Kasus Degewo,BAP Belum Ditandatangani Para Saksi
Puskesmas di Manokwari

Kasus Degewo,BAP Belum Ditandatangani Para Saksi

Nabire-Kapolres Paniai yang hadir pada pertemuan antara masyarakat dengan pemerintah daerah dan DPRP di Aula Akademi Perawat Nabire, mengatakan pihaknya sedang melakukan pendalaman peristiwa 15 Mei 2012 di Degewo, Nabire.(28/05/2012).

“Kami pihak kepolisian polres Paniai tidak ada niat sedikitpun untuk menyakiti rakyat,” kata kapolres Paniai yang baru dilantik pada tanggal 2 mei 2012. Namun demikian kasus sudah terjadi,” Saya secara pribadi sangat menyesalkan peristiwa tersebut. Kami sudah turun ke TKP mengumpulkan pengusaha,pendatang maupun pribumi dan berkomunikasi dengan mereka,”jelasnya.

Kapolres menjelaskan kronologis peristiwa menurut versinya yakni pada sekitar pukul 20.00 tanggal 15 Mei 2012, tempat bilyar bu Yona didatangi pendulang yakni Lukas dkk dan mau main bilyar. Pemilik bilyar Bu Yona keberatan dan kemudian memanggil anggota Brimob,3 anggota brimobpun tiba di lokasi. “Setiba di TKP, anggota kami dibentak sama masyarakat yang datang mau main itu dengan perkataan ‘kamu bikin apa di sini anak kecil,kamu pulang sana,” katanya.

Katanya,anggota brimob mengatakan,’ Bapak kalau mau main tidak usah ribut’. Lukas dkk bukannya menerima teguran tersebut malahan bersitegang. Lukas, katanya mengancam akan memukul dan menarik-narik selempang senjata di tubuh salah seorang anggota brimob. Sedangkan anggota yang lain,masih penuturannya, mengeluarkan tembakan namun anggota kemudian diancam pakai pisau sehingga makin ribut,kejadiannya sangat cepat dan terjadi penembakan. “Akibat terjadi keributan, anggota dikeroyok, secara psikologis merasa terancam dan mengeluarkan tembakan”.

Kapolres mengatakan kini 3 orang anggota brimob sudah ditetapkan sebagai Tersangka dan sudah barang tentu harus mempertanggungjawabkan perbuatannya secara hukum termasuk bu Yona yang memiliki rumah bilyar. “ Dia akan kami tuntut pasal 55 KHUP (turut serta),kami sedang melakukan pendalaman kasus,” katanya lagi.

Setelah kejadian tersebut,kapolres telah menemui keluarga korban,” mereka minta 7 karton,saya tidak mengerti apa artinya ternyata yang diminta 7 milyar, sebagai kapolres saya tidak bisa mengiyakan.Sekarang sedang ada negosiasi tentu saja para pengusaha harus turut bertanggungjawab,” katanya.

Meskipun tidak diminta telah menjadi tugas pihak kepolisian untuk memproses kasus tersebut namun katanya kasus tersebut tidak dapat dilanjutkan ke pengadilan jika berkas-berkasnya belum lengkap salah satunya adalah beberapa Berita Acara yang belum sempat ditandatangi oleh para saksi dan korban. “Jadi tolong beri tahu warga yang sudah jadi saksi harap tandatangan”.

Menurutnya hingga kini baru ada sekitar 2 orang saksi yang diperiksa dan saksi korban,” Saat kejadian warga ketakutan dan enggan menjadi saksi,’ Jelasnya lagi saat ditemui kembali secara terpisah oleh AlDP Online untuk menanyakan perkembangan pemeriksaan. Para Tersangka kini sudah berada di tahanan polda Papua.(30/05/2012).Sedangkan korban Amos Abaa masih di RSUD Jayapura dan Yulius Kegepe yang menjalani pengobatan di RSUD Jayapura,hari ini juga telah kembali ke Nabire bersama 3 anggota keluarganya dan Ibu Haji Malin dengan menggunakan Express Air.

Lebih lanjut kapolres katakan yang diperlukan sekarang adalah menciptakan keamanan karena kini di Paniai sedang melakukan tahapan pilkada. “ Saya menghimbau masyarakat supaya betul-betul menjaga keamanan di wilayah tersebut.Peristiwa tersebut semoga adalah peristiwa terakhir.Saya harap supaya pengusaha itu betul-betul arif dan bijaksana menyikapi permasalahan tersebut,” tegasnya.

Kasat Intel Polres Nabire turut menambahkan bahwa Propam dari polda Papua sudah turun ke lokasi dan mengambil keterangan dari berbagai pihak.”Polisi juga tunduk kepada hukum meskipun kejadiaanya saat melakukan tugas, polisi tetap diperiksa ,prosesnya tidak langsung selesai dan masyarakat bisa cek dan menanyakan perkembangan kasusnya”.(Tim/AlDP).