LPMA Minta Tambang Degeuwo Ditutup

LPMA Minta Tambang Degeuwo Ditutup

Jayapura – Ketua Lembaga Pengembangan Masyarakat Adat Suku Wolani, Mee dan Moni, Kabupaten Paniai, Thobias Bogubau meminta kawasan penambangan rakyat di Degeuwo, ditutup. Kawasan tersebut menjadi biang keladi terjadinya sejumlah insiden berdarah.

“Harus ditutup, pemerintah dan kepolisian agar menghentikan aktivitas di daerah pertambangan Degeuwo,” kata Thobias Bogubau, Selasa.

Ia mengatakan, akibat dibukanya tambang, penyakit HIV AIDS meningkat luas di masyarakat. Terjadi pula beberapa insiden penembakan yang menewaskan warga serta tingginya perusakan lingkungan tak terkendali. “Akibat ada tambang itu, kemarin lima orang ditembak di Degeuwo, ini salah siapa, permintaan ditutup itu sudah dari dulu, tapi pengusaha tetap saja jalan,” ujarnya.

Penutupan tambang merupakan langkah bijak untuk mengembalikan hak masyarakat. Tambang Degeuwo, kata Thobias, bukan untuk pengusaha besar. “Kalau dibiarkan, masyarakat tidak akan dapat apa-apa, lebih baik ditutup, artinya kita meghindari dampak yang lebih besar dikemudian hari.”

Penembakan warga terjadi di kampung Nomowadide, Distrik Bogobaida, Kabupaten Paniai, Selasa 15 Mei 2012 lalu. Insiden itu menewaskan Malianus Kegepe, tertembak di bagian dada. Tiga terluka, diantaranya Lukas Kegepe tertembak bagian perut, Amos Kegepe luka tembak bagian kaki, dan Alpius Kegepe terkena dilengan kanan.

“Komunitas mahasiswa dan Lembaga Pengembangan Masyarakat Adat Suku Wolani, Mee dan Moni, tidak menerima adanya penembakan. Masalah ini harus diusut tuntas,” kata Thobias.

Peristiwa itu bermula dari keributan di rumah biliard milik Yona di Nomowadide. Yona kemudian melaporkan kejadian itu ke Pos Brimob terdekat. Tidak berapa lama, sekitar tiga anggota Brimob datang dengan senjata lengkap dan meminta pelaku korban tenang. Peringatan itu tak digubris. Tiba-tiba seorang dari antaranya menyerang anggota Brimob menggunakan stik billiard. Saat itulah seorang anggota meletuskan senjata dan mengenai korban.

Direktur Reserse Umum Kepolisian Daerah Papua, Komisaris Besar Polisi Wachyono mengatakan pihaknya telah menurunkan tim terdiri dari Kabid Propam, Kasat Brimob dan dari Reskrim Umum Polda Papua untuk menyelidiki kasus tersebut. “Hasilnya akan disampaikan, kita tunggu saja,” ujarnya. (02/AlDP)