Kimanus : Saya Tidak Tahu,Tentara Tangkap Saya

Kimanus : Saya Tidak Tahu,Tentara Tangkap Saya

Kimanus Wenda

Jayapura-Di sela-sela waktu perawatannya di RS Dian harapan,Kimanus banyak bercerita soal masa lalunya  berkaitan dengan peristiwa pembobolan gudang senjata Kodim Wamena yang menyeretnya menjadi salah satu Terpidana.(15/03/2012).

“Rumah saya di Honai Lama,di tengah kota Wamena,saya operator alat berat,”katanya. Kimanus sehari-hari bekerja sebagai operator alat berat,semua jenis kendaraan alat berat untuk pembangunan jalan,dapat dia gunakan.Awalnya dia hanya sebagai kondektur namun lama kelamaan dia belajar dan menjadi mahir hingga dipakai oleh beberapa perusahaan yang bekerja untuk membuka jalan utama di sekitar Wamena. Awalnya Kimanus digaji Rp 1,5 juta/bulan pada awal 90 an dan ketika dia ditangkap (tahun 2003) ,gajinya sudah mencapai 7 juta/bulan.”Saya kerja siang malam,”katanya.
Di rumahnya yang besar,rumah batu yang memiliki empat kamar utama ,Kimanus memelihara anak asuh sekitar 20an orang. Anak sekolah mulai dari SD hingga SMA,terutama yang semarga dengannya yang datang dari Wamena bagian Barat. Sebagian besar gajinya untuk membiayai anak asuhnya,mulai dari baju,uang sekolah dan keperluan lainnya.
“Rumah mereka jauh karena saya di kota jadi mereka tinggal sama saya.”. Pernyataan tersebut dibenarkan oleh Tokiya Wenda,seorang anak laki-laki yang turut menjaganya di RS Dian Harapan.Kata Kimanus setiap hari dia dan istrinya memasak makanan untuk anak-anak asuh mereka,”Kami masak pakai 2 belanga,satu belanga 5 kilo beras”.
Ketika pagi hari sabtu tanggal 14 April 2003,tentara dan polisi datang mengambilnya.”Saya lagi duduk di batu dekat tempat kami biasa bakar batu,ada gendong anak,istri saya lagi masak di dapur. Tentara datang dan tanya ,yang mana Kimanus.Mereka lewat-lewat tapi saya diam saja.Yapenas Murib yang dibawa oleh tentara, tunjuk saya ,terus saya ditangkap,” ceritanya.
Menurut Kimanus suasana penangkapannnya dapat dibilang dramatic sebab truk tentara ada sekitar 5 buah selain itu helikopter berputar-putar diatas rumahnya. Waktu tentara dan polisi mendekati rumahnya seketika masyarakat di sekitarnya pergi melarikan diri.Tentara kemudian dengan paksa menyeretnya.Kimanus hanya sempat menyerahkan anaknya yang berusia sekitar 1 tahun.
Sejak itu istri dan anaknya pun menghilang dan tidak ada komunikasi hingga hari ini. Rumah tempatnya tinggal lambat laun tidak terurus sebab anak-anak asuhannya semua melarikan diri.“Saya bertahan,urus rumah, cuma saya yang terakhir keluar dari rumah itu tahun 2005,”Ujar Tokiya Wenda.
Anak-anak asuhannya sudah berpencar kemana-mana,ada yang masih diketahui keberadaannya namun ada yang hilang tanpa jejak.”Ada yang lari,mereka sudah sekolah dan kerja,di Jayapura,di Biak,di Manado,kalau saya sudah keluar penjara,saya ingin kembali ke Honai lama dan kami pasti bisa ketemu lagi,”demikian harapannya dengan mata yang berkaca-kaca(Tim/AlDP).