Kondisi Emosi Mempengaruhi Proses Fisioterapi

Kondisi Emosi Mempengaruhi Proses Fisioterapi

Jayapura-Ahli fisioterapi RSUD Dok II Jayapura, Wilfred Fernandez  mengatakan proses fisioterapi Jafrai Murib berjalan sangat baik karena sudah kembali dilakukan secara rutin.

“hanya saja perlu dukungan lainnya, misalnya diberikan vitamin untuk merangsang kembali kerja-kerja di syaraf otak, apalagi kalau dia tidak banyak aktifitas, bisa lupa atau kembali kaku, “ jelasnya.(09/07/2013).

Saat memandu fisioterapi, Fernandez ditemani oleh ahli terapi bicara, Ibu Marlin Maripadang. Keduanya dengan tekun memandu sambil mengajak Jafrai untuk diskusi.

“Secara psikis, Jafrai mudah terpengaruh oleh hal-hal yang datang dari luar, kadang tiba-tiba situasi hatinya berubah. Kami sampaikan agar dia jangan terlalu banyak pikiran, ” ujar Ibu Marlin sambil mengikuti langkah Jafrai.

Untuk mengantisipasi perubahan psikis atau emosi Jafrai, ketika datang dan hendak pulang di ruang fisioterapi, mereka mengukur tekanan darahnya. Kedua ahli ini mengakui bahwa apabila ada masalah atau pikiran sedikit di benak Jjafrai, biasanya Jafrai enggan mengikuti latihan dengan waktu yang maksimal.

“Kalau tiba-tiba dia merasa tidak nyaman, maka standar 1 jam kadang menjadi 30 menit, kita tidak bisa memaksa,” tegas Fernandez.

Setelah berdiskusi antara Kuasa Hukum, Pihak rumah sakit dan pihak LP yang mengantar, disarankan agar Jafrai dikonsultasikan ke dokter ahli  syaraf untuk menilai perkembangan fisiotetapi terhadap kemampuan syarafnya. Selain itu disarankan Jafrai dapat menjalani fisioterapi lebih dari sekali dalam seminggu.(Tim/AlDP).