Melibatkan Laki-Laki Dalam Memperjuangkan Keadilan Gender

Filed under: News |
Keerom-Melibatkan laki-laki dalam memperjuangkan keadilan gender dan penghapusan kekerasan terhadap perempuan dan anak terus menjadi perhatian banyak pihak. Indonesia gerakan ini sudah ada di beberapa tempat seperti NTT di Kupang, NTB di Lombok, Aceh, dan Papua. Gerakan ini dikenal dengan gerakan Laki-laki Baru (LLB), meskipun dibeberapa wilayah memiliki nama yang berbeda misalkan ‘Laki-Laki Hebat’ di Kupang, ‘Laki-Laki Idaman’ di Lombok, atau ‘Laki-Laki Andalan’ yang sedang dicoba dipakai di Keerom.
Nurhasyim dari Rifka Annisa-Jogjakarta yang juga merupakan salahsatu aktivis dalam gerakan LLB mengatakan bahwa gagasan laki-laki baru itu muncul dari kritik terhadap konsep menjadi laki-laki yang selama ini diyakini secara luas oleh masyarakat khususnya laki-laki. Menurutnya dominan konsep laki-laki yang selama ini diyakini, menjadi penyebab ketidakadilan yang dialami oleh perempuan dalam relasi laki-laki dan perempuan.
 “Misalkan laki-laki harus superior atau lebih tinggi dibanding perempuan, harus kuat secara fisik dan mental, menjadi pencari nafkah, pelindung, kepala keluarga, pemimpin,”Ujarnya(16/04/2012). Termasuk membiarkan laki-laki untuk menyelesaikan masalah dengan cara kekerasan yang biasa disebut sebagai cara jantan.
Menurutnya,konsep ini merugikan perempuan karena menjadi nomor dua, harus patuh dan tunduk kepada laki-laki, juga merugikan laki-laki sendiri karena kemudian semua laki-laki dipaksa untuk memenuhi konsep-konsep itu, dan ketika dia tidak bisa memenuhi maka dia melihat dirinya negative.
Buruknya lagi masyarakat pun menstigmanya sebagai bukan laki-laki atau banci atau keperempuanan. Konsep ini juga menurutnya membatasi laki-laki untuk menjadi dirinya sendiri, misalkan disebut “tidak laki-laki” ketika memilih bekerja di rumah, atau dinilai “takut istri” ketika ikut melakukan pekerjaan domestic seperti merawat anak dan mengurus rumah, atau dikatai “banci dan tidak jantan”  ketika tidak menerima tantangan untukk berkelahi dll.
Dalam gerakan laki-laki baru ini, dibuat konsep yang pada dasarnya memberi ruang kepada laki-laki untuk menjadi dirinya sendiri, tidak superior, menyelesaikan persoalan dengan cara nonkekerasan, bekerjasama dengan pasangan dalam menjalankan peran public maupun domestic, dan  memberi ruang kepada perempuan untuk ikut mengambil keputusan baik secara domestic maupun dalam ruang public seperti di institusi agama dan pemerintahan. Konsep seperti selain tidak memberi stigma buruk kepada laki-laki yang memilih menjadi dirinya sendiri tetapi juga agar laki-laki tidak menganggap bahwa dirinya paling berhak dalam menentuka segala sesuatu. Gerakan ini sendiri disebutnya  sebagai gerakan ide dan gagasan. Siapapun khususnya laki-laki yang setuju dengan ide dan gagasan ini, bisa menularkan kepada laki-laki yang lain.
Saat ini gerakan laki-laki baru gencar dipromosikan, baik lewat  kegiatan formal maupun cara-cara  informal seperti penyampaian dari mulut ke mulut atau juga lewat sosial media seperti facebook, twitter, blog, maupun website. Di Papua, gerakan ini sudah dimulai di Keerom yaitu di Kampung Arso kota dan menjadi bagian kerjasama UNWomen dan Yayasan Teratai Hati Papua (YTHP) dalam mewujudkan kampung bebas kekerasan terhadap perempuan dan anak.(01/AlDP)
Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


× 1 = 4

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>