Berita

Kampung Terjauh di Mindiptana Gelap Gulita

Lampu Petromax

Boven Digoel – Sejumlah kampung di Distrik Mindiptana, Kabupaten Boven Digoel, masih gelap gulita. Untuk penerangan, warga menggunakan petromaks atau lampu dinding.

“Di Mindiptana, lampu hanya menyala enam jam. Di Kampung Osso, sebagian warga mendapat penerangan, tapi lainnya belum. Di Kakuna, gelap gulita. Begitu juga di Ketinggam dan Imko,” kata Fransiskus Komon, Kepala Distrik Mindiptana, kemarin.

Untuk membantu warga beraktivitas di malam hari, diambil sedikit uang dari dana Respek (Rencana Strategis Pembangunan Kampung) membeli genzet atau generator. “Pembangkit listrik itu ada disetiap kampung, ada juga bantuan Solar cells untuk kampung Tinggam,” kata Komon.

Ia berharap pemerintah segera merampungkan rencana membangun Perusahaan Listrik Tenaga Surya di Mindiptana. “Ini sudah dari dulu, tapi belum tahu kapan akan ada realisasinya,” ujarnya.

Pelanggan PLN di Mindiptana sebanyak 500 rumah. Operasional PLN di daerah itu sangat bergantung pada ketersediaan bahan bakar. “Kalau tidak ada bahan bakar, PLN tidak jalan, jadi jika mau lampu menyala terus sampai pagi, harus ada banyak pelanggan dengan membayar lebih besar, ini yang belum dimengerti,” ucapnya.

Penerangan menjadi kebutuhan utama warga. Menjawab hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Boven Digoel, membangun sendiri pembangkit listrik tenaga diesel guna mencukupi kebutuhan listrik. Pemerintah juga menjalin kerjasama dengan PLN.

Pembangkit di Boven Digoel memiliki enam mesin dengan kapasitas maksimal 1.780 kilovolt. Terdiri dari dua mesin berdaya 640 kilovolt dan empat mesin masing-masing 250 kilovolt. “Kalau di Tanah Merah, ibukota Boven Digoel, listrik sudah menyala 24 jam, yang memprihatinkan adalah kampung yang susah dijangkau,” kata Komon.

Kendala utama mengadakan mesin pembangkit di kampung terjauh adalah jalan yang rusak berat. “Untuk ke Mindiptana saja, seharusnya bisa dua jam, kalau hujan dan jalan berlumpur, bisa lima  atau enam jam, ini menghambat gerak pembangunan di kampung, menurut saya, jalan harus jadi prioritas sebelum menjalankan program lain,” katanya.

Komon meminta pemerintah tak tinggal diam atas sejumlah persoalan di daerah pedalaman Boven Digoel. “Jangan hanya pikir diri sendiri saja, ada pejabat punya rumah besar-besar, tapi untuk membantu masyarakat kecil susahnya minta ampun,” pungkasnya. (02/ALDP)