waga dan sekitarnya, berjumlah sekitar 84 orang. Siang malam mereka bekerja untuk mempertahankan warisan budaya leluhur seperti noken dan anyaman hiasan untuk perempuan atau laki-laki , bukan saja membuat tetapi yang lebih sulit adalah mengumpulkan dari yang sudah pernah ada dibuat oleh leluhur mereka sebelumnya.

“Istilahnya saya bilang ‘hukuman,” Ujar Maria Logo, salah satu pencetus kelompok itu.
Lanjutnya, “Kami mendata apa yang kami punya, kalau masih bisa dibuat, kami buat tetapi kalau sudah tidak dibuat lagi, maka ada yang ditugaskan untuk mengumpulkan kembali. Ini ‘hukuman’, tidak bisa bilang tidak, barang itu harus ada”.

Akibat dari kesepakatan itu maka barang-barang langkahpun satu persatu muncul di dalam pondok mereka. Ada benda yang sudah tidak dikenal oleh generasi muda bahkan istilah atau nama benda itupun tidak mereka tahu,, mereka harus memanggil tua-tua perempuan untuk belajar mengenal nama dan kegunaannya.
Kelompok ini sudah mengumpulkan kembali sekitar 140 an kapak batu, alat pemotong yang dulu digunakan leluhur mereka.

“Kami baru dapat mengumpulkan kapak yang digunakan untuk memotong jari sebagai tradisi saat duka sedangkan kapak yang digunakan untuk memotong kayu, bentuknya lebih panjang, belum kami temukan,” jelasnya.
Selain kapak, ada berbagai jenis noken dan anyaman lainnya termasuk koteka, kalung ,jubi dan obat-obat tradisional.
“Ada benda yang fungsinya sama tetapi namanya beda atau ada yang namanya benda tetapi fungsinya sama,”jelas Maria sambil menunjukkan berbagai benda yang digantung di sekitar dinding pondok. Katanya selain benda yang sudah ditaruh di dalam pondok, masih ada yang disimpan.

Pondok yang terlihat bersih dan rapi itu beraroma ‘barang’ baru karena warna-warna dinding dan atapnya masih terang. Pembangunan pondok juga baru dilakukan pada akhir tahun lalu. Mereka mulai dengan satu pondok kecil yang indah dengan harapan ada dukungan dari berbagai pihak untuk membangun yang lebih besar guna menyimpan warisan budaya mereka, layaknya museum.

Pondok seluas sekitar 4 meter x 7 meter itu dikerjakan oleh mereka sendiri. Para perempuan hebat itu pergi ke hutan yang sangat jauh, dibalik gunung dari desa mereka. Mereka mengumpulkan kayu, alang-alang dan rotan berharip-hari.
“Hanya ada satu bapak yang membantu kami di sini, selain itu kami semua yang kerja. Di sini, bapak-bapaknya tidak terlibat, bahkan mereka marah sama saya dan beberapa teman yang koordinir karena mereka tidak bisa menikah dengan janda-janda yang ikut kelompok,” Ujarnya sambil tertawa.

Maria pun mengatakan, bahwa dirinya diejek sebagai’ kepala sekolah’ oleh para bapakk yang tidak setuju karena di pondok itu mereka menyelenggarakan pertemuan rutin setiap selasa dan kamis mulai dari pagi hingga siang hari,mirip jadwal anak sekolah. Jika ada hal penting, mereka kadang berdiskusi hingga malam hari, sambil menyalakan api dalam pondok.
Ucapan Maria terbukti jelas saat dilakukan pertemuan antara kelompok Suara Hati dengan Yayasan Sun Spirit, Yayasan Teratai Hati Papua(YTHP) dan Aliansi Demokrasin Untuk Papua(AlDP). Saat itu hanya ada sekitar 5 orang laki-laki dewasa yang hadir ikut diskusi, selebihnya para laki-laki mengintip dari balik pepohonan, di belakang honai.
“Saya ingin orang datang kemari lihat kami dan diskusi sama kami. Mama-mama di sini akan senang kalau ada yang diskusi sama mereka, kadang mereka bosan lihat saya terus,” kata Maria sambil tertawa.

Kelompok Suara Kasih lebih berorientasi pada memelihara dan melestarikan warisan budaya yang mereka miliki. Oleh karena itu mereka mulai dengan pengumpulan dan pendataan kembali warisan budaya. Mereka berharap dunia luar dapat melihat dan mengagumi warisan budaya lembah Baliem. Mereka membutuhkan bantuan untuk fasilitas ruangan yang lebih besar dan nyaman. Mereka berencana membuat dan menyebarkan catalog warisan budaya Waga-Waga. Mereka ingin mendapatkan HAKI agar warisan itu tidak mudah ditiru. “Kami ingin budaya kami dihargai,” tegas Maria.(Tim/AlDP).