Kurang Petugas, Masalah Utama Lapas Timika

Timika – Martinus Nuboba, Kepala Kesatuan Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (KPLP) Lapas Klas II B Timika mengatakan, petugas LP Timika jauh dari cukup.

“Petugas kita hanya enam belas orang, jadi pakai system rolling, ada yang jaga dari malam sampai pagi, ada yang pagi sampai sore,” ujarnya. Kurang petugas tak menghambat kerja LP. Meski minim, tak pernah terjadi kasus pelarian napi di LP Timika. “Dulu pernah, tapi itu sudah kembali semua,” katanya lagi.

Idealnya, dalam sebuah LP, seorang petugas mengawal lima orang napi. Perbandingan jauh jumlah petugas dan napi dapat memicu timbulnya kasus pelarian. “Kita tidak. Kalau ada kabar bahwa LP lain selalu napi kabur, syukur kita aman saja,” ucapnya.

LP Timika satu-satunya Lembaga Pemasyarakatan yang tidak over kapasitas. LP tersebut memiliki daya tampung hingga 300 orang. “Sekarang ada 120 napi dan tahanan, itu gabungan, ada juga tahanan anak, tapi belum ada penjara sendiri untuk anak,” katanya.

Di hari Sabtu dan Minggu, aktivitas LP agak berkurang. Hanya beberapa petugas saja berjaga. Ketika dikunjungi Aliansi Demokrasi untuk Papua Sabtu lalu, jendela kantor LP tertutup rapat. “Kita tinggal dekat, jadi bolak balik, kalau siang, kita pulang sebentar, tapi bukan sama sekali kosong,” kata Nuboba.

Ia menambahkan, pembinaan bagi napi dilakukan tiap waktu. Metode pembinaan berubah dari kekerasan di jaman dulu menjadi pendekatan yang lebih manusiawi. “LP itu bukan tempat memukul, ada banyak cara merubah napi, sehingga setelah bebas, mereka bisa bekerja dan kembali ke masyarakat,” pungkasnya. (JO/Jayapura)