Berita

Mama-Mama Menjual Sagu Untuk Membeli Beras

Yapen-Tingginya biaya hidup di Serui menyebabkan orang berusaha keras untuk memenuhi kebutuhan hidup keseharian terutama untuk kebutuhan makan minum, sebagaimana hasil blue print Kabupaten Yapen tahun 2008 bahwa 72% pendapatan warga habis digunakan untuk kebutuhan makanan.

Demikian hal yang dijalani oleh penjual sagu di pasar tradisional Serui. Adalah ibu Wely Reba dari kampung Randawaya Distrik Yapen Timur yang berjualan sagu sekitar seminggu sekali ke Serui. “Kadang dua minggu baru datang kembali ke sini untuk berjualan sagu. Karena saya bisa anyam noken karung (tas tradisional berbahan dasar karung plastik), sehingga jualan sagu menggunakan noken plastik, sementara penjual lain sudah menggunakan kantung plastic,”Katanya. Noken kecil ukuran 10-15 cm dengan lebar 15-20 cm dijualnya dengan harga 10 ribu sementara noken yang agak besar dijual 20 ribu.

“Hasil jualan saya pakai untuk biaya hidup sehari-hari karena saya ada buka kios di kampung. Selain itu untuk membiayai anak yang kuliah keperawatan di Jayapura,” kata ibu yang baru berusia 30 tahun. “Untuk memenuhi kehidupan suami juga kerja di kebun,” tambahnya.(24/04/2012).

Sekali jualan ke Serui  mama Welly Reba hanya bawa 1 karung kemudian dipindahkan ke 15 noken plastik dengan harga 10 ribu/noken  maka penghasilannya sebesar Rp/150.000 namun setelah dipotong dengan ongkos perahu pergi dan pulang (Rp.100.000) maka penghasilan bersihnya 50 ribu.Jualannya baru bisa habis dalam  2-3 hari.

Lain lagi Frederika Wayor yang membeli sagu dari Ansus-Yapen Barat sebanyak 1 karung seharga 150 ribu untuk kemudian diolah sehingga menjadi sagu kering. Adapun jenis olahannya berupa sagu kacang, sagu gula, sagu biasa yang berbentuk kotak sesuai dengan cetakan dan juga bambu. Sagu ini dijual 8 buah dalam 1 kantong plastic dengan harga 10 ribu.

“Hasil sagu kami pakai memenuhi kebutuhan harian karena kami 6 bersaudara. Selain itu untuk menunjang biaya saudara laki-laki kami yang sedang kuliah di Jayapura.Dulu kami menemani mama kami jualan sagu dan sekarang kami sendiri yang lakukan,” cerita perempuan yang bercita-cita ingin kuliah di keperawatan. Frederika  juga jualan sagu ketika kapal putih(Pelni) masuk ke Serui.

Mama Rani tinggal di Kaipuri juga berjualan sagu, tapi semua menggunakan cetakan bambu. Menurut pengakuannya dia selalu membawa cetakan kecil dari kampung karena sudah sulit mendapatkan bambu di kota. Mereka biasanya mengambil  bambu dari kampung Paparu (Sewenui) di Distrik Raimbawi.  Mama Rani  menghabiskan Rp. 200 ribu untuk ongkos pergi pulang dengan menggunakan perahu atau kapal perintis yang biayanya lebih murah,hanya 100 ribu. “Hasil jualan saya pakai beli beras,” ungkap wanita yang sudah berusia 50-an. “Kami kesulitan mendapatkan beras di kampung sehingga kami membawa sagu untuk kemudian membeli beras,”Ujarnya.(04/AlDP)