Berita

Kalapas Wamena : Dialog dan Negosiasi Perlu Menjadi Kurikulum bagi Petugas Lapas

IMG-20171111-WA0008Wamena-Kepala Lembaga Pemasyarakatan( Kalapas) Wamena, Yusak Sabatu mengakui bahwa untuk menciptakan situasi yang aman dan tertib di lapas diperlukan banyak strategi tidak melulu pendekatan keamanan.

Sehari-hari, banyak masalah yang dihadapi oleh lapas sementara perhatian pada lapas hampir tidak ada. Masalah struktural yang utama adalah kurangnya petugas.

“Ini masalah utama,” tegasnya(09/10/2017).

Apalagi Lapas Wamena merupakan satu-satunya Lapas yang ada di wilayah pengunungan untuk beberapa kabupaten, seperti Kabupaten Tolikara, Yahokimo, Yalimo, Lanny Jaya, Puncak Jaya dan Nduga.

Biasanya juga tahanan bertambah secara signifikan, misalnya saat menjelang natal. Hal ini dikarenakan tahanan yang ada di Polres-Polres dilimpahkan ke kejaksaan dan ditempatkan di Lapas Wamena.

“Karena menjelang libur, banyak juga polisi yang akan libur dan tidak mau ambil resiko jika tetap ditahan di Polres yang bersangkutan,” katanya.

Maka petugas lapas pun harus ekstra pengamanan.

“Kalau fokus kurikulum keamanan hanya pada ketrampilan pengaman phisik, petugas tidak mampu mengatasi,” katanya sambal memperagakan gerakan bela diri yang diajarkan.

“Tentu petugas tidak mampu mengatasi. Terlambat, jumlah petugas dan tahanan atau narapidana tidak seimbang,” terangnya

Lanjutnya, mereka ini perlu didekati dengan diajak komunikasi, kita perlu berdialog dengan mereka supaya tidak ada ketegangan di dalam Lapas”

Dirinya juga menghindari penggunaan senjata api.

Alasannya untuk menggunakan senjata api, pihak Lapas memerlukan ijin dari aparat kepolisian, tidak dapat digunakan secepat yang dibutuhkan. Selain itu dirinya khawatir jika senjata api yang dilengkapi ke petugas akan disalahgunakan.

“jadi intinya, kita perlu mengubah kurikulum dengan menambahkan materi-materi terkait dialog dan negosiasi untuk pendekatan ke penghuni Lapas,” Ujarnya tegas.(Tim/AlDP).