Berita

Masalah Pendidikan di Keerom Belum Tuntas

Jayapura–Kondisi pendidikan di Kabupaten Keerom sampai saat ini masih carut marut. Pastor John Djonga, penerima penghargaan Yap Thiam Hien Award 2009 mengatakan, situasi tersebut menciptakan kesenjangan belajar antara anak asli dan bukan putera Papua.

“Banyak sekolah dibangun di kawasan yang mayoritas penduduknya non Papua. Sementara di daerah yang dominan anak Papua, kondisi pendidikan tidak berjalan baik,” kata John Djonga, Sabtu kemarin.

Ia mengatakan, di Distrik Towe, hanya ada 5 SD, Distrik Web, 6 SD dan 1 SMP. Di Waris, terdapat 5 SD, 1 SMP dan 1 SMA. Selanjutnya, di Distrik Senggi, ada 10 SD dan 1 SMP. Sementara di Skanto, dibangun 15 SD, 4 SMP dan 2 SMA. Untuk Arso, terdapat 22 SD, 5 SMP dan 4 SMA, sedangkan Arso Timur, 10 SD dengan 1 SMP. “Bahkan di Towe, tidak ada guru mengajar di sana, hanya ada seorang guru yang mengeluh karena harus menangani sendiri murid yang begitu banyak,” ujarnya.

John menambahkan, rasio jumlah murid terhadap guru juga tidak seimbang. Di Arso, seorang guru hanya mengajar sebelas siswa, berbanding terbalik dengan Towe, dimana 1 guru menangani 52 murid bahkan lebih. Rasio jumlah murid terhadap ruang kelas pun tidak sama. Distrik Arso yang lebih dekat dengan Kota Jayapura, sebuah ruang ditempati 21 murid. Kondisi berbeda ditemukan di Towe, dimana kurang lebih 39 siswa berada dalam satu kelas. “Kita mau bilang apa, ini memprihatinkan,” katanya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten Keerom, Bambang Suhartawan, belum lama ini mengatakan, kesemrawutan pendidikan di Keerom terutama disebabkan tiadanya komitmen dari para tenaga pendidik dalam melaksanakan tugas. “Ini terlihat dari beberapa guru yang seringkali meninggalkan tempat tugas,” kata Bambang.

Penyebab lain yaitu, kurangnya pemberian insentif tambahan diluar dari gaji pokok sebagai solusi menjadikan guru betah dalam mengajar. “Untuk mengatasi persoalan itu, telah dibentuk Tim Pengawasan dan Pengendalian terhadap kinerja pendidik di setiap distrik,” ucapnya.

Cypri. J. P. Dale, penulis buku Paradoks Papua mengatakan, perlu upaya segera untuk memajukan pendidikan di Keerom. “Saya kira pendidikan adalah masalah utama, kalau bidang ini didorong baik, tidak akan ada masalah struktural. Kalau anak sejak kecil sudah dididik dan pintar, pasti ada perubahan dalam sepuluh atau dua puluh tahun mendatang di Papua,” pungkasnya. (02/AlDP)