Linus Hiluka dkk Keluar Dari Penjara Kecil Menuju Penjara Besar

Linus Hiluka dkk Keluar Dari Penjara Kecil Menuju Penjara Besar

Napol makar LP Makasar 2005Jayapura – Hari ini Presiden republik Indonesia Bapak Ir.H Joko Widodo memberikan Grasi kepada narapidana Politik dari peristiwa tanggal 3 April 2003 di Wamena. Kami menyampaikan terima kasih dan mengapresiasi keputusan presiden dalam konteks membangun kehidupan berdemokrasi yang lebih baik di Indonesia.

Tahun 2003, terhadap proses hukum mereka, Pengadilan Negeri Wamena memvonis Yafrai Murib dan Numbungga Telenggen dan Kanius Murib hukuman Seumur hidup kemudian Linus Hiluka, Apotnaholik Lokobal, Kimanus Wenda dan Mikael Heselo hukuman 20 tahun penjara.

Pada desember 2004, Yafrai Murib (seumur hidup) , Numbungga Telenggen (seumur hidup), Linus Hiluka(20 tahun), Apotnaholik Lokobal(20 tahun) , Kimanus Wenda(20 tahun) dan Mikael Heselo(20 tahun) dipindahkan ke Lapas Gunung Sari Makasar, hanya Kanius Murib yang tidak dipindahkan dengan pertimbangan usia yang sudah tua. Pemindahan paksa ini telah melahirkan advokasi yang panjang untuk memperjuangkan mereka dikembalikan ke Papua. Hukuman Kanius Murib sempat dialihkan/diubah dari hukuman seumur hidup menjadi hukuman penjara 20 tahun.

Agustus 2007, Mikael Haselo meninggal dunia di rumah sakit Bayangkara Makasar setelah sakit sekitar 1 bulan. Jenasah Mikael Haselo dijemput dan dibawa oleh Komisi F DPRP ke kampungnya di Anjelma Kurima Yahokimo. Bulan Januari 2008 permohonan pemindahan mereka dikabulkan oleh Dirjen PAS Kementrian hukum dan HAM RI tapi tidak ke Wamena. Linus Hiluka dan Kimanus Wenda di Lapas Nabire sedangkan Yafrai Murib, Numbungga Telenggen dan Apotnaholik Lokobal di Lapas Biak.

10 Desember 2011, Kanius Murib meninggal dunia setelah beberapa bulan sebelumnya pihak Lapas Wamena telah menyerahkan Kanius kepada keluarganya untuk dirawat atas permintaan keluarga. Tahun 2012 Kimanus Wenda mengalami tumor kecil dan harus dioperasi. Kimanus dititip sementara di Lapas Abepura, Kimanus operasi dan berobat di RS Dian Harapan, Kimanus kembali di Jayapura sekitar 3(tiga) bulan (Pebruari-Mei 2012) kemudian dipulangkan kembali ke Lapas Nabire. Di tahun yang sama Yafrai Murib mengalami stroke dan dizinkan berobat sekaligus dipindahkan ke Lapas Abepura.Yafrai Murib menjalani pengobatan dan fisioterapi rutin (setiap minggu) di RS Dian Harapan dan kemudian pindah ke RSUD Jayapura hingga hari pembebasannya.

Maka Linus Hiluka dan Kimanus Wenda di Lapas Nabire, Numbungga Telenggen dan Apotnakolik Lokobal di Lapas Biak dan Yafrai Murib di Lapas Abepura.

Mereka berlima adalah narapidana politik terlama/tertua yang menghuni Lembaga Pemasyarakatan dengan hukuman pidana yang sangat tinggi. Mereka juga mengalami pemindahan dari satu Lapas ke lain Lapas. Mengingatkan kita ketika jaman Belanda dimana tahanan atau narapidana dipindahkan dari Batavia ke Holandia dan di jaman kini ada tradisi dari Holandia ke Batavia atau ke tempat lainnya di luar Papua.

Hari ini tanggal 9 Mei 2015 mereka diberikan Grasi oleh presiden RI Ir.H.Joko Widodo, mereka keluar dari penjara kecil ke penjara besar. Mereka mengalami begitu banyak tantangan. Berbagai langkah hukum dan kemanusiaan telah mereka tempuh, mereka berharap akan menjadi lebih bermanfaat jika mereka di luar penjara.

Grasi yang diberikan menunjukkan langkah maju suatu pemerintahan yang menjunjung tinggi kehidupan demokrasi oleh karena itu kami berharap langkah maju ini hendaknya diikuti dengan langkah maju berikutnya. Pemerintah menjunjung tinggi kehidupan demokrasi, menciptakan demokrasi dan menjadi contoh bagi demokrasi terbaik di dunia dengan membuka ruang kebebasan berekspresi, mengembangkan tradisi dialog tanpa kekerasan dan membebaskan tahanan politik dan narapidana politik lainnya yang masih berada di berbagai Lembaga Pemasyarakatan.

Kami menyampaikan terima kasih kepada Presiden Republik Indonesia, terima kasih atas peran semua pihak terutama pihak Kementrian Hukum dan HAM hingga jajarannya di tingkat Kanwil dan Lembaga Pemasyarakatan. Kami berterima kasih kepada berbagai pihak di lokal, nasional dan internasional yang telah memberikan perhatian kepada mereka. Sekali lagi atas nama para narapidana dan tim Penasehat hukum serta koalisi yang mendampingi mereka, kami sampaikan terima kasih.

 

Lapas Abepura, 9 Mei 2015

An. Tim Penasehat Hukum

Latifah Anum Siregar,SH,MH