Kasus HIV/AIDS di Sorong Mengkhawatirkan

Ilustrasi HIV AIDS

Sorong–Kasus penyebaran HIV/AIDS di Kota Sorong, Papua Barat, makin mengkhawatirkan. Hingga pertengahan 2011, angka penderita HIV dan AIDS mencapai 1.117 orang.

Angka tersebut tidak berbeda jauh dengan Merauke. Sampai Juni 2012, penderita HIV/AIDS di Kota Rusa mencapai 1.464. Penderita tertinggi berada di kalangan Ibu Rumah Tangga dengan 222 kasus atau 15,2 persen. PSK menempati urutan kedua, 219 kasus atau 15,0. “Data ini didapat dari hasil test VCT (Voluntary Counseling and Testing), tapi test ini juga terkendala, karena tidak banyak yang datang dan mau melakukan,” kata John Toisutta, sekertaris Komisi Penanggulangan AIDS Kota Sorong, belum lama ini.

Ia mengatakan, HIV dan AIDS di Sorong menyebar begitu luas. “HIV bukan demam berdarah yang bisa disembuhkan. Apalagi masih tinggi stigma, orang jadi jarang pergi VCT. Kita harapkan setelah dapat informasi, mereka mau datang, tapi ini sebaliknya,” ujarnya.

Diskriminasi terhadap pengidap HIV dan AIDS membuat warga ingin memeriksa, takut. “Karena bisa diasingkan, padahal untuk VCT, itu bukan sesuatu yang harus ditakutkan. Dengan VCT, kita akan mengetahui angka kasus, dengan begitu, ada langkah dalam penanggulangan, kesadaran masyarakat perlu dibangun lagi,” ucapnya.

HIV di Sorong diduga akibat sering berganti-ganti pasangan. Hubungan seks yang tidak sehat membawa bencana bagi diri serta keluarga. “Pekerja Seks Komersial kerap tidak menolak tegas pelanggan yang tidak menggunakan kondom. Dengan tawaran tinggi, PSK mau saja diajak. Akhirnya, penyebaran HIV berjalan terus dan pasti,” katanya.

Tempat prostitusi di Sorong dapat ditemukan dalam kota. Namanya Malanu. Ada 32 barak didalam dengan ratusan wanita penghibur. “Kita sudah sering bekali mereka dengan penggunaan kondom. Tapi ya itulah, tergantung orangnya lagi, mereka butuh uang, kalau pelanggan bilang simpan kondom, wanitanya terpaksa nurut.”

Seperti di Merauke dengan Perda Nomor 5 tahun 2003, di Sorong, ada juga Perda No. 41 Tahun 2006 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Infeksi Menular Seksual (IMS) dan HIV/AIDS. “Tapi tidak jalan. Saya heran, ada aturan, tapi semua begitu-begitu saja, KPA berharap ada perubahan dalam kepemimpinan di Sorong saat ini konsen pada penuntasan HIV AIDS,” kata Toisutta.

Ia menyesalkan pula pihaknya tak pernah mendapat bantuan dari pemerintah untuk penanggulangan HIV dan AIDS. “Sejak KPA ini ada 2004, tidak pernah ada, kucuran dana selama ini datang dari funding, tapi itu tidak cukup. Seharusnya adalah, KPA mendapat biaya yang timbul dari segala kegiatannya dari pemerintah,” ujarnya lagi.

Penderita AIDS meninggal menurut data KPA Kota Sorong mencapai 269. “Ini data tahun 2011. Kita terus mengolah data terbaru. Kita berharap ada peran juga dari masyarakat untuk membantu mensosialisasikan bahaya penyakit ini,” pungkasnya. (tim/ALDP)