Maju Mundur Koperasi Lehra, Koperasi Perbatasan

Maju Mundur Koperasi Lehra, Koperasi Perbatasan

Waris-Koperasi Lehra, salahsatu koperasi khusus wilayah perbatasan yang dibangun dari dana bantuan pemerintah pusat.  Koperasi ini dibangun pada tahun 1987 di Kampung Banda distrik Waris kab Keerom untuk melayani masyarakat di wilayah kampung Banda, Pun,  Kali Fam, Ampas, Kali Mo dan Kali Pao. Lehra dalam bahasa Waris berarti makmur atau sudah bagus.
Setelah sempat tidak beraktivitas lagi sejak tahun 1999. Tahun 2009 Koperasi ini mendapat dukungan dana lagi dari pusat sebesar 600 juta rupiah, yang mana 500 juta dipakai untuk bangunan koperasi dan 100 juta untuk pengadaan barang. Lagi-lagi pengurus yang dipilih sendiri oleh masyarakat ini menyalahgunakan uang hingga koperasi tutup total.
“Sekarang ini pusat masih minta pertanggungjawaban, tapi mau bagaimana? Ketuanya sudah meninggal. Ada sekertaris, bendahara, wakil, tapi dulu mereka tidak diajak dalam membuat keputusan” ungkap Markus May kepada AlDP,Markus adalah pengawas koperasi distrik Waris yang merupakan Pegawai Negeri Sipil di Dinas Koperasi, Industri, dan perdagangan Kabupaten Keerom (08/04/2012).
Tahun 2012 ini tepatnya bulan Februari, koperasi Lehra kembali mendapat bantuan dari pemerintah Daerah Keerom melalui Dinas Koperasi, Industri, dan Perdagangan (Koperindag). Kali ini bantuannya dalam bentuk barang yang jika dinominalkan mencapai 50 juta rupiah. Tetapi ada hal yang membuat para pengurus dan masyarakat sedikit kecewa dengan bantuan tersebut, karena harga barang yang ditentukan oleh Dinas Koperindag Kabupaten Keerom yang sangat mahal, bahkan jauh lebih mahal dibanding koperasi swadaya masyarakat.
Harga beras Dolog 15 kg misalnya, Dinas koperindag memberikan harga Rp143.000 padahal koperasi swadaya di kampung menjual Rp 110.000 dan Rp 120.000. “Ini mau bantu masyarakatkah atau mau potong leher masyarakat?” ujar Markus May. Sebagai pengawas dia sudah mengajukan keberatan kepada kepala dinas sehingga keluar kebijakan baru untuk menentukan harga sesuai dengan kondisi di kampung saja.
Belakangan diketahui bahwa ada barang-barang tersebut di beli dari toko Sawit Jaya di Arso.
 “Ya ini kan proyek, mungkin pegawainya kerjasama dengan toko biar bisa ambil untung” ujarnya lagi. Dia pun meminta agar jika pemerintah ingin membantu masyarakat, maka bantulah sepenuh hati, jangan melakukan pembohongan. Harga barang pun sudah disesuaikan dengan kios-kios swadaya masyarakat setempat. Beras yang tadinya berharga Rp 143.000 kini turun menjadi Rp105.000.
Keberadaan koperasi ini cukup membantu memenuhi kebutuhan masyarakat, bahkan bukan hanya masyarakat di Distrik Waris tetapi juga masyarakat negara tetangga PNG di sekitar wilayah perbatasan. Mereka biasanya datang ke koperasi ini untuk berbelanja. Harganya yang sedikit lebih rendah membuat mereka lebih memilih berbelanja di koperasi ini dari pada di kios swadaya masyarakat. Saat ini ada tiga petugas harian yang melayani masyarakat . Sayangnya hingga kini mereka belum mendapat pelatihan tentang manajemen koperasi.(01/AlDP)