Kala Absalom Bangun Kampung Sampai Jaga Penyu dan Cenderawasih

Kala Absalom Bangun Kampung Sampai Jaga Penyu dan Cenderawasih

Absalom Korano. Usianya sudah 54 tahun. Bertubuh kecil, kepalanya nyaris botak, sisa-sisa rambut pendek ditengah kepala. Kulitnya hitam. Raut wajahnya kentara tua. Gigi nya hitam, akibat banyak mengunyah buah pinang.

Lelaki paruh  bayah ini pantas disuguhi gelar pejuang. Absalom adalah pendiri Kampung Sawandui, Distrik Yapen Timur, Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua. Sebelum Sawandui berdiri, lelaki beranak tujuh ini tinggal di Kampung Dawai, Distrik yang sama. Saya bertemu dengan Absalom begitu dia disapa, akhir Juli 2013 lalu di Biak, Papua. Kami bertemu ketika  bersama tim Yayasan Saireri Paradise dalam spedboad  setelah mengunjungi kepulauan Padaido balik ke Kota Biak.

Perjumpaan kami berawal dari pertanyaan Absalom kepada saya tentang asal daerahku. “Adik kamu dari mana?,”tanya Absalom. “Bapak saya dari Kampung Windesi, Yapen Barat,” jawab-ku. “Hehehe, oh berarti kita satu daerah,” tawa melebar mengawali cerita. Absalom mulai mengisahkan mimpi dia untuk membangun sebuah kampung yang warganya mejaga Penyu dan burung Cenderawasih.

Impian itu, menurut dia, ada dibenaknya sejak tahun 1960-an. Ide gila membangun kampung itu lahir ketika satu lokasi kosong yang belum berisi penduduk beserta kampung Dawai,tempat tinggalnya, selalu menjadi sasaran perburuan Cenderawasih dan Penyu. Ia melihat dengan mata kepala sendiri, perburuan itu berlangsung. Penyu di buru warga untuk di konsumsi (dimakan). Sementara, Cenderawasih diburu untuk di jual. Tak hanya itu, sejumlah pohon,diantaranya kayu besi (merbau) juga dibabat sembarangan. Perburuan itu terus mengganggu kepalanya untuk membangun sebuah kampung baru. Meskipun aktivitas menghidupi keluarga padat, namun ia terus berjuang mengejar impiannya.

Ternyata, lahan kosong tak berpenduduk yang disebutkan dalam cerita, miliknya. Tahun 2000 Absalom nekat dan tak tanggung-tanggung melepas areal kosong itu ke perusahaan bernama PT. Arfindo. Perusahaan ini bergerak di bidang pengolahan kayu. PT. Arfindo membantu Absalom menebang sejumlah pohon besar di lokasi kosong itu. Meski Absalom merelakan lahannya digarap, namun dia ketat dan tegas. Absalom hanya mengijinkan lahan seluas 5-9 hektar saja untuk dibabat. Selanjutnya dilarang. “Waktu itu, saya larang perusahaan buka semua lahan. Kan tempat itu juga dekat laut. Jadi, saya larang perusahaan buka sampai kepinggir pantai,” kata dia.

Selama PT. Arfindo beroperasi, Absalom menagih janji perusahaan sejak awal, yakni membangun rumah dan membuka jalan. Rumah dan jalan yang dijanjikan perusahaan, di kabulkan. Mungkin karena di bawah tekanan Absalom, perusahaan itu tak lama beroperasi. Memasuki tahun 2002, perusahaan meninggalkan lahan baru tersebut beserta rumah dan jalan yang di bangun.

Kampung Sawandui

Terjawab sudah mimpi gila Absalom untuk membangun kampung. Absalom mulai mengajak belasan kepala keluarga (KK) dari Dawai memasuki 17 rumah lebih yang baru dibangun perusahaan.  Lelaki yang sudah memasuki usia senja itu menamai kampung baru itu ‘Sawandui.’ Sekarang kampung Sawandui masuk Distrik Rainbawi, Yapen Timur Jauh, Kabupaten Kepulauan Yapen. Tak henti-hentinya Absalom berpikir menyelamatkan alam dan isinya. Setelah belasan warga mengikuti ajakannya, pendiri Kampung Sawandui ini mulai berpikir untuk memulai keiginan selanjutnya, bagaimana mengajak belasan warga untuk menjaga Cenderawasih dan Penyu yang masih terlihat di Sawandui. Dia berpikir, menjaga Cenderawasih dan Penyu menjadi pekerjaan tetap yang punya penghasilan tiap bulan. Namun, Absalom tak punya biaya cukup untuk membayar. Meski demikian, tak mematahkan semangatnya untuk tetap berusaha.

Bertolak dari keinginan kuat itu, suatu saat ia memutuskan untuk ke kota Serui menemui kerabatnya, Tom Erari, yang menjadi pejabat di salah satu kantor pemerintah  di kota itu. Tom menerima keinginan yang disampaikan Absalom. Tomi berjanji akan membantunya dengan menghubungi Yorrys Rawei, anggota komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Papua di Jakarta. Selang beberapa hari kemudian, Absalom mendapat kabar dari Tom, kalau Yorrys sudah di hubungi via telepon dan siap membantu.

“Tom bilang nanti bangun komunikasi lanjut lewat telepon denganYorrys.” Berkat bantuan Tom, Absalom mendapat nomor kontak dariYorrys. Komunikasi dengan Yorrys mulai terbangun. Pada 2010, Yorrys memberi angin segar. Dia bersedia memfasilitasi pengembangan Kampung Sawandui sebagai kawasan konservasi dengan catatan harus ada kelompok yang dibentuk. Mendengar itu, pria yang mengaku tiga anaknya sudah menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) ini mulai bergerak mengumpulkan belasan warga yang berdomisili di Sawandui untuk membentuk dua kelompok konservasi. “Saya, bagi menjadi dua kelompok konservasi.” Kelompok pertama diberi nama Cenderawasih. Selanjutnya, kelompok kedua dinamai kelompok pengawas Penyu. Masing-masing kelompok beranggotakan 17 orang.

Setelah dua kelompok itu dibentuk, Yorrys mengajak Absalom memasukan dua kelompok itu di Yayasan Saireri Paradise yang didirikannya. Absalom di pilih menjadi ketua Yayasan Saireri Paradise di kampungnya dengan tugas mengkoordinir dua kelompoknya untuk menjaga Penyu dan Cenderawasih yang masih tersisa. Sejak 2010, Yayasan Saireri Paradise mulai menganggarkan biaya untuk membiayai warga yang terlibat dalam dua kelompok yang dibentuk Absalom. Warga yang terlibat dalam dua kelompok bentukan Absalom dihargai oleh Yayasan Saireri Paradise senilai satu juta dua ratus per orang.

Jaga Penyu dan Cenderawasih

Sampai sekarang dua kelompok ini masih jalan. Kelompok pengawasan Penyu bertugas menjaga penyu. Demikian juga dengan kelompok Cenderawasih, bertugas menjaga Cenderawasih. Setiap pagi sekitar pukul 06.00 WIT,  mereka berjalan kaki dari rumahnya menyusuri pesisir pantai sepanjang satu kilo lebih ke tempat penyu bertelur lalu pulang ke rumah sekitar pukul 19.00 WIT.

“Tiga bulan sekali baru penyu itu bertelur. Telurnya di kolam yang digali di pasir. Sekali bertelur, jumlahnya sekitar 200-300 telur. Setelah bertelur, kelompok penyu bertanggung jawab mengambil telurnya kemudian menguburkannya  lagi dalam sangkar yang sudah dipagari oleh mereka agar tak di mangsa biawak dan anjing. Kelompok ini terus datang dan menunggu telur menetas kurang lebih selama 30-75 hari. Setelah menetas, tukik-tukik (bayi penyu) di bawa lagi ke tempat penampungan yang sudah di bangun didekat rumahnya. Tukik-tukik, itu harus dijaga sampai berusia enam sampai tujuh bulan kemudian di lepas ke laut.

Sejak 2010 sampai saat ini,hampir ribuan tukik penyu sudah di lepas ke laut. Sekali lepas sekitar 200-300 ekor. Dalam setahun, empat kali dilepas. Ada empat jenis penyu di Sawandui, masing-masing jenis penyu sisik, penyu hijau, penyu belimbing dan penyu abung. Absalom mengaku, saat ini, ada sekitar 500 tukik penyu yang dijaga.

Pekerjaan berbeda ditekuni oleh kelompok Cenderawasih. Saban hari, kelompok ini keluar dari ruamah tiap pagi sekitar pukul 06.00 WIT, menyusuri pantai sepanjang satu kilo lebih ke pohon dimana Cenderawasih bermain. Mereka menjaga pohon itu dari para pemburu hingga sore sekitar pukul 18.00 WIT lalu pulang. Awalnya, hanya sepasang Cenderawasih betina dan jantan. Tapi kini, jumlahnya sudah bertambah. Sejak 2010-2013, sudah 17 ekor di pohon yang dijaga. Absalom menebak yang saat ini ada di belasan ekor tersebut, masing-masing jenis kepeng-kepeng dan balarotan.  Tak terasa satu jam lebih kami bercerita. Diujung obrolan, Spedboad  yang membawa kami dari Padaido, sandar di pelabuhan tip-top, kota Biak. Sebelum tim dan saya mengemas barang lalu turun, Absalom menutup cerita dengan mengatakan, sampai saat ini, masyarakat masih tetap semangat menjaga Penyu dan Cenderawasih.

Yorrys Raweyai, pendiri Yayasan Saireri Paradise saat di temui secara terpisah mengaku, sejak 2010, Yayasannya sudah memfasilitasi pembangunan kawasan konservasi dan penangkaran di Kampung Ingrisau dan Sawandui. “Kami sudah  bikin kawasan konservasi di Sawandui dan di Ingrisau. Sawandui untuk konservasi Cenderawasih dan penangkaran Penyu.  Kemudian, di Inggrisau, khusus penangkaran penyu,” kata Yorrys. Di Sawandui, kata dia, pihaknya sudah membangun puluhan  hombest  di hutan untuk menjaga Cenderawasih. Pondok-pondok berbentuk Honai (rumah tradisional) wilayah pengunungan Papua juga di bangun di sepanjang bibir pantai. Ada sekitar 10 Honai.

Yorrys menuturkan, Hombest dan Honai itu selain digunakan oleh warga untuk menjaga Penyu dan Cenderawasih, kedua bangunan ini juga sering digunakan oleh wisatawan manca negara dan asing yang berkunjung ke kampung itu untuk melihat Penyu dan Cenderawasih. Pembayarannya masuk ke kas kelompok Penyu dan Cenderawasih, bentukan Absalom. Dari hasil itu, digunakan untuk membayar gaji kelompok. Bagi dia, kenapa dua tempat itu dipilih untuk penangkaran dan konservasi. Alasan pertama bahwa burung Cenderawasih masih menjadi misteri. Dari berbagai macam literatur yang  di pelajari, tetapi sampai sekarang belum ada penelitian yang menemukan perkembang biakan Cenderawasih

Pernah, pada 1860 disebut Bird of Paradise (burung dari surga). Di tahun itu, kurang lebih sekitar 40-an spesies di Yapen lalu menyebar ke sejumlah wilayah di Papua karena diburu. Alasan kedua, jenis penyu sisik, penyu hijau, penyu belimbing dan penyu abung terancam punah. Khusus jenis penyu belimbing, saat ini jarang ditemukan, sehingga perlu dilestarikan. (YA/AlDP)