Berita

Kemenangan Persipura : Pertarungan Harga Diri

Tulisan ini pernah di muat di Bloogspot Andawat tahun 2009 pada saat menyambut kemenangan Persipura , kini tulisan ini dimuat kembali dengan beberapa penambahan.

“Kami yang Jenderal, bung!”. Demikian bunyi tulisan pada T shirt Persipura yang dijual menjelang kedatangan Persipura tanggal 7 September 2013.Tahun ini merupakan tahun kemenangan ke empat kalinya buat Persipura , sehingga mendapatkan bintang ke empat.

Sudah berminggu-minggu Pecinta Persipura mendiskusikan, menunggu dan mempersiapkan kedatangan Sang Jenderal tanggal 7 September 2013. Pencinta Persipura tua muda, besar kecil, Papua dan non Papua menunggu dengan setia di pinggir jalan sejak pagi. Setiap orang atau kelompok mempunyai cara sendiri-sendiri untuk menyambut pahlawan mereka.

Pendek kata, semua orang ingin menyatakan “Persipura menang, kami pun menang”. Di pinggir-pinggir jalan, mereka berkumpul dengan menggunakan spanduk, memasang tenda, membawa peralatan sound sistem, air minum, makanan dan banyak hal lain yang rak terduga-duga serta sangat menarik.

Persipura tidak saja menjadi kebanggaan orang Papua tetapi juga orang non Papua karena keberhasilan Persipura menampilkan permainan yang menarik dan haus untuk ditonton. Setiap kali main di Stadiun Mandala Jayapura, ribuan penonton memadati stadiun, berbagai aktifitas pemerintahan dan sosial dihentikan. Orang akan merasa aneh kalau pada saat Persipura bertanding ada yang melakukan aktifitas lain. Mereka bersedia menahan terik matahari, beberapa diantaranya masih sempat membawa radio, menonton sambil mendengar berbagai komentar.

Khusus di tribun “Liverpool” berjubel ribuan Persipura mania yang tak henti beratraksi dengan menari dan menyanyi,mereka datang dengan panji – panji Persipura dari distrik atau klub masing – masing.  Menonton Persipura juga jadi obat stress yang mujarab.Jika di tempat dan kesempatan lain orang terkesan malu untuk berteriak dan menari tapi saat menonton Persipura, ekspresi bisa all out.

Jika Persipura laga di luar Jayapura maka orang ramai-ramai akan menyediakan acara ‘nonton bareng’  dengan televisi layar lebar ataupun  menggunakan LCD/in focus.  Andawat bersama kru ALDP lainnya selalu nonton bareng di rumah pak Thaha Alhamid yang memang menyediakan nonton bareng buat tetangga di sekeliling rumahnya.Tak dapat dihindari teriakan tanpa henti dari para penonton. Iwan Niode adalah yang paling seru kalau nonton karena terus memberikan komentar dengan teriakkan seperti seorang pelatih yang sedang berdiri di pinggir lapangan. ”tidak usah bela kami, ko tipu – tipu saja..” teriaknya saat melihat wasit berlaku tidak adil. Tubuhnya yang subur bergerak ke sana kemari,sepintas mirip Raja Isa,pelatih Persipura sebelumnya, diapun meloncat naik ke atas para-para tempat layar berukuran 2×3 meter terpasang lantas memeluk layar seolah bergabung dengan pelukan para jenderal saat gol tercipta di gawang lawan.

Di manapun Persipura bertanding maka para pendukungnya, entah itu pejabat, aktifis LSM dan juga masyarakat lainnya berusaha untuk menyaksikan langsung. Apalagi jika Persipura main di Jakarta dan melawan Persija, warga Papua yang ada di sekitar Jakarta berbondong – bondong  datang. Untuk menyaksikan Persipura bertanding di Jayapura, ada guru yang sengaja libur dari Bintuni ke Jayapura atau anak sekolah dan mahasiswa yang khusus datang dari Biak atau Wamena untuk menonton.

Bahkan saat berlatihpun,Persipura tetap menarik untuk ditonton, seperti saat berlatih di lapangan Brimob Kotaraja, orang akan menghentikan kendaraannya, memenuhi pinggir lapangan hingga jalan raya Abepura. Permainan Persipura tak hanya berhenti di lapangan hijau karena orang akan mendiskusikannya di setiap ada kesempatan termasuk jadi bahan analogi dan contoh pada berbagai acara diskusi dan rapat resmi pemerintaan juga dalam pemeriksaan saksi di persidangan.

Kemenangan Persipura adalah kemenangan semua orang di Papua. Begitupun kekalahan Persipura seolah menjadi kekalahan publik Papua. Semua orang akan berduka, yang nonton bareng pulang ke rumah dengan kepala tertunduk dan tanpa kata seperti yang dialami saat melawan Sriwijaya FC tahun 2008. Semua orang tak henti – henti menyesalkan kekalahan tersebut dan mendiskusikan sebab – sebab kekalahan. Kekalahan Persipura juga memicu temperamental, orang akan cenderung marah karena kekalahan di lapangan telah menjadi momok besar dari mata rantai penindasan yang  terjadi di Papua.

Olahraga bola kaki memang olah raga yang paling digemari di seluruh dunia. Kadang pertandingan bukan sekedar olah raga tapi menjadi lahan olah politik, olah sosial dan olah kultur. Kemudian kesebelasan yang tampil menjadi personafikasi perlawanan terhadap ketidakadilan, kekejaman dan hukum yang tidak memihak. Pertandingan bola menjadi laga prestise yang mahal harganya. Sehingga motivasi orang menonton bola bukan sekedar menghibur diri dari aktifitas pekerjaan sehari – hari yang membuatnya beku tapi yang terpenting adalah ikut mengekspresikan diri bersama tim favoritnya. Pertandingan seolah menjadi media untuk menunjukkan eksistensi mereka. Apalagi  di luar lapangan hijau leluhur mereka telah mengalami sejarah penindasan yang penuh luka. Pertandingan bola diekspresikan sebagai media perlawanan.

Seperti itulah Persipura diposisikan oleh pecinta bola di Papua sebagai simbol perlawanan. Permainan Persipura yang fenomenal, fantastis dan sangat lincah dengan menampilkan pola yang berbeda dari kesebelasan lainnya makin memperkuat perbedaan – perbedaan lain yang tercipta di luar lapangan sehingga personafikasinya dapat dianggap  merepresentasikan ‘perlawanan’ antar Papua dan Indonesia. Dalam masa integrasi dengan Indonesia, Papua hampir tak pernah menang disemua ‘percaturan’ perebutan sumber daya : politik, hukum, sosial dan budaya. Papua selalu dibuat kalah oleh Indonesia (pemerintah).Jika pemerintah bisa mengambil apa saja di Papua,tentu akan diambil ‘tanpa ampun’ tanpa perlawanan. Hanya di lapangan bola lah, orang Papua bisa menghentikan keserakahan Jakarta. Sehingga kemenangan Persipura bukan saja kemenangan di dunia olahraga bola tetapi juga kemenangan simbolik atas berbagai persoalan Papua versus Jakarta dari sejarah kolonisasi yang kelam dan sejarah panjang integrasi yang dirasa tetap sangat tak adil.

Di Papua,khususnya kota Jayapura, kemenangan Persipura juga memberikan kesejukan di saat situasi keamanan dan  politik yang meningkat terutama menjelang tahun politik 2014. Dimana orang mulai menyusun kotak-kotak dan sekat diantara mereka dan menghadapi beban politik yang cukup tinggi dengan segala ketidakpastian. Tapi untuk urusan bola tak ada yang bersilang pendapat tentang siapa yang mereka pilih : Pilihannya cuma satu yakni  Persipura si Mutiara Hitam.(Andawat)