Kanius Murib Hampir Terlupakan

Kanius Murib Hampir Terlupakan

Wamena-Kanius Murib, salah seorang terpidana 20 tahun pada kasus pembobolan Gudang senjata Wamena 2003 hampir terlupakan.

Ketika terpidana lainnya seperti Linus Hiluka, Kimanus Wenda dan Jafray Murib dipindahkan ke Makasar pada desember 2004, Kanius tidak ikut dipindahkan dengan alasan sudah cukup tua. Saat pertama kali dia ditahan di LP Wamena, usianya tercatat hampir 60 tahun.

Sejak itu Kanius terus menetap di LP Wamena, kerjaannya sehari-hari menanam, hasil kebunnya untuk keluarga yang datang menjenguk atau untuk dijual.  Dari hasil kebunnya dia sempat mengirim uang untuk kawan-kawannya di LP Makasar sebelum dipindahkan ke LP Biak dan Nabire.

Lambat laun informasi mengenai dirinya seperti hilang, Kanius seperti dilupakan.  Perlahan-lahan diapun menderita sakit diusianya yang diperkirakan 65 tahun.

Hasil medis mengatakan bahwa Kanius darah tinggi dan asam urat karena usianya yang semakin tua juga pola makan yang tidak dikendalikan dengan baik. Kanius tua terus menerus dibawa ke rumah sakit.

Menurut Pak Lanni petugas LP yang berasal satu kampung dengannya, selain karena penyakit asam urat dan usianya yang sudah lanjut. Diduga Kanius banyak berpikir tentang masalah keluarganya. Awalnya istrinya rajin mengunjungi dirinya namun kemudian tidak pernah datang dan menghilang.

Hingga pada akhir tahun lalu pihak keluarga yakni anak perempuannya meminta agar Kanius diijinkan dibawa pulang untuk dilakukan pengobatan.

“Mereka membuat permohonan dan pernyataan tertulis agar diijinkan membawa pulang dan mengobati Kanius secara adat” Ujar kalapas Klas II B Wamena.Drs. Bechman Tambun.

Kalapas pun berkoordinasi dengan pihak pengadilan,kepolisian dan kejaksaan kemudian mengambil keputusan untuk mengabulkan permohonan keluarga.

“Ini demi alasan pertimbangan kemanusiaan, keluarga meminta untuk merawat. Mereka membuat surat permohonan dan pernyataan. Kami pegang dokumen tersebut sesuai dengan prosedur di LP agar tidak dikomplain”.

Sejak November 2011 kemudian Kanius dibawa ke rumah anak perempuannya di daerah Sinakma. Meski dalam surat yang dikeluarkan oleh LP menjelaskan bahwa Kanius akan menjalan pengobatan di rumah sakit namun pihak keluarga meminta diijinkan untuk dirawat di rumah. Pihak LP melakukan control setiap minggu untuk mengetahui perkembangan penyakitnya.

Sebelumnya pihak LP bersama PH Kanius telah mengajukan grasi, semuanya berharap  Kanius diberikan grasi. Sejak awal keterlibatan laki-laki tua itu pada peristiwa pembobolan gudang senjata Kodim Wamena diragukan. Apalagi dengan melihat kondisinya hari ini.

Kanius tidak bisa jalan jauh karena asam urat yang dideritanya, sekitar kakinya mengalami pembengkakan dan sewaktu-waktu turun kemudian bengkak kembali. Dia lebih banyak di dalam honai dan apabila hari terasa lebih cerah dia pun duduk di tumpukan batu kecil depan honai, berjarak tak lebih 5 meter. Untuk berjemur dengan wajah nyaris tanpa ekspresi. (Tim/AIDP)