Menapaki Jalan Senggi

Menapaki Jalan Senggi

Keerom – Awan cerah tanpa hujan menemani perjalanan panjang kami pagi itu. Bekal secukupnya dan tentu saja alat potret tak luput ditenteng. Tanpa rintangan, kami menerobos jalan Senggi.

Tim ekspedisi Aldp untuk Waris dan Senggi dipimpin oleh Anum Siregar (Direktur AlDP). Ikut pula wanita ceria Cory Silpa, Hamim Mustafa dan Richard Mayor, juru potret. Inilah ekspedisi awal tahun Aldp selama dua hari menggali keunikan Keerom.

Tak sulit untuk menentukan apa saja yang akan diliput. Fokusnya tidak lari jauh dari persoalan pendidikan, kesehatan, infrakstruktur serta kondisi penyelenggaraan pemerintahan. Momen ini berharga untuk mengetahui berbagai peristiwa di Waris dan Senggi, serta bagaimana kemajuan dua wilayah terpencil itu.

Tanpa pikir panjang lagi, kami langsung meluncur meninggalkan kantor AlDP di Jln. Raya Sentani Padang Bulan, Kota Jayapura. Tepat pukul 08.00 wit, kendaraan yang kami tumpangi melaju perlahan.

Untuk sampai di tujuan, dibutuhkan waktu tempuh sekitar tujuh jam alias tanpa halangan. Selain mengisi bahan bakar, kami juga membeli solar eceran di Abepantai (Pemukiman pinggir kota) untuk stok cadangan. Harganya hampir tiga kali lipat.

Sekitar pukul 10.00 wit, kami tiba di Arso, Ibukota Kabupaten Keerom.

Ekspedisi Senggi dan Waris bukan tanpa alasan. Dulu, dua wilayah ini merupakan daerah merah basis perjuangan kelompok Papua Merdeka. Meski tahun berganti, namun keduanya tetap jalan ditempat. Infrastruktur rusak parah. Kondisi sosial ekonomi berada pada posisi terendah. Apalagi berbicara pendidikan, menyedihkan.

Secara geografis, Distrik Senggi berbatasan dengan Distrik Waris pada bagian utara, Kabupaten Pegunungan Bintang pada bagian selatan, Distrik Towe, Distrik Web dan Negara Papua New Guinea pada bagian timur serta Kabupaten Jayapura di bagian barat.

Luas wilayah Senggi 3088,55 km2. Kampung terluas di Senggi yaitu Kampung Molof dengan luas 1.408,03 km2 atau 45 persen dari total luas wilayah. Sedangkan kampung terkecil adalah Kampung Woslay dengan luas 9,36 km2.

Distrik Senggi memiliki enam kampung diantarnaya, Kampung Molof, Senggi, Warlef, Jabanda, Woslay, dan Kampung Usku. Ke enam kampung tersebut merupakan kampung swadaya.

Ada Tentara
Perjalanan ke Senggi memang penuh kejutan. Kami sempat berhenti di SD YPPK Wembi dan melakukan wawancara. Wembi merupakan kampung terakhir dari wilayah pemerintahan Distrik Arso. SD kecil itu salah satu SD percontohan dengan banyak murid asli Papua. Usai interview, kami bertolak kembali.

Di Pos TNI Non Organik Pamtas (Pengamanan Perbatasan), Kampung Ampas, kendaraan tim tiba-tiba di stop. Empat tentara ikut numpang di bak belakang menuju Kampung Kali Bom.

Hanya berselang beberapa menit, lagi-lagi kami dikejutkan dengan banyaknya mobil mengantre. Sejumlah tentara berdiri dengan senjata lengkap. “Ada apa lagi ini?” tanya Ichad. Sesaat, kami terdiam.

Namun kemudian, semua itu hanya rasa cemas belaka. Barisan panjang mobil ternyata mengantre melewati sebuah jalan berlumpur dan rusak di Kali We. Eksavator atau kendaraan berat membantu menarik satu persatu mobil lolos dari kepungan lumpur. Kami sempat tertahan hingga dua jam.

Kondisi Distrik Waris dan Senggi berbeda dengan wilayah lain di Tanah Tabi. Sebab hampir di tiap titik, berjejer pos-pos TNI Non Organik Pamtas. Jumlahnya lebih dari 10 Pos. Kami mengamatinya sebagai wajah lain Indonesia. Akrab ditemui masyarakat Keerom tiap hari.

Tiba di Senggi
Perjalanan melelahkan itu akhirnya usai juga. Otot-otot ini terasa remuk. Mentari sore menjemput kami di Senggi.

Tidak banyak yang dikerjakan hari itu. Kami hanya mengunjungi bandara udara Senggi yang sepi, menapaki jalan sempit dan bersilahturahmi dengan masyarakat. Usai berkeliling, perut kami mulai keroncongan. Acara selanjutnya adalah makan bersama.

Kami mendapat tempat inap semalam di Kampung Woslay. Saat itu jarum jam menunjukan pukul 18.30 wit. Lega juga akhirnya bisa memandangi Senggi di malam hari.

Untuk penerangan, tim kecil ini menyiapkan lilin. Tak ada listrik 24 jam seperti di kota. Penerangan hanya dari pukul 18.00 hingga 23.00 wit. Setelah itu, warga akan menyalakan mesin diesel pengganti PLN. Kami mengikuti saja irama pedesaan, sunyi, senyap dan tenang. (RM/Keerom)