Berita

Laki-Laki Pengumpul Pasir di Mannainumi

Serui-Pak Arera adalah seorang pengumpul pasir di kali Mannainumi di bagian kampung Famboaman,Serui. Meskipun usianya menginjak 55 tahun namun dia tetap semangat bekerja demi memenuhi kehidupan sehari-hari.”Karena hanya ini kerja yang bisa saya lakukan,” kata pria pensiunan kantor Bulog.(26/04/2012).

Dalam sehari dia hanya bisa mengumpulkan 1 kubik yang dihargai 100 ribu. Proses mengumpulkan pasir dimulai dengan mengambil dari kali, kemudian dikeringkan lalu diayak lagi agar lebih halus. “Kadang 2-3 hari baru pasir kami terjual, tambahnya.Dia juga mendapatkan semacam fee dari pihak perusahaan yang mengambil material di kali sebab Arera adalah pemilik kali tersebut.Sehingga Arera mendapatkan Rp.20 ribu per truk.

Lain lagi celoteh Asaribab, laki-laki dari Biak ini yang juga tinggal di pinggiran kali Mannainumi. “Dari kerajinan tiap orang saja, karena biasanya saya bisa dapat 1,5 kubik tiap hari. Sehingga besoknya kami bisa dapatkan hingga 3 kubik,” ketika ditanya berapa kubik pasir yang berhasil terjual per harinya. Asaribab selalu khawatir ketika mobil tidak bisa datang mengambil material di kali sebab bisa 3-4 hari baru pasir mereka terjual.Apalagi ketika terjadi banjir, “Maka kami hanya pasrah karena pasir yang sudah dikumpulkan akan hanyut, ini sudah resiko pekerjaan,”tukasnya.

Hal senada dikatakan Levi Sasaray, mahasiswa fakultas MIPA UNIPA yang sedang cuti  karena terhambat biaya kuliah.Levi harus pulang dulu ke Serui untuk mencari biaya tambahan sebab orang tuanya sudah tidak mampu membiayainya.Levi menargertkan mampu mengumpulkan 1 kubik pasir/hari sebab jika ada waktu sisa digunakannya untuk membantu tantenya mengumpulkan pasir

Selain membiayai kuliah Levi harus menghidupi keluarganya terutama untuk biaya susu anaknya yang baru berusia 1 tahun.Katanya“Pekerjaan ini saya lakukan tidak sering karena hari lainnya kami mengerjakan kebun yang jauhnya hampir 5 Km kearah gunung. Hasil kebun inilah yang saya pakai untuk berjualan di pasar”.

Para pengumpul pasir pernah mendapatkan bantuan dari Dinas Perindakop berupa sekop, pekuel, gerobak. Sementara untuk ayakan pasir kami beli sendiri kawatnya lalu kami anyam lagi sehingga pasir bisa dipisah dengan kerikil yang besar,” Ujarnya santai.(04/AlDP)