Laut Raja Ampat Harus Dijaga dari Pencurian

Laut Raja Ampat Harus Dijaga dari Pencurian

Raja Ampat – Albert Nebore, Program Manager Conservation International (CI) di Raja Ampat, Papua Barat mengatakan, perlu upaya ekstra untuk menjaga laut Raja Ampat dari aktivitas pencurian ikan. Kasus pencurian terakhir terjadi akhir April 2012, dilakukan 7 kapal berisi 33 nelayan yang mengambil biota laut serta Hiu dalam jumlah besar.

“Semua pihak berperan, CI bersama pemerintah dan masyarakat sudah melakukan ini sejak beberapa tahun, tapi sejujurnya bahwa untuk menjaga laut tetap lestari, siapa saja punya tanggungjawab untuk itu,” kata Albert Nebore, pekan lalu.

Menurutnya, laut menyediakan banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Laut yang sehat akan memberi dampak pada kesehatan seluruh planet bumi. “Laut dan hutan harus dijaga, kalau laut sehat, hutan tidak, sama saja, keduanya perlu dijaga dengan tidak ada batasnya,” ujarnya.

Laut Raja Ampat dikenal karena memiliki terumbu karang terlengkap di dunia. Dari 537 jenis karang dunia, 75 persennya berada di perairan ini. Ditemukan pula 1.104 jenis ikan, 669 jenis moluska (hewan lunak), dan 537 jenis hewan karang. “Bayangkan saja kalau semua itu rusak, tugas CI adalah bagaimana memonitor, ikut serta dan terjun langsung dalam penyelamatan laut di Raja Ampat, bagaimana kita harus punya kepedulian bersama,” ucapnya.

Di Raja Ampat, terdapat dua lembaga internasional yang konsen pada kelestarian laut. Yaitu The Nature Conservancy (TNC) dan CI. Keduanya bekerja sama untuk beberapa pekerjaan perlindungan satwa. CI bekerja di wilayah seluas 183.000 km di Kawasan Konservasi Laut Daerah Kaimana, Selat Dampir, Teluk Mayalibit, Ayau dan Pulau Wayag. Sementara, TNC membantu pemerintah lokal dalam merancang rencana pengelolaan dan zonasi untuk dua Kawasan Konservasi Laut (KKL) yaitu Kofiau dan Misool, yang resmi berdiri pada bulan Desember 2006.

TNC memulai kemitraan dengan Pemerintah Indonesia melalui pengenalan perencanaan pengelolaan partisipatif di Taman Nasional Lore Lindu dan Komodo di tahun 1991 dan 1995.

Selain perlindungan yang dikerjakan dua lembaga tersebut, pemerintah sendiri telah menetapkan laut sekitar Waigeo Selatan, yang meliputi pulau-pulau kecil seperti Gam, Mansuar, kelompok Yeben dan kelompok Batang Pele, sebagai Suaka Margasatwa Laut. Menurut SK Menhut No. 81/KptsII/1993, luas wilayah ini mencapai 60.000 hektar. “CI hanya sampai 2015 di Raja Ampat, jika pemerintah memperpanjang kontrak, ini sesuatu yang baik agar pengawasan terhadap laut terus terjaga,” katanya.

Ia berharap pengawasan terhadap laut tidak dilakukan oleh CI atau TNC saja. “Semua berperan, ada beberapa kawasan laut di Papua yang sudah rusak, apa kita ingin itu terjadi di Raja Ampat, tentu tidak,” pungkasnya. (02/ALDP)

  • Caca

    Saya sadar dengan amat sangat bahwa perusakan salah satu “surga” indo ini merupakan tindakan konyol. *Manusia yg tak ber*tak itu haruslah menyadari !*
    negara lain mana punya yg beginian, bangga dong dengan tanah air.