Menghidupi PAUD Dari Hasil Jualan Kios

Yapen-Berdiri sejak 1 Maret 2010, dimulai dengan dana rintisan dari Dinas Pendidikan Provinsi Papua sebesar 30 juta, Pendidikan anak usia dini (PAUD) Shallom memulai aktifitasnya di kampung Mantembu Distrik Yapen Selatan Kepulauan Yapen.

Menurut Leonard Worembai, pimpinan PAUD Shallom, dana rintisan dipakai untuk membayar ruangan dan honor tutor. Saat ini Tutor PAUD sebanyak 5 orang yang semuanya berasal dari asli anak kampung Mantembu. “Siswa yang ada di PAUD ini pada awal pembukaan PAUD berjumlah 37 orang, dan saat ini  kami mengasuh 27 anak,”Ujarnya saat ditemui pekan lalu.

Tahun Ajaran

Kelompok

Jumlah

Keterangan

L

P

Jlh

2010

(Pembukaan PAUD Maret-Juni 2010)

A

10

10

20

Siswa baru (Maret-Juni 2010) = 37 anak.

B

14

3

17

Yang tamat 13 anak sehingga siswa tinggal 24 anak

37

Juli 2010- Juni 2011

A

8

8

16

Murid lama 24 anak + murid baru 18 = 42 anak

B

2

2

Murid tidak aktif 14 anak + murid tamat 8 anak

18

Sisa murid 20 orang

Juli 2011- Juni 2012

A

15

3

18

Murid lama 20 orang + Murid baru 7 anak sehingga jumlah murid sekarang = 27 anak

B

2

7

9

27

“Di tahun 2010,kami sempat  mendapat bantuan 1 juta dari dana Pemberdayaan milik PKK kampung. Namun hingga sekarang belum pernah lagi,” kata laki-laki jebolan Akademi Pariwisata di Manado. Menurutnya baik dana Respek maupun dana pemberdayaan lainnya belum pernah mengalokasikan dana untuk PAUD. Padahal PAUD merupakan asset kampung. Maka untuk menghidupi PAUD, baik bayar tutor maupun program PMT, digunakan dari dana hasil penjualan usaha kios miliknya.

”Berkali-kali kami sudah masukan permohonan bantuan ke Dinas Pendidikan Kabupaten .tapi belum direspon. Ada PAUD di Serui yang tidak berjalan tapi mendapat bantuan, sementara PAUD kami  aktif tapi tidak diperhatikan,” katanya dengan nada kesal. Selain memperkenalkan bermacam permainan anak, PAUD membuat jadual jalan-jalan keliling kampung untuk mengenal lingkungan dan juga memberikan program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk peningkatan gizi anak. Lanjutnya,“Tapi karena keterbatasan dana sehingga kadang kami siapkan menu tersebut dan kadang tidak tergantung penghasilan kami dari jualan di kios.”

Menurut Sihombing, guru di SD YPK Sion Mantembu, anak-anak lulusan PAUD Shaloom tidak terlalu kesulitan untuk dididik. “Mungkin karena di PAUD mereka sudah diajar mengenal huruf dan angka sehingga pada waktu di SD mereka tidak lagi kesulitan. Berbeda dengan anak-anak yang masuk murni tanpa melalui PAUD” tandas guru yang sudah 10 tahun bertugas di SD ini.Sihombing pun mengharapkan agar PAUD Mantembu tetap bisa hidup.(04/AlDP)