Mampukah Polisi Membongkar Sindikat Kejahatan Berlapis?

Ilustrasi Ruang Persidangan

Andawat-Beberapa minggu belakangan ini Jayapura menjadi kota yang menakutkan. Hampir di setiap ruang dan kesempatan orang membahas aksi-aksi kekerasan khususnya aksi penembakan. Aksi penembakan dilakukan secara acak, siapa saja bisa menjadi korban, dimana saja, di tempat ramai, terbuka bahkan di halaman rumah kita, ada pelaku tapi tidak terungkap (Mei-Juni 2012).

Akibat dari meningkatnya aksi penembakan telah menumbuhkan perasaan bersama sebagai kelompok korban atas satu peristiwa tertentu dan di peristiwa lainnya ada kelompok tertentu lainnya sebagai korban. Perasaan bersama menumbuhkan sikap perlawanan dan mekanisme mempertahankan diri bahkan untuk menyerang kelompok lain karena telah menjadi korban pada peristiwa yang berbeda.

Hal ini mulai terlihat dari berbagai sms dan selebaran yang beredar yang lebih banyak merupakan informasi provokatif dan menyesatkan. Beberapa pertemuan kecil yang dibangun secara sengaja untuk berbagi rasa takut dan ‘saling mempersiapkan diri’. Spekulasi dan kecurigaan diantara masyarakat pun makin meningkat, masing-masing orang berusaha mengidentifikasikan kembali diri dan kelompoknya. Kemudian merumuskan cara menyelamatkan dan mempersenjatai diri dan kelompoknya.

Situasi ini sangat berbahaya karena akan memunculkan konflik horizontal. Ketakutan yang berulang kali mengkristalkan perasaan diantara kelompok orang yang memiliki relasi atas indentitas tertentu dan yang paling mudah diingat dan dibangkitkan adalah relasi sebagai orang Papua dan non Papua.

Pihak keamanan khususnya pihak kepolisian lantas ‘dipersalahkan’ atas berlangsungnya aksi penembakan dan aksi kekerasan lainnya yang terjadi tanpa henti. Apa yang dikerjakan polisi? Kalau polisi tidak mampu mengungkapkan dan memberikan rasa aman untuk apa mereka ada?. Pertanyaan seperti itu selalu terlontar di mana-mana.

Memasuki minggu kedua bulan Juni 2012, seperti tiba-tiba Wakapolda Papua Brigjen Polisi Paulus Waterpauw menyatakan sudah berhasil menangkap 3 orang pelaku terkait dengan aksi penembakan warga Jerman. Kemudian menangkap pimpinan KNPB Buktar Tabuni(07/06/2012). Wakapolda mengatakan semuanya terkait dengan aksi-aksi yang terjadi belakangan ini. Terhadap penangkapan Buktar Tabuni, penjelasannya dikaitkan pada aksi tanggal 1,2, 22 dan 29 Mei serta 4 Juni 2012. Namun dibagian lain ada info bahwa Buktar juga akan disidangkan terkait kasus pengrusakan LP Abepura pada awal desember 2010.

Selebihnya tidak banyak yang diungkapkan mengenai pemeriksaan awal terhadap Buktar dan 3 orang lainnya dengan alasan masih melakukan pendalaman dan pengembangan penyidikan. Katanya, aksi ini dilakukan oleh sindikat, janjinya di acara Papua Lawyer Club(PLC/09/06/2012) “Sindikat ini akan dibongkar”.

Hasil gelar perkara dan analisa polisi sudah mengarah pada kelompok dan individu tertentu. Kemudian polisi mulai bergerak mengungkapkan aksi penembakan satu-persatu. Polisi cenderung berkesimpulan bahwa para eksekutor dari sejumlah aksi penembakan mengarah pada satu kelompok tertentu. Penangkapan dan penembakan yang dilakukan terhadap Mako Tabuni(14/06/2012), kemudian siaran pers pihak Polda Papua yang dikeluarkan setelah penembakan Mako Tabuni jelas mengarahkan Mako dan Buktar juga KNPB sebagai tertuduh atas sejumlah aksi kekerasan termasuk beberapa aksi anarkis yang dilakukan oleh massa KNPB terhadap masyarakat lainnya.

Tentu saja pihak kepolisian harus menjunjungi tinggi proses penyelidikan dan penyidikan terutama pembuktian terhadap Buktar, Mako dan kelompoknya. Penembakan yang menyebabkan kematian Mako tentu bukan cara terbaik untuk dapat mengungkapkan rangkaian aksi yang disebut Wakapolda sebagai ‘sindikat’ dengan ‘kejahatan berdimensi ancaman tinggi’.

Kematian Mako seolah menutup satu sesi dari kewajiban pihak penyidik untuk mengungkapkan sindikat tersebut. Mengapa Mako ditembak hingga mati?. Mengapa Kapolda mengatakan Mako sebagai pelaku berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap Buktar Tabuni dan Tersangka lainnya yang sudah ditahan di polda Papua?. Mengapa begitu kematian Mako langsung disebutkan daftar dugaan keterlibatan Mako terhadap sejumlah aksi penembakan?. Bukankah keterangan Mako, yang hidup justru sangat diperlukan untuk mengungkapkan jaringan sindikat itu?. Akan sulit mendapatkan bukti yang maksimal dan tentu saja tidak ‘fair’, semua yang tidak jelas dengan mudah dialamatkan ke Mako.

Kondisi seperti ini justru membangun opini di luar hukum, di Papua, apakah proses hukum senantiasa ‘bersayap’ sehingga dapat memberikan intepretasi lain. Orang kemudian bisik-bisik : Siapa yang pahlawan, siapa yang berkhianat, siapa yang menjadi martir, siapa yang dikambinghitamkan, siapa yang dilindungi, apa dan siapa yang ditakuti sesungguhnya.

Harapan dan pikiran masyarakat terkesan tidak benar-benar pas dengan apa yang sudah dan sedang dikerjakan oleh pihak kepolisian. Polisi sudah merasa ada kemajuan dari proses pendalaman dan pengembangan penyelidikan.  Namun masyarakat belum mendapatkan situasi yang aman apalagi teror masih terus menyebar. Penembakan, pengrusakan, penganiayaan, pembakaran, penangkapan dan penembakan lagi, kembali membangkitkan ketakutan dan kemarahan masyarakat.

Masyarakat berharap pihak kepolisian melakukan pekerjaannya secara professional dan berani dalam mengatasi aksi penembakan dan aksi kekerasan lainnya. Tuduhan yang ditujukan pada kelompok atau pribadi tertentu harus disertai dengan bukti. Pihak kepolisian tidak saja mengungkapkan eksekutor dari berbagai aksi penembakan dan kekerasan lainnya tapi juga membongkar sindikat kejahatan berlapis yang selama ini meresahkan warga. Termasuk membongkar jaringan peredaran senjata yang diduga digunakan oleh eksekutor dalam menjalankan aksinya dan motif dari rangkaian aksi penembakan tersebut. Selain itu polisi juga harus memastikan adanya jaminan keamanan dan  perlindungan bagi seluruh warga di tanah Papua.

Di bagian lain, pemerintahan sipil (Gubernur,DPRP dan MRP) bersama tokoh agama dan tokoh masyarakat sebaiknya lebih peka dengan keresahan yang sedang dialami oleh masyarakat di Papua. Supaya masyarakat tidak menggunakan caranya sendiri untuk menyelesaikan persoalannya.(Andawat/AlDP)