Lima SD di Dogiyai Tak Punya Guru

Warga Dogiyai

Dogiyai – Lima Sekolah Dasar di Kabupaten Dogiyai, Papua, tak dapat melaksanakan proses belajar mengajar.

Kekurangan guru menjadi penyebab utama tiadanya aktivitas sekolah. “Tidak ada guru pak, disini (Dogiyai) guru terbatas,” kata Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Dogiyai, Yulianus Boga, Kamis.

Ia mengatakan, sekolah di Dogiyai yang minim tenaga pengajar diantaranya SD Inpres Apou, SD Inpres Pagoda, SD Inpres Yedeyepa, dan SD YPPK Apowo. Sekolah tersebut terletak jauh di pedalaman dan sulit dijangkau. “Setiap tahun ada penerimaan guru, tapi itu tidak cukup, DPRD melihat kondisi pendidikan di Dogiyai penuh masalah,” ujarnya.

SD di daerah terpencil itu hanya terdiri dari bangunan kosong dengan sedikit fasilitas. “Bukan sekolah besar, kalau perpustakaan atau ruang bagus, tidak ada,” kata Boga.

Menurut dia, pemerintah Kabupaten Dogiyai memprioritaskan pendidikan dan kesehatan sebagai bagian utama pembangunan. “Anak-anak harus sekolah, untuk bisa belajar, anak juga harus sehat, kalau sehat dan pintar, untuk membangun ke depan, bisa lebih baik,” ucapnya.

Boga mengaku, keterbatasan guru telah berimbas pada sulitnya anak mengenyam bangku pendidikan layak. “Tapi kita juga mohon dimaklumi, Dogiyai ini daerah yang baru dimekarkan, tidak bisa semuanya langsung jadi, pembangunan pendidikan perlu bertahap,” katanya lagi.

Kabupaten Dogiyai dulunya merupakan bagian dari Kabupaten Nabire. Pusat pemerintahan Dogiyai secara definitif berada di Kigamani, Distrik Kamu.

Kabupaten ini dibentuk pada tanggal 4 Januari 2008 berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2008, bersama-sama dengan pembentukan 5 kabupaten lainnya di Papua. Peresmiannya dilakukan oleh Mendagri Mardiyanto pada 20 Juni 2008 di Nabire. (JO/Jayapura)