Mama Anace : Spirit perjuangan Pedagang Mama Papua

Mama Anace : Spirit perjuangan Pedagang Mama Papua

Mama Anace di tengah Kesibukannya

Sorong-“Rambutan satu tumpuk Rp 20.000”.Begitu kata mama Anace setiap kali para pembeli menghampiri jualannya. Ada yang membeli, ada yang  sekedar melihat-lihat  lalu berpaling begitu saja dan ada juga yang menawar hingga tercapai kesepakatan. Perempuan paruh baya ini menikmati rutinitasnya. “Begitu sudah anak tong ini kan hanya penjual jadi tong tra bisa putus asa kalau ada yang tra beli, “ kata Mama Anace dengan dialek Papuanya.

Agar percakapan kami semakin akrab dan sekaligus menghilangkan rasa penat. Kami pun membeli satu tumpuk buah rambutan. Tidak ada tawar-menawar lagi karena memang harga satu tumpuk rambutan sudah dipatok oleh mama Anace Rp 20.000. Patokan harga itu berdasarkan dari biaya transportasi untuk mengangkut buah rambutan dari rumah menuju pasar Remu  tempat ia berjualan sehari-harinya.

Mama Anace seperti kebanyakan mama –mama Papua lainnya yang berjualan di pasar Remu dan pasar tradisional lainnya di Papua berusaha  sekuat tenaga untuk menafkahi hidup anak-anaknya.termasuk biaya sekolah dan kebutuhan sehari-hari.

Selain membiayai anak-anaknya ternyata dia juga menampung saudara-saudaranya dari kampung dan jadilah ia sebagai tulang punggung keluarga. “Mama su lakukan hal ini su lama ee dari jualan ini sa su kasi makan banyak saudara dari kampung” . Ucapnya sambil tertawa seakan tiada kesan beban  berat yang ia pikul

Mama Anace pun lanjut bercerita. Bahwa jualan buah-buahan dan umbi-umbian ini telah ia lakukan sejak sebelum menikah hingga sekarang. Menurutnya berjualan seperti ini lah yang bisa dia lakukan.

Jadi meski pun di tinggalkan suaminya, kebutuhan anak-anak bisa tercukupi meski pun terasa berat memikul sendiri tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga dan sekaligus sebagai ibu rumah tangga. Mama Anace seorang janda yang diceraikan oleh suaminya 10 tahun yang lalu.

Anaknya ada 4 orang  dan semuanya  sekolah. Anak tertuanya sekolah Perawat di kota Sorong.  “Sa pu anak waktu itu masih kecil-kecil dan dia pu  bapak kasi tinggal kitorang ,tapi sa waktu su siap biayai sapu anak-anak karena saya ada tempat jualan,” Ungkapnya  dengan wajah yang sedikit sedih.

Sehari-hari mama Anace bisa mengantongi keuntungan bersih dari hasil penjualannnya sekitar Rp.150.000- Rp.350.000. Ketika kami menanyakan bagaimana cara menyimpan hasil keuntungan tersebut?. Dia menjawab, uang disimpan di salah satu Bank perkreditan yang berlokasi di sekitar pasar Remu Sorong.

Mama Anace punya cara untuk mengatur keuangannya. Pengaturan keuangan dimaksud agar dia bersama anak-anaknya bisa menikmati hidup layak, anak-anaknya bisa mengenyam pendidikan dan juga  dipergunakan untuk  kebutuhan modal jualan di pasar. “Bila sa dapat keuntungan sa tra kasi abis sapu uang , sa simpan di bank untuk kebutuhan hidup, sekolah dan modal jualan di pasar”. terangnya.

Mama Anace dan beberapa mama –mama Papua lainnya tidak pernah mendapatkan bantuan modal dari pemerintah. Baik itu bantuan dana Otsus mau pun bantuan lainnya. Awalnya pun dia berjualan dengan dana yang didapatkan dari kredit bank dan diangsur tiap bulan.

Dirinya seringkali mendapatkan informasi bahwa pemerintah akan memberikan bantuan dana khususnya bagi mama-mama Papua yang jualan di pasar Remu namun tidak pernah terlaksana. Terakhir mama Anace dan mama –mama lainnya dimintai KTP dari pemerintah kota Sorong dengan alasan akan diberikan bantuan modal namun hingga sekarang belum ada bantuan.

“Kitorang tra pernah dapat bantuan Otsus, bantuan lainnya ka, pokoknya kitorang tra pernah dapat .terakhir ada dari pemerintah minta kitorang pu KTP tapi sama saja sampai sekarang tra jelas juga jadi”. Ungkapnya dengan nada kesal.

Di akhir percakapan, Mama Anace hanya berharap kepada pemerintah agar dapat  memperhatikan dirinya dan mama papua lainnya terutama untuk fasilitas tempat jualan yang layak dan bantuan modal. Alasan sederhana yang ia ungkapkan cukup masuk akal bahwa mama-mama Papua juga berhak atas dana Otonomi khusus.

Kisah mama Anace dalam pergumulan di pasar tradisional bukanlah hal baru. Ada banyak kisah lainnya tentang pedagang mama papua yang berjuang hidup untuk keluarganya agar tetap eksis. Berjuang atas hak-hak sebagai warga, sebagai mama dan isteri yang bertanggung jawab. Dan berjuang untuk mendapatkan pengakuan, pemihakan, pemberdayaan dan perlindungan bagi orang asli Papua di atas tanahnya sendiri.

Perjuangan mama Anace patut menjadi teladan sekaligus diberikan apresiasi di tengah carut marutnya tata pemerintahan khususnya pelayanan publik, maraknya kasus korupsi yang dilakukan oleh para poilitisi dan birokrasi serta stigmatisasi negatif yang di alamatkan kepada orang asli Papua. Mama Anace memberikan spirit bahwa hidup adalah perjuangan tanpa henti-henti. Optimisme hidup yang dilaluinya membuatnya bisa bertahan.

Kami merasakan percakapan yang tiada ‘berjarak’, mengalir begitu saja. Seakan kami telah mengenalnya sudah cukup lama. Mungkin jika kami membeli buah rambutan di supermarket atau di Mall suasana kesahajaan, keramahan dan persaudaran tidak kami dapatkan.

Jika saja mama Anace dan mama Papua lainnya mendapatkan perhatian dari pemerintah maka mereka dapat melanjutkan usahanya dengan lebih maju. Mereka ada di pasar tradisonal, ada dimana-mana. Mudah dijumpai tapi mudah diabaikan. Selamat berjuang Mama Anace., selamat berjuang pedagang mama Papua.(Tim/ALDP).