Berita

Karet Masih Jadi Primadona di Mindiptana

Perkebunan Karet

Boven Digoel – Tanaman Karet masih dijadikan tumpuan peningkatan ekonomi warga di Distrik Mindiptana, Kabupaten Boven Digoel. Karet dikembangkan masyarakat hingga belasan hektar.

Selain karet, ada juga Cengkeh, Jambu Mete, dan Kopi yang pernah digalakkan di Mindiptana. “Tapi itu tidak jalan. Hanya karet yang menjadi tanaman jangka panjang di sini, ini bisa membantu hidup masyarakat kelak kalau dana Respek (Rencana Strategis Pembangunan Kampung) habis,” kata Fransiskus Komon, Kepala Distrik Mindiptana, kemarin.

Ia mengatakan, dana Respek digunakan untuk program membangun rumah, sarana air bersih, penimbunan jalan, serta perbaikan jembatan. “Paling banyak untuk penanaman karet. Program karet saya canangkan sebagai tanaman wajib. Tahun 2011 kemarin, karet mulai ditanam secara besar besaran,” ujarnya.

Hasil panen karet masyarakat dijual kepada Montello, sebuah perusahaan karet di Mindiptana. Perusahaan ini telah 11 tahun berada di Boven Digoel. Karet dijual perkilo Rp15.000. Sebelumnya mencapai Rp18 ribu/kilo. “Karena setiap kali sadap karet, tidak menentu. Ini membuat kondisi petani tidak berkembang, seharusnya memang ada data di kita supata kita bisa ukur,” katanya.

Ia menambahkan, pengembangan karet di Mindiptana pada tahun 2020 diharapkan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. “Karet yang sekarang ditanam, diperkirakan akan disadap secara besar besaran pada 2020, kalau hasilnya baik, masyarakat bisa hidup lebih baik,” kata Komon

Komon menjelaskan, alat sadap karet yang dipunya warga dibeli menggunakan dana Respek. “Ada  juga yang dijual perusahaan. Sayangnya, hasil karet tidak pernah dilaporkan ke distrik. Perusahaan langsung beli dari masyarakat. Montello juga membiayai tiga kelompok sebagai plasma yang mengumpulkan atau menjual karet,” ucapnya. “Kami memang butuh data penjualan karet dari masyarakat, sudah sebelas tahun data itu tidak ada di kami.

Montello merupakan anak perusahaan dari PT Korindo di Asiki, Boven Digoel. Korindo bergerak di bidang perkebunan sawit dan hutan tanaman industri.

Selain Mindiptana, karet juga dikembangkan di Mandobo, Boven Digoel. Masyarakat setempat membuka hingga 22 hektar hutan dan dijadikan sebagai kebun karet.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Boven Digoel, luas perkebunan karet rakyat di daerah itu pada 2009 mencapai 1.813 hektar. Perkebunan ini tersebar di Distrik Jair, Subur, Mindiptana, Iniyandit, Kombut, Mandobo, Waropko, dan Kouh. Adapun total produksi karet lembaran hingga Juli 2011 mencapai 199,3 ton.

Meski memperoleh sokongan pemerintah, gairah penanaman karet sempat menurun di tahun 2011. Perkebunan karet rakyat menyusut seluas 224 ha akibat perubahan fungsi lahan menjadi permukiman. Menggantinya, pemerintah Boven Digoel membuka 174 ha lahan baru di beberapa distrik. Pemerintah juga menyediakan 69.600 bibit karet untuk masyarakat. (02/ALDP)