Laporan Hasil Pemantauan Pemilu Legislatif 09 April 2014 di Kabupaten Jayawijaya

Laporan Hasil Pemantauan Pemilu Legislatif 09 April 2014 di Kabupaten Jayawijaya

Pada Rabu, 09 April 2014, Tim Pemantau Independen Pemilu Legislatif yang merupakan gabungan dari sekelompok relawan melakukan pemantauan di empat Daerah Pemilihan (Dapil) di Kabupaten Jayawijaya. Untuk Dapil I Pemantauan dilakukan di Distrik Wamena Kota dan Distrik Wesaput; Dapil II di Distrik Asolokobal, Asotipo, Musatfak, Maima, Pelebaga, Hubikosi, Distrik Napua; Dapil III di Distrik Asologaima; Dapil IV di Distrik Bolakme dan Yalengga. Pemantauan intensif dilakukan selama 3 hari yakni tanggal 8,9 dan 10 April 2014 dengan cara mengumpulkan data, mengunjungi TPS-TPS, mengamati, melakukan wawancara dengan petugas dan masyarakat yang ikut memilih. Berbagai masalah ditemukan; ada yang spesifik terjadi di tempat tertentu dan ada juga yang umum dan terjadi di banyak TPS yang terpantau

I.   Peraturan yang dilanggar

  1.  Daftar Pemilih Tetap (DPT)

Temuan :

  • Nama di DPT tidak sesuai dengan nama penduduk setempat ditemukan TPS I Distrik Napua kampung Napua dan TPS 15 Distrik Wamena Kota
  • Jumlah DPT tidak sesuai dengan jumlah pemilih setempat juga terjadi dan ditemukan di TPS Hepuba distrik Asolokobal di mana terdapat 1.000 lebih DPT sementara pemilih kurang dari 400 orang. Di Wiaima distrik Asolokobal ada 823 pemilih pada DPT, sementara jumlah pemilih hanya 300 orang; TPS 1 dan 2 Desa Walak Distrik Asologaima. Di Desa Hesatum distrik Asolokobal ada 3 TPS dengan jumlah Surat Suara sebanyak 1000 lebih sedangkan jumlah pemilih hanya 200 orang.

2.    Surat Suara

Temuan :

  • Surat suara lebih banyak dari jumlah pemilih setempat ditemukan di beberapa tempat, antara lain:  Kampung Tikawo Distrik Asologaima DPT 544 orang namun hanya 47 orang pemilih yang hadir. Kampung Wetalak Distrik Pelebaga 354 surat suara yang memilih 107 orang;  masalah yang sama juga terjadi TPS 1 dan 2 desa Walak Distrik Asologaima.
  • Jumlah surat suara yang didapat lebih sedikit dari jumlah pemilih setempat  ditemukan di TPS 1 Kelurahan Wesaput Distrik Wesaput. Menurut lurah setempat ada lebih dari 1000 pemilih namun hanya menerima 400-an surat suara sehingga banyak masyarakat yang tidak menggunakan hak suaranya.
  • Surat suara untuk DPR Kabupaten hilang  terjadi di TPS 7 depan Hotel Baliem Pilamo Distrik Wamena Kota.
  • Surat suara yang sudah dicoblos lebih dulu terjadi di TPS 15 Gang Nirwana Distrik Wamena Kota dan di Kampung Kobolakma Distrik Asotipo. Surat suara yang sudah dicoblos untuk DPRD Kabupaten.
  • Surat suara sisa :  Di beberapa tempat seperti Wesaput, Asotipo dan Musatfak surat suara sisa langsung dibagi secara merata kepada caleg-caleg yang berasal dari wilayah setempat; sedangkan di beberapa lain seperti di TPS SD YPK Distrik Wamena Kota, surat suara sisa menimbulkan keributan antara petugas dan masyarakat yang datang memilih; Di Sinaput pemilih untuk surat suara sisa dipilih petugas. Sedangkan di Miligatmen Asologaima, surat suara sisa mau diberikan kepada caleg orang asli yang berasal dari distrik tersebut, sebagaimana disampaikan oleh petugas KPPS setempat.

3.    Tempat Pemilihan Suara (TPS)

  • TPS yang tidak dibuka terjadi di Kampung Kosilapok Distrik Hubukosi. Diduga suara sudah diamankan untuk salah satu caleg dari kampung itu sehari sebelumnya. Hal yang sama terjadi di TPS depan kantor Pemberdayaan; di Autakma kelurahan Sinakma Distrik Wamena Kota.
  • Dalam satu tempat terdapat lebih dari satu TPS  yaitu TPS1-3 di Desa Otliluk, TPS 1-3 di Kampung Asolokobal Distrik Asolokobal, TPS 1-3 di desa Hesatum distrik Asolokogal, TPS 1-3- desa Hepuba di  distrik Asolokobal, Milagatnem, Walak, Tikawo, Arabodha Distrik Asologaima. Lokasi tersebut luasnya sekitar 6 meter x 6 meter untuk 3 TPS. Sehingga letakanya sangat sempit dan tidak beraturan  termasuk letak kotak suara, tidak ada batasan antara masing-masing TPS.
  • Penumpukan pemilih dalam satu TPS ditemukan di TPS 2 Hom-Hom di mana terdapat DPT 1800 orang.
  • Penumpukan pemilih mulai dari antri Surat Suara, bilik coblos hingga saat melipat Surat Suara terjadi di TPS 12 SD YPK distrik Wamena Kota
  • Letak bilik coblos yang bergabung dengan letak kotak suara terjadi TPS 15 Jalan Nirwana Distrik Wamena Kota sehingga tidak ada kerahasiaan karena pemilih dalam jumlah banyak berada pada lokasi yang sama dan saling berdesak-desakan.
  • TPS tidak memiliki bilik suara dan masyarakat mencoblos berkelompok terjadi di TPS 1 Lapangan Tenis Jl. Irian atas Distrik Wamena Kota

4.    Panitia Pemilihan Suara (PPS)

  • Panitia Pemilihan tidak lengkap di TPS terjadi di TPS 4 Kantor Pertanian dan Tanaman Pangan, TPS 15 Jalan Nirwana Distrik Wamena Kota; Di Kampung Napua Distrik Napua TPS1 Kepala Desa sendiri yang menjadi PPS, TPS 7 tidak ada panitia dan persiapan.
  • Petugas tidak paham hal-hal teknis pemilihan, misalkan menggunakan KTP atau DPT, fungsi 4 kotak suara KPU, pemisahan letak bilik suara dan kotak suara, fungsi tinta, mengecek tinta pada jari pemilih yang datang, cara pencoblosan. Di Kimbim Pemilih tidak langsung diberikan 4 kertas surat suara bersamaan tapi diberikan satu persatu,  DPR Kabupaten terlebih dahulu baru panggil lagi untuk DPRP dan seterusnya. Di Kampung Tikawo, Petugas dan kepala Desa menanyakan pemantau “kenapa ada 4 kotak?”.
  • Petugas tidak netral: Di depan bilik suara, KPPS mengarahkan pemilih untuk memilih calon tertentu dari distrik setempat seperti di distrik Asolokobal. Di TPS Hepuba, distrik Asolokobal sebelum memulai pemilihan, ketua KPPS memberikan pengarahan sambil membuka surat suara kabupaten dan menunjukkan/menyebutkan nomor dan partai pemilih yang berasal dari distrik setempat.
  • Di beberapa Formulir C1 tidak ditunjukkan, diberikan ataupun ditandatangani oleh Saksi

 

5.    Pemilih

  • Pemilih di bawah umur ditemukan Otliluk, di Pusat Distrik di Kimbim, desa Hesatum distrik Asolokobal dan di beberapa TPS di Kota(TPS 12 SD YPK).
  • Pemilih yang mencoblos lebih dari satu kali terjadi di TPS 12 SD YPK dan TPS 7. Bahkan ada kelompok orang yang digerakkan oleh caleg tertentu untuk melakukan coblos keliling.
  • Pemilih yang tidak tahu cara mencoblos. Untuk mengatasi pemilih seperti ini di Asotipo dan Kimbim petugas melakukan cara-cara seperti menanyakan siapa yang akan dipilih, lalu memanggil saksi dari partai atau caleg yang dipilh untuk membantu mencoblos

6.    Saksi

  • Saksi tidak ada di TPS ditemukan di TPS 1 dan 2 Desa Walak Distrik Asologaima
  • Saksi tidak lengkap banyak TPS antara lain: TPS 1-3 Hepuba, TPS 1-3 Otliluk, Asotipo, TPS 18 Oikumerek Asso, TPS 4 Distrik Bolakme
  • Saksi merangkap menjadi Panitia Pemeilihan Suara (TPS 4 Dinas Pertanian dan tanaman pangan)
  • Saksi tidak diijinkan masuk tanpa alasan terjadi di Kampung Autakma Distrik Wamena Kota, Kampung Tikawo dan Kosili Distrik Asologaima; saksi tidak diijinkan masuk karena terlambat di Honai lama Distrik Wamena Kota; Ada pengusiran terhadap saksi seperti yang dialami Saksi dari PDIP tidak dijinkan masuk di Asolokobal dengan alasan karena berasal dari  distrik lain yakni distrik Asotipo dan tidak membawa surat rekomendasi kepala kampung dan kepala Distrik.

 

  1. 7.    Waktu pelaksanaan
  • Ada TPS yang memulai pencoblosan di atas pukul 09:00 WP.  TPS  7 Distrik Wamena Kota hingga pukul 12:00 belum melaksanakan pencoblosan karena tidak ada kertas suara DPR Kabupaten,  TPS I  Distrik Napua kampung Napua jam 11 tidak mulai karena DPT tidak sesuai dengan nama; Elabokama Distrik Musatfak. Jam 12 baru mulai buka TPS. TPS di Kampug Tikawo Distrik Asologaima baru mulai pencoblosan Pukul 11:30.
  • Ada juga TPS yang ditutup sebelum Pukul 13:00 meskipun masih ada masyarakat yang belum memilih yaitu TPS di Kampung Kobiakma distrik Asotipo; TPS PLN, TPS Dian Aksari Distrik Wamena Kota. Di TPS Kobiakma bahkan pukul 10.00 pagi TPS sudah ditutup dengan alasan surat suara sudah habis.
  • Ada TPS yang melaksanakan pemilihan melebihi batas waktu pemilihan yaitu lewat dari pukul 13:00. Miligatnem baru selesai pada pukul 14:30; Araboda 15:30 masih pemilihan, TPS di SMA Negeri I Wamena
  • TPS di Pasar Sinakma yang dibatasi pemilihnya oleh anak-anak setempat
  • Ada informasi bahwa TPS yang tutup lebih dulu diperintah untuk mengedarkan surat suara dalam jumlah sedikit yakni sekitar 100 surat suara atau karena pada malam hari sebelum pemilihan surat suara sudah dicoblos terlebih dahulu.

8.    Petugas Keamanan

  • Petugas keamanan tidak menyebar secara merata. TPS I Kampung Napua Distrik Napua yang aparat kemananan berjumlah 10 orang sementara di TPS 2 yang berdekatan sama sekali tidak ada petugas keamanan. Di pusat Kabupaten yaitu  TPS 4 Di depan Kantor Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan tidak ada petugas keamanan yang membuat petugas PPS kesulitan menertibkan masyarakat yang datang memilih.
  • Petugas keamanan tidak berda dekat lokasi TPS, hanya berdiri di pinggir jalan kemudian tidak memperhatikan atau membiarkan  pelanggaran yang terjadi  seperti di TPS terjadi di Asotipo Distrik Asotipo, Asolokobal, Megapura di Sinata dan Mulinegama
  • Petugas keamanan tidak mengikuti proses penghitungan suara terjadi TPS Di Kampung Sinata.

 

9.    KPU dan Pemantau

  • Di TPS terdapat pemantau dari Panwaslu dan KPU namun tidak menanggapi pelanggaran yang terjadi di TPS
  • Petugas PPL tidak ditemukan di setiap TPS.

II.        Tata Laksana Pemilihan

  • Ada TPS yang menggunakan Surat Undangan dan menerima KTP; ada TPS yang hanya menggunakan Surat Undangan  dan ada yang tidak menggunakan keduanya, terutama di TPS di sekitar distrik Asolokobal dengan alasan bahwa mereka mengenal setiap penduduk setempat.
  • Ada tempat yang hanya melakukan Pemilihan DPR Kabupaten saja seperti di sebagian besar TPS di distrik Asolokobal dan distrik Asotipo seperti di desa Sogokmo, Pobiakma, Hepuba kemudian di Wetalak Distrik Pelebaga, Napua dan Sapalek Distrik Napua, Miliagtnem Distrik . Petugas KPPS menyampaikan alasan-alasan antara lain bahwa Kertas Suara sangat rumit, pemilih tidak memiliki kemampuan membaca dan  pemilih tidak mengenal calon dengan baik sehingga dierahkan atau pihak KPPS mengambil kebijakan untuk mewakili pemilih untuk menentukan calon propinsi dan pusat. Ada juga alasan lain yang menyebutkan bahwa surat suara tersebut akan diputuskan pejabat penting yang akan diberikan kepada calon tertentu.
  • Ada yang melakukan juga melakukan pemilihan DPR Provinsi jika  di tempat tersebut terdapat caleg Provinsi misalkan di Wouma dan desa Hesatum di Asolokobal.
  • Sistem pemilihan menggunakan noken juga ditemukan terutama di dapil 2,3 da 4, dengan cara yang berbeda-beda:
  •  Kampung Sapalek Distrik Napua disediakan 8 noken sesuai dengan banyaknya caleg yang dikenal masyarakat setempat. Selanjutnya masyarakat memasukkan kertas suara ke dalam noken tanpa dicoblos terlebih dahulu. Praktek yang sama ada di Sogokmo distrik Asotipo
  • Di Distrik Hubikosi Kampung Kulagaima disediakan 9 noken mewakili jumlah partai kemudian petugas akan memanggil lima orang untuk partai tertentu, dipersilahkan memasukan surat suara ke dalam noken, kemudian bergantian 5 orang untuk partai yang lain.
  • Di Miligatnem TPS 1 ada 12 noken berdasarkan jumlah partai sedangkan Miligatnem TPS 2 ada 14 noken berasal dari 12 partai dan  2 caleg.
  • Jika Pemilih tidak mengentahui noken yang akan dtujukan maka pemilih akan menanyakan ke petugas KPPS, kemudian setelah memasukan  suara maka saksi akan menanyakan dan mencatat nama pemilih seperti terjadi di TPS di Sogokmo distrik Asotipo.
  • Kondisi ini menunjukkan  bahwa sistem nokne yang dilakukan belum seragam sebab masih sangat tergantung pada pehamanan dan kesediaan dari petugas petugas KPP, Caleg yang tidak memiliki saksi tidak akan mendapatkan suara sebab tidak memiliki noken ; akurasi jumlah suara makin sulit sebab bisnaya surat suara dalam noken tidak dihitung secara terbuka apalagi dicoblos di muka umum.

III.        Kondisi Masyarakat

    1. Tidak adanya kerahasiaan saat memilih membuat hubungan baik antara keluarga menjadi rusak apalagi saat pemilihan terutama yang menggunakan sistem noken, saksi mencatat nama masyarakat yang memilih calon atau partainya.
    2. Mobilisasi kelompok tertentu untuk mencoblos dari satu tempat ke tempat lain terjadi di Kota Wamena. Ada sekelompok Anak Muda mengaku dibayar oleh caleg tertentu untuk melakukan pencoblosan keliling. Tinta yang muda terhapus, serta pemilihan menggunakan KTP bahkan hanya mendaftar nama membuat kelompok ini leluasa bergerak.
    3. Suara masyarakat terutama untuk Provinsi, DPD dan DPR RI dijual; Di TPS 4 Distrik Bolakme DPD dan DPR Pusat dijual;  Sapalek Distrik Napua dan Distrik Asolokobal
    4. Para kepala kampung diintimidasi, kepala kampung mengintimidasi masyarakat dan petugas: Di Distrik di Dapil II ditemukan Kepala Kampung yang menyampaikan bahwa suara caleg propinsi untuk istri pejabat penting di Jayawijaya. Sebanyak 500 Suara untuk provinsi diamankan untuk caleg tersebut dan sisanya dibagi untuk caleg lain
    5. Masyarakat diminta untuk memilih calon tertentu terjadi di Kimbim
    6. Ada caleg yang mengunjungi TPS untuk meminta suara pada saat proses pemilihan sedang berlangsung, terjadi di Distri Asologaima kampung Tikawo

Kasus Khusus:

Calon dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) atas nama Ternius Jikwa nomor urut 10 untuk DPR Kabupaten tidak muncul namanya dalam kertas suara.

Rekomendasi

Penegakan Hukum terhadap pihak-pihak yang melakukan pelanggaran administratif dan pidana di setiap level : Penyelenggara pemilu (KPU dan Panwaslu), Partai Politik, Caleg atau pihak lain yang terlibat.

Wamena,12 April 2014

(Pemantau Independen Honorogo, YTHP, ALDP, dan Nino Viartasiwi).