Kampus Menolak Otsus Jilid II (Otsus Plus) :Refleksi Untuk Para Akademisi

Kampus Menolak Otsus Jilid II (Otsus Plus) :Refleksi Untuk Para Akademisi

Andawat-Tanggal 4 November 2013, kampus-kampus di Kota Jayapura serempak melakukan aksi demo penolakan terhadap UU Otonomi Khusus atau Otsus. Isi orasi,spanduk atau pamflet kecil yang dibawa tidak jauh berbeda dengan aksi demo yang sering dilakukan sebelumnya .Hal yang paling menarik untuk dijadikan bahan refleksi adalah tanggung jawab akademisi dan komitmen moral para akademisi terhadap Otsus di Papua.

Ketika Otsus Jilid I dibahas, perguruan tinggi dalam hal ini para akademisi dijadikan corong utama untuk merasionalisasikan semua isi dari UU Otsus. Mereka digiring pemilik kekuasaan untuk merumuskan Otsus sesuai kepentingan penguasa, meksipun sejak awal mereka tahu bahwa banyak hal yang bertabrakan antara Otsus dengan UU lainnya : UU Kehutanan, UU Partai Politik, UU Penanaman Modal dll.

Tidak hanya itu, mereka juga dipaksa untuk bertentangan dengan moralitas dan etika. Seolah Otsus dilahirkan atas dasar kenyakinan empirik yang ditemui di masyarakat. Padahal saat itu Otsus ditolak dimana-mana. Mereka menjadi sangat pragmatis dan terjebak pada orientasi proyek. Di depan rakyat terkesan sangat memahami dan membela kepentingan rakyat tapi juga tidak kuasa menolak kehendak penguasa.

Sepanjang perjalanan Otsus Jilid I, para akademisi turut memperburuk situasi implementasi Otsus. Hal-hal yang mereka bikin didalam aturan, ikut dilanggar. Misalnya ketika sibuk  terlibat pada sejumlah pemekaran Kabupaten dan Propinsi tanpa mengikuti aturan di dalam Otsus.

Pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh pemerintah di pusat maupun di propinsi, kabupaten dan kota, tidak ditanggapi dengankritis, seolah dianggap menjadi urusan pemerintahan dan politisi semata. Hampir sulit dijumpai lagi para akademisi yang konsisten dan intensif mengkritisi implementasiOtsus.

Kini ketika Otsus Jilid II alias Otsus plus digagas pada akhir April 2013, hingga rancangannya mulai digulirkan, para akademisi juga berdiri paling depan untuk menyampaikan rasionalitas mereka tentang Otsus Jilid II alias Otsus plus sebelumnya, Adakah catatan kritis mereka tentang pelaksanaan Otsus Jilid I yang selalu dinyatakan‘kurang berhasil’ alias gagal dalam berbagai bahasa yang berbeda? Ataukah mereka tidak memiliki kesadaran kritis untuk melakukan koreksi secara independen sebagai pemegang menara intelektual?..

Saat Otsus Jilid II alias Otsus plus dibahas, pada pertemuan informal, ada diantara akademisi yang memberikan tangapan bahwa pembahasan dan perumusan OtsusJilid II sangat sulit dan terkesan terburu-buru, seperti barangproyek yang harus dipaksakan jadi dalam tahun ini dengan anggaran yang sanga tbesar. Tapi hanya sebatas itu, informal dan sangat personal selebihnya tak berani bersuara dan memilih bersembunyi dibalik jubah kekuasaan, proyek Otsus Jilid II alias Otsus plus tetap jalan.

Sesungguhnya kehadiran para akademisi pada Otsus Jilid I dan Otsus Jilid II alias Otsus plus adalah untuk ‘menularkan’pandangan secara rasional mereka karena landasan berpikir ilmiah yang dimiliki serta rasionalitas karena kedekatan mereka dengan kenyataan-kenyataan yang tumbuh dan berkembang ditengah-tengah rakyat. Transformas ikeilmuan yang dimiliki seharusnya Nampak dalam aturan sebagai bagian dari tanggung jawab akademisi dan komitmen moral mereka. Ada jarak yang tegas antara kepentingan penguasa dan independensi akademis dan etis sehingga kapasitas keilmuannya layak dihargai, diterima dan dapat terus berkembang.Inilah esensi sejati dari Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Siapa yang bisa mengantar rakyat kepada pemikiran yang logika kecuali para akademisi. Memberikan gagasan-gagasan kritis dan cerdas untuk menyakinkan masyarakat ata spilihan yang seharusnya diambil dan konsekwensi dari pilihan-pilhanitu. Adalah bencana besar di hari ini, jika para akademisi sudah masuk dalam ranah politik dan kekuasaan.

Semoga saja aksi demo tanggal 04 November 2013  dapat menjadi bahan refleksi yang mendalam bagi pemilik kekuasaan dan juga para akademisi untuk menunjukkan tanggung jawab keilmuannya terhadap Otsus Jilid I,Jilid II alias Otsus plus atau mungkin akan ada Otsus Jilid III alias Otsus plus plus.(Andawat)