Maria dan Kasus Makar Suaminya

Maria dan Kasus Makar Suaminya

Sorong-Meski peristiwa Aimas sudah berlalu, namun masih meninggalkan derita bagi keluarga para terdakwa. Termasuk yang dialami oleh Maria Klemen istri dari Klemen Kodimko, salah satu Terdakwa peristiwa Aimas menjelang 1 Mei 2013 yang didakwa melakukan tindak pidana Makar.

Selain harus mengunjungi suaminya saat persidangan setiap hari senin dan mengunjungi Lembaga Pemasyarakatan tiap selasa dan kamis, Maria terpaksa mengambil alih semua tanggungjawab di dalam rumahtangga.

Maria melanjutkan pekerjaan suaminya yang berprofesi sebagai petani di Kilometer  10Sorong, Kab Papua Barat.

Dirinya menjual hasil kebun seperti seperti sayur, nenas, betatas dan pisang. Namun dia tidak mampu berjual secara maksimal sebab kebun pisang miliknya jauh di tengah hutan. Maria tidak berani pergi seorang diri kesana.

Ditemani anaknya yang sudah kuliah, Maria mengambil hasil kebun yang letaknya tidak begitu jauh, sebab tidak setiap hari hasil hasil kebunnya bisa dipanen.

Lantas sekitar jam 4 subuh, Maria sudah berdiri di pinggir jalan menunggu taksi menuju pasarRemu Kota Sorong. Biasanya dia membayar 20 ribu-30 ribu sekali angkut jualannya kesupir taksi.

Maria memilih jualan pas di depan toko Tiga Jaya, sekitar jam 10 pagi, dia sudah balik kerumah dengan membawa uang hasil jualan sekitar 300-600 ribu, tergantung hasil kebun yang diabawa.

Maria masih menanggung hidup 2 orang anak laki-laki yang baru memasuki bangku kuliah, kedua anaknya sengaja memilih kuliah sore hari agar dapat membantu Maria mengolah kebun.

“Hasil kebun tidak cukup membiayaihidup, “katanya datar saat menunggu suami bersidang di PengadilanNegeri Kota Sorong(23/09/2013).

Maka selama suaminya ditahan, sekitar 5(lima) bulan, Maria mengaku telah menggadaikan 2 sertifikat tanahnya, masing-masing dengan nilai 3  juta dan 4 juta. Maria dikenakan angsuran sekitar 300 ribu dan 400 ribu perbulan.

Selain itu untuk membayar uang kuliah anaknya, Maria mengurus surat keterangan tidak mampu pada lurah setempat. Juga surat keterangan untuk memudahkan dirinya operasi katarak.

“Semua biaya membuat kepala saya pusing..”katanya lagi sambil menyebut kebutuhan bulanannya yang semua harus diselesaikan dengan uang: bayar listrik, keperluan anak sekolah,uang semester,keperluan makan minum, bayar utang kredit dan lain-lain.

Maria berharap sidang segera berakhir dan suaminya segera bebas,tatapannya menerobos tiang-tiang pengadilan yang berdiri megah.  Dia masih memiliki harapan untuk berjuang meksipun dengan wajah yang letih.(Tim/AlDP)